Tampilkan postingan dengan label Esai: Pengetahuan dan Pedoman Menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esai: Pengetahuan dan Pedoman Menulis. Tampilkan semua postingan

02 Februari 2014

Menulis Itu Gampang

Oleh: Irwan Abdullah
Irwan Abdullah



PENDAHULUAN.
Sebuah tulisan yang hadir dalam satu jurnal atau buku dan dibaca berbagai kalangan jarang sekali dilihat sebagai suatu hasil dari proses panjang, sejak pemilihan topik, mencari dukungan data, memaksa diri untuk menuliskannya, hingga menjamin suatu tulisan menjadi menarik. Tidak jarang untuk menyelesaikan tulisan itu seseorang harus pergi ke perpustakaan, atau ke suatu lokasi untuk mengumpulkan data, ke suatu instansi, dan bahkan mendiskusikan dengan orang-orang lain. Pendek kata, suatu tulisan selalu melibatkan banyak pikiran, waktu, dan pengorbanan dalam berbagai bentuk. Sebuah tulisan indah dan menarik serta bermutu hampir selalu dihasilkan oleh suatu proses yang membutuhkan komitmen, perjuangan, kesungguhan, dan kesabaran. Ketika ia hadir di tangan pembaca, tulisan itu telah menjadi milik publik yang otoritas penilaian sudah berpindah tempat, kekuatan dan kelemahannya mulai dinilai oleh orang lain yang seterusnya menentukan perjalanan hidup sebuah tulisan itu.
Ketika suatu tulisan terbit dalam berbagai bentuk (jurnal atau bab dalam suatu buku), tulisan itu bisa cepat atau lambat dilupakan, tulisan itu bisa diacu oleh banyak orang, atau ia bisa mempengaruhi lahirnya tulisan-tulisan lain dari orang lain yang membacanya, bahkan dapat mempengaruhi suatu kebijakan. Suatu tulisan dapat saja memprovokasi lahirnya protes kaum muda (seperti tulisan Marxist atau kelompok kiri) atau melahirkan kemarahan ummat (tulisan Salman Rusdhi, Ayat-ayat Setan), dan berbagai kemungkinan lain yang sangat perlu disadari kemungkinan dan potensi yang dimiliki oleh suatu tulisan. Dengan demikian, suatu tulisan dapat dititipi nilai atau kepentingan moral-kultural atau politik-struktural didalamnya, tergantung siapa penulisnya dan terkait dengan situasi kultural dan struktur yang memayungi atau ”menekan” sang penulis. 
Sebuah tulisan yang baik dapat lahir atas sejumlah persyaratan yang kemudian menentukan daya pengaruh dari tulisan itu. Pemilihan isu didalam menulis sangat penting karena tingkat aktualitas/kebaruan dari suatu isu yang dipilih memperlihatkan betapa pentingnya membaca suatu tulisan dan akan memberikan, paling tidak, suatu informasi baru. Kalau pun isu baru tidak ditemukan, masih ada peluang untuk melakukan perumusan ulang terhadap isu lama yang sudah jenuh dibicarakan. Isu terkait ”ulama”, misalnya, telah menjadi isu yang usang dan sudah banyak sekali ditulis, namun suatu formulasi baru yang kreatif dalam melihat ulama dapat menjadi topik yang menarik untuk ditulis kembali. Sebagai contoh, ulama dalam kaitannya dengan media (bagaimana ulama menggunakan teknologi dan media dalam dakwah) atau ulama dalam kaitannya dengan pemilu (bagaimana legitimasi ulama dalam pilihan partai), atau ulama dalam hubungannya dengan bencana (bagaimana ulama memberi peran penting di dalam trauma healing). Tentu saja banyak isu lain yang dapat dikembangkan secara kreatif dan inovatif yang menunjukkan sifat aktual dan kontekstual dari suatu tulisan. 
Menarik tidaknya suatu tulisan juga ditentukan oleh kemampuan bahasa dan gaya penulisan yang memperlihatkan ciri khas dari suatu tulisan. Tulisan yang ditulis oleh seseorang seyogyanya memiliki karakter yang khusus yang membedakan tulisannya dengan tulisan orang lain. Pola dan karakter semacam ini harus dibangun, baik melalui pilihan kata, susunan kalimat, maupun gaya pengungkapan. Selain hubungan antar kalimat menjadi penting dalam suatu tulisan, juga teknik-teknik mengungkapkan sesuatu dengan cara tertentu perlu dipelajari. Daripada menulis ”... perubahan sosial adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari”, lebih menarik mengatakan ”... perubahan sosial adalah suatu yang niscaya...” atau ”... hanya perubahan yang bersifat kekal....” Tentu saja tingkat kelengkapan dari unsur-unsur atau aspek-aspek pembahasan akan sangat menentukan kekuatan dari suatu tulisan, sebagaimana halnya analisis yang tajam yang menyebabkan suatu tulisan enak dibaca dan mencerdaskan.
Makalah ini merupakan panduan teknis selain untuk memberikan pemahaman tentang seluk beluk menulis karya ilmiah, juga memberikan petunjuk praktis untuk meningkatkan skill (keahlian) teknis di dalam menulis karya ilmiah sesuai dengan kaidah-kaidah keilmuan dan standar yang berlaku. Tulisan ini dititik-beratkan pada tiga kompetensi pokok: pemahaman strategi penulisan, keahlian didalam menyusun tulisan, dan kemampuan didalam meningkatkan kualitas atau standar tulisan. Ketiga pokok pembicaraan itu akan diuraikan satu persatu pada bagian berikut ini.

STRATEGI JITU DALAM MENULIS
Pertanyaan yang perlu diajukan dalam proses penulisan adalah: bagaimana suatu tulisan yang berkualitas dapat dihasilkan, apa ukuran pokoknya, dan bagaimana melakukannya secara tekniks. Seringkali kita tahu suatu tulisan berkualitas atau tidak, tetapi untuk mewujudkan tulisan yang berkualitas itu tidak mudah. Menurut hemat saya, tulisan paling tidak memenuhi syarat atau standar yang saya sebut sebagai JITU (Jelas, Intensif, Tepat, dan Unik). Empat hal ini menjadi ukuran penting tentang suatu tulisan yang baik, baik dalam pengertian substansi maupun sistematika berpikir di dalam menulis. Ukuran-ukuran lain tentu saja dapat digunakan, namun keempat hal inilah yang selama ini telah saya gunakan dan ikuti di dalam praktik menulis yang memberikan banyak kemudahan dalam proses kreatif dan apresiasi yang menggembirakan. Setiap penulis sesungguhnya dapat mengembangkan caranya sendiri-sendiri untuk memungkinnya menghasilkan sesuatu secara produktif dan berkualitas. Keempat indikator tersebut membentuk suatu strategi dalam penulisan karya ilmiah yang masing-masing dapat dijelaskan sebagai berikut. 
Jelas.
Suatu tulisan haruslah memiliki fokus yang jelas karena suatu tulisan merupakan respons terhadap suatu isu khusus sehingga arah dari tulisan itu semestinya cukup jelas bagi si pembaca. Pada saat seseorang menulis perubahan sosial, misalnya, maka suatu tulisan tentang perubahan sosial haruslah menegaskan fokus yang akan ditulis: apakah menyangkut perubahan dalam hubungan sosial, atau pengelompokan sosial, atau struktur sosial. Istilah perubahan sosial sama sekali tidak jelas menegaskan apa yang sesungguhnya yang mau dibahas dalam suatu tulisan. Perubahan sosial dapat justru dibicarakan dalam judul ”perubahan solidaritas antar orang atau kelompok”. Ketidak-jelasan itu bermula dari judul, rumusan masalah, hingga uraian unsur-unsur yang dipilih dalam suatu tulisan. Kejelasan suatu tulisan dapat pula dilihat pada sistematika tulisan yang urut yang menunjukkan kejelasan arah. Hal ini terefleksi pada rumusan masalah atau isu yang dibicarakan dalam suatu tulisan. Pada saat kita berbicara tentang konflik, tentulah topik itu sangat luas karena tidak jelas arahnya. Namun demikian, kalau konflik itu dilihat dari ”faktor pendorong/penyebab konflik” atau ”dampak dari adanya konflik”, tentu akan menjadi jauh lebih jelas apa yang akan ditulis dalam suatu tulisan. Urutan logika yang jelas dalan suatu tulisan tehtu saja perlu dilengkapi dengan atau tampak dari kalimat-kalimat yang digunakan yang mudah dipahami.

Intensif.
Pada saat suatu tulisan dibaca tidak jarang muncul kesan bahwa tulisan itu ditulis dalam satu malam karena alur berpikir yang sangat runtut dan tidak terputus hubungan antara gagasan satu dengan gagasan lain. Dari halaman pertama hingga terakhir tulisan tersebut tidak menimbulkan kebosanan atau kesulitan untuk dibaca karena ditulis secara intensif. Tingkat intensitas dari suatu tulisan memang ditentukan oleh kemampuan konsentrasi sang penulis yang mampu membangun tulisan secara utuh dari depan hingga belakang secara utuh. Keterpaduan menjadi syarat bagi menariknya suatu tulisan, dalam pengertian bahwa hubungan setiap unsur harus dipelihara dan ditegaskan dalam berbagai kesempatan dan media. Kualitas semacam ini juga dapat dicapai dengan menjamin suatu konsistensi dalam gaya bahasa yang sangat menentukan kelayakan suatu tulisan untuk dikutip sang pembaca. Kekuatan suatu tulisan memang terletak pada tingkat keutuhan dari bagian pendahuluan, seting, bagian-bagian isi atau analisis, hingga penutup atau kesimpulan. Konsentrasi sang penulis selain tampak dari ketepatan komposisi dan hubungan satu bagian dengan yang lain, juga tampak dari tingkat kedisiplinan menjaga hubungan-hubungan antar-bagian dan antar-alinea dalam suatu tulisan. Satu tulisan memberi kesan utuh dan jalin menjalin antara satu aspek pembicaraan dengan aspek pembicaraan yang lain atau satu unsur dengan unsur lain dalam suatu bahasan. 

Tepat.
Ketepatan dalam suatu tulisan terkait dengan bagaimana suatu tulisan disusun atas dasar bahan yang tepat, baik menyangkut referensi yang digunakan dalam menentukan lahirnya suatu tulisan, maupun dalam pengertian kelompok bahasan dan tempat yang dijadikan landasan suatu tulisan. Bahan pustaka yang diterbitkan pada tahun 1980-an tentu menjadi tidak tepat jika sudah ada bahan pustaka yang terbit tahun 2000-an. Bahan-bahan yang sudah out of date itu tentu saja dapat digunakan jika sifatnya yang tua tersebut sebagai objek dari penjelasan. Misalnya, suatu tulisan memang bertujuan untuk menganalisis konstruksi pemikiran tentang agama dan konflik sejak tahun 1950-an. Suatu pustaka juga membawa implikasi aliran yang perlu diperhatikan dalam mengutip dan menggunakannya sebagai rujukan, apakah pustaka tersebut betul-betul relevan. Demikian halnya dengan tempat, ketepatan dalam memilih tempat yang menjadi acuan tulisan sangat dibutuhkan. Apakah studi agama tepat kita bicarakan di Bali atau di Sumatera Barat; untuk studi konflik agama dibicarakan tentang Poso atau Aceh; untuk studi migrasi internasional Pontianak atau Banjarmasin yang dijadikan kasus; demikian pula pada tingkat kabupaten, kecamatan, atau desa dan dusun. Pertanyaan yang lebih rinci adalah: jika membahas masalah relijiusitas, apa tepat suatu perumahan dijadikan kasus acuan atau di suatu perkampungan orang Arab? Banyak pertimbangan dan alasan yang perlu dikomunikasikan untuk menjamin bahwa suatu tulisan memang didasarkan pada pilihan-pilihan yang tepat. Meneliti kemiskinan tentu harus di tempat di mana kemiskinan itu betul-betul terjadi dan pada kelompok yang memang mengalami kemiskinan tersebut. Ketepatan juga perlu dibangun pada setiap pilihan kata dan kalimat yang digunakan karena pengertian yang ingin dibangun melalui suatu tulisan harus dikendalikan sedemikian rumah. Apakah, misalnya, perlu menulis ”banyak anggota masyarakat setempat menghadiri acara pengajian” atau ”kaum perempuan setempat menghadiri acara pengajian”. Anggota masyarakat yang dimaksud ternyata kaum perempuan karena itu memang pengajian untuk kaum perempuan. Analisis dalam suatu tulisan juga harus dilakukan dengan tepat, yakni harus didasarkan pada data yang dikumpulkan dengan metode yang tepat dan analisis dapat dilakukan dalam batas-batas yang dimungkinkan oleh data. 

Unik.
Suatu tulisan sesungguhnya memperlihatkan kepribadian dari sang penulisnya karena suatu tulisan memang disusun untuk memperlihatkan suatu kecerdasan dalam mengkaji dan mengkomunikasikan sesuatu pada pembaca. Untuk mencapai karakter semacam ini, suatu tulisan harus memperlihatkan suatu keunikan karena itu pula menyebabkan suatu tulisan menjadi perlu dibaca. Harus terpikir dalam benak bahwa isu atau topik yang dipilih belum banyak diperhatikan orang lain atau, paling tidak, berbeda dalam hal fokus dan analisis. Sebaliknya, pastikan bahwa kita tidak sedang menulis suatu isu atau masalah yang telah atau sedang ditulis oleh puluhan orang lain. Menulis tentang peranan ulama pastilah bukan pilihan yang tepat dalam arti keunikan ini, tetapi bagaimana kiprah ulama dalam dunia pengobatan dapat menjadi topik penting. Seringkali dibutuhkan kreativitas didalam memilih isu atau topik untuk dibahas, yakni dengan membahas topik yang sama dengan perspektif yang berbeda, pada kelompok yang berbeda, atau pada masa yang berbeda (kontekstual). Keunikan suatu tulisan memang dapat dibangun dengan sadar dalam berbagai bentuk, seperti menggunakan pilihan kata yang sangat berbeda dengan penulis lain. Kata-kata ”niscaya”, ”piawai”, ”dahsyat”, ”pertikaian”, ”murka”, dll, dapat menjadi karakter dari suatu tulisan. Keunikan suatu tulisan juga menjadi kunci dalam keterlibatan seseorang dalam berbagai dunia akademik dan publikasi. 
Strategi JITU tersebut merupakan panduan untuk menjamin bahwa sang penulis paling tidak telah memperhatikan beberapa indikator untuk melahirkan sebuah karya ilmiah. Tanpa panduan semacam itu seringkali membuat kita menulis secara meraba-raba tanpa mengetahui apa saja yang penting diperhatikan dan bahkan dihindari dalam menulis. Seorang penulis umumnya mempelajari bagaimana menulis dari tulisan orang lain yang dengan cara itu juga tidak diketahui secara persis kiat tulisan itu dihasilkan. Untuk menerapkan strategi JITU tersebut, perlu dimulai dengan kemampuan mendefinisikan struktur tulisan secara sistematis. Struktur tulisan yang terumuskan dengan baik akan memperlihatkan alur berpikir yang sistematis dan mudah dibaca serta dipahami.

STRUKTUR TULISAN ILMIAH 
Sebuah tulisan selalu terdiri dari empat bagian yang saling kait: Pendahuluan, Seting/Gambaran Umum, Analisis, dan Kesimpulan. Pada bagian pendahuluan dibicarakan alasan-alasan mengapa suatu isu atau topik menarik untuk ditulis, rumusan masalah atau fokus tulisan, dan bagaimana isu tersebut akan dikaji serta sistematika penulisan. Bagian Pendahuluan ini harus disusun secara menarik karena ia merupakan kunci dari arah suatu tulisan yang dapat menentukan pembaca akan meneruskan membaca tulisan itu atau tidak. Walaupun demikian, bagian Pendahuluan ini tidak boleh ditulis panjang lebar sebaliknya dipaparkan secara padat dan membantu pembaca memposisikan diri di mana. Bagian seting atau gambaran umum seringkali terdiri lebih dari satu bab sehingga bab tulisan menjadi lebih banyak. Seting yang pertama adalah lokasi dan yang kedua adalah institusi yang dikaji atau bahkan kelompok yang dibahas atau suatu program yang perlu dipaparkan. Dalam penelitian tentang Implementasi Program Pengentasan Kemiskinan di Kabupaten Kubu Raya, misalnya, seting yang harus dibicarakan menyangkut: (1) Kubu Raya sebagai tempat; dan (2) Program Pengentasan Kemiskinan. Kedua bagian tersebut merupakan latar belakang untuk membahas isi pokok yang menyangkut isu implementasi program. Namun demikian, suatu tulisan dapat saja hanya terdiri dari satu seting, entah itu hanya Seting Wilayah atau hanya Seting Isu/Persoalan. Studi tentang teks atau kitab tentu saja tidak membutuhkan uraian tentang wilayah. Bagian seting kemudian hanya terdiri dari satu bab yang mendeskripsikan teks tersebut secara umum untuk memberikan dasar bagi isi dan analisis.

Tabel 1: Sistematika Menurut Urutan Bagian Tulisan
NO.
BAGIAN
SISTEMATIKA TULISAN
I
PENDAHULUAN
1. Pendahuluan
II
SETING/GAMBARAN UMUM
2. Seting Daerah/Wilayah 3.Seting Isu/Persoalan/Program
III
ISI/ANALISIS
4. Analisis 1: Faktor Sosial     5. Analisis 2: Faktor Ekonomi  6. Analisis 3: Faktor Budaya
IV
KESIMPULAN
7. Kesimpulan

Bagian isi atau analisis suatu tulisan secara ideal dibagi kedalam tiga bagian sesuai dengan rumusan masalah dan pertanyaan-pertanyaan yang telah dibicarakan pada bagian pendahuluan. Karena bagian tiga merupakan bagian analisis maka pada bagian ini dijawab pertanyaan secara seksama. Jika pertanyaan tersebut menyangkut faktor maka bagian pertama dalam isi pokok tulisan ini dapat berupa Analisis Faktor Sosial, bagian kedua Analisis Faktor Ekonomi, dan bagian ketiga Analisis Faktor Budaya (lihat Tabel 1). Analisis faktor ini juga dapat berupa faktor agama atau budaya, tergantung pada relevansinya atas kajian yang sedang dilakukan.
Bagian Analisis dapat juga berupa analisis proses atau analisis dampak. Jika analisis proses yang ingin digunakan dalam suatu tulisan maka penjabaran bab atau bagian tulisan menjadi tahapan-tahapan dari proses tersebut, yakni berupa tahapan 1, tahapan 2, dan tahapan 3 atau dalam studi kebijakan akan berarti: tahap formulasi, tahap implementasi, dan tahap evaluasi (tabel 2). Demikian pula halnya dengan analisis dampak yang dapat disusun kemudian menjadi dampak individu, dampak keluarga, dan dampak pada komunitas. Analisis tentu saja dapat dibagi secara sistematis dengan berbagai cara, apakah itu pembagian tegas, tataran/tingkatan dari yang terbatas ke luas atau yang rendah ke tinggi, dan dapat pula berbagai kategori yang lain yang dianggap logis dan relevan. Berikut ini contoh tiga model analisis yang menentukan isi dari suatu tulisan yang masing-masing digunakan untuk tujuan yang berbeda sesuai dengan arah penelitian dan kebutuhan pemecahan masalah.

Tabel 2. Pilihan Pola Analisis dalam Isi Tulisan
ANALISIS FAKTOR
ANALISIS PROSES
ANALISIS DAMPAK
1. Pendahuluan
1. Pendahuluan
1. Pendahuluan
2. Seting Daerah/ Wilayah
3. Seting Persoalan/ Program
2. Seting Daerah/ Wilayah
 3. Seting Persoalan/ Program
2. Seting Daerah/ Wilayah 
3. Seting Persoalan/ Program
4. Analisis 1: Faktor Sosial                 
5. Analisis 2: Faktor Ekonomi               
6. Analisis 3: Faktor Budaya
4. Analisis 1: Formulasi 
5. Analisis 2: Implementasi         
6. Analisis 3: Evaluasi
4. Analisis 1: Individu
5. Analisis 2: Keluarga
6. Analisis 3: Komunitas
7. Kesimpulan
7. Kesimpulan
7. Kesimpulan

Bagian terakhir dari suatu tulisan tentu saja bagian kesimpulan yang seringkali disebut sebagai penutup. Bagian ini berisi pernyataan tentang hal-hal yang paling penting yang dapat dikomunikasikan terkait dengan pembahasan yang dilakukan. Suatu kesimpulan harus berupa suatu kecerdasan yang hanya dapat diperoleh ketika sesuatu itu dikaji atau ditulis melalui suatu perenungan. Dengan kata lain, suatu kesimpulan tidak dapat ditulis jika kajian atau evaluasi atau diskusi tentang isu tertentu tidak dilakukan. Untuk sampai ke arah itu, permasalahan atau pertanyaan yang diajukan pada bagian awal tulisan diharapkan dapat dijawab pada bagian kesimpulan. Seringkali bagian kesimpulan ini digunakan sebagai kesempatan untuk memposisikan tulisan atau kajian dalam hubungannya dengan kajian-kajian yang ada dalam bidang yang sama.
Untuk menulis suatu artikel dari bagian pendahuluan hingga bagian kesimpulan/penutup tersebut dibutuhkan kemampuan teknis dan strategi yang tepat. Pertama, perlu diputuskan berapa halaman tulisan perlu ditulis. Untuk kepentingan artikel ilmiah kita bisa mulai dengan menulis 10-12 halaman 1 spasi. Untuk itu kita dapat membagi masing-masing bagian sebagaimana tampak pada tabel 3 berikut. Untuk memulai menulis, perlu disadari bahwa setiap halaman 1 spasi berisi 3 alinea dengan asumsi per alinea terdiri dari 12-15 baris. Tabel 3 menjelaskan pilihan komposisi halaman dalam setiap bagian tulisan sebagai acuan untuk menghasilkan karya ilmiah yang memenuhi standar.

Tabel 3: Jumlah Halaman Perbagian Tulisan
No.
BAGIAN
SISTEMATIKA PENULISAN
HAL
I
PENDAHULUAN
1. Pendahuluan
1-1,5
II
GAMBARAN UMUM
2. Seting Daerah/Wilayah
3. Seting Isu/Persoalan/Program
1,5
1,5
III
ISI / ANALISIS
4. Analisis 1: Faktor Sosial
5. Analisis 2: Faktor Ekonomi
6. Analisis 3: Faktor Budaya
2-3
2-3
2-3
IV
KESIMPULAN
7. Kesimpulan


Untuk menulis bagian 4 dari tabel 3, yang mengakut Faktor Sosial, selanjutnya dapat dijabarkan secara umum kedalam tiga aspek: Hubungan Sosial, Pengelompokkan Sosial, dan Struktur Sosial. Ketiga aspek itu yang masing-masing ditulis sebanyak satu halaman kemudian dibagi kedalam unsur-unsur yang masing-masing unsur dapat ditulis satu alinea (dengan asumsi satu halaman berisi tiga alinea). Penjabarannya sebagai berikut.
Hubungan sosial (ditulis 1 halaman)
– Pola hubungan sosial (1 alenia)
– Faktor pembentukan (1 alenia)
– Fungsi dan dampak hubungan sosial (1 alenia)

Pengelompokan sosial (ditulis 1 halaman)
– Pola pengelompokkan (1 alenia)
– Faktor pengelompokkan (1 alenia)
– Fungsi dan dampak pengelompokkan (1 alenia)
 
Struktur sosial (ditulis 1 halaman)
– Pola stratifikasi/struktur (1 alenia)
– Faktor pmbentukan struktur (1 alenia)
– Fungsi struktur dalam komunitas (1 alenia) 

Ketiga aspek tersebut akan mengisi satu bagian (Hubungan Sosial) dari tujuh bagian tulisan dengan total tiga halaman. Jika bagian-bagian yang ditulis dengan cara yang sama maka dengan sendirinya tulisan akan terdiri dari kurang lebih 12 halaman satu spasi yang sudah memenuhi standar untuk sebuah artikel jurnal. Tentu saja alinea-alinea yang ditulis dapat mengikuti tiga tipe alinea, yakni alinea deskriptif, alinea deduktif, dan alinea induktif sesuai dengan kebutuhan dan karakter dari sang penulis.

PENTINGNYA ANALISIS DAN KETAJAMAN
Ketika secara teknis suatu tulisan sudah memenuhi syarat, maka kualitas substansi dari suatu tulisan akan dipertanyakan. Kualitas suatu tulisan sangat ditentukan oleh kemampuan memindahkan kumpulan data atau informasi yang bersifat deskriptif menjadi suatu pembahasan analitis yang mengandung penjelasan dan pemahaman yang komprehensif, kontekstual, dan mendalam. Peralihan tulisan dari deskriptif menjadi analitis membutuhkan serangkaian tahapan. Paling tidak lima tahap dapat membantu memberi jalan untuk mencapai suatu tingkat analitis yang lebih baik dari suatu tulisan. Pertama, deskriptif, yang tampak dari ciri tulisan terdiri dari paparan sifat-sifat atau unsur dari suatu gejala yang sedang dibicarakan. Kecenderungan ini dalam tulisan tampak dari adanya tabel atau data statistik atau kutipan hasil wawancara yang dihadirkan dengan berbagai cara dalam suatu tulisan. Teknik deskripsi ini dibutuhkan untuk hal-hal yang bersifat informatif agar si pembaca dapat mengetahui wujud dari sesuatu yang sedang dibicarakan. Kedua, eksplanatif yang berisi penjelasan atas data atau suatu deskripsi. Suatu tulisan akan lebih berkualitas jika tidak hanya memaparkan, tetapi juga mampu menjelaskan ”mengapa” sesuatu itu terjadi atau berlangsung seperti yang dipaparkan. Deskripsi tentang prosentase pemilih Partai Demokrat dalam Pemilu 2009 yang berisi angka-angka berbagai kategori harus segera diikuti oleh suatu penjelasan atas pertanyaan ”mengapa” Partai Demokrat berhasil memenangkan Pemilu? Ketiga, diskursif yang merupakan tataran yang lebih tinggi yang tampak dari kecenderungan tulisan memasukkan berbagai data lain dari berbagai sumber sebagai perbandingan dalam memahami apa yang sedang dibicarakan. Diskursif ini tampak dari kutipan teori atau literatur lain yang dihubungankan dengan tulisan kita agar memperlihatkan usaha kontekstualisasi tulisan kedalam suatu perdebatan yang sedang terjadi. Jika kita berbicara tentang hubungan agama dengan perubahan sosial ekonomi, maka tulisan tidak bisa menghindarkan dirinya untuk tidak mengutip Max Weber. Pada saat kita menulis perlu mengambil sikap bahwa tulisan kita sesungguhnya merupakan bagian dari satu debat yang sedang terjadi diberbagai tempat oleh berbagai orang. Keempat, interpretif yang memperlihatkan bahwa suatu tulisan sudah mampu membangun pemahaman atas sesuatu melalui pengertian dan makna suatu gejala yang dibicarakan. Interpretasi ini dapat dilakukan melalui kontekstualisasi ruang dan waktu yang memperlihatkan relevansi atas apa yang sedang ditulis. Kelima, implikatif yang berisi analisis akibat dari adanya sesuatu yang sedang ditulis, baik itu bersifat teoretis-konseptual maupun praktis-teknis yang kemudian melahirkan pemahaman dan kebijakan baru terkait dengan isu yang sedang ditulis. 
Ketika kelima tataran analisis ini dapat dipraktikkan dalam menulis, maka ketajaman sebuah tulisan akan muncul. Sebuah tulisan akan memberikan dampak yang lebih besar karena disatu sisi tulisan memberikan keluasan wawasan dengan kemampuan penulis memasukkan berbagai unsur yang kompleks dalam setiap narasi, dilain sisi tulisan memiliki ketajaman didalam analisis dengan kemampuannya membahas suatu isu dengan menggunakan berbagai perspektif. Suatu isu paling tidak dapat dilihat pada lima dimensi yang berbeda yang akan memberikan kekuatan suatu tulisan. Pertama, setiap isu atau pokok bahasan dapat dibahas melalui definisi atau pengertian yang terkandung didalamnya. Definisi atau pengertian tidak selalu berarti definisi formal suatu konsep, tetapi dapat juga berupa definisi operasional atau pemahaman secara umum tentang sesuatu yang sedang dibicarakan. Pada saat kita membicarakan relijiusitas, tentu saja selain definisi formal tekstual dapat pula dikemukakan pemahaman umum tentang relijiusitas yang menunjuk pada komitmen ibadah seseorang atau sekelompok orang. Kedua, suatu pembicaraan dalam suatu tulisan perlu memaparkan bentuk atau format atau aspek-aspek dari apa yang kita sebut sebagai, misalnya, relijiusitas tersebut: apakah yang dimaksudkan dengan relijiusitas itu menyangkut dimensi/bentuk ideal/gagasan seperti tingkat penguasaan atau pemahaman agama, aspek/dimensi nilai atau sikap yang memperlihatkan tingkat relijiusitas seseorang, atau aspek prilaku/tindakan yang menunjukkan komitmen waktu dan fisik dalam melakukan ritual. Format atau bentuk serta dimensi/aspek dari suatu yang dibicarakan dalam tulisan akan secara langsung memperlihatkan seberapa luas kemampuan seseorang dalam memahami suatu pokok bahasan. Aspek atau dimensi ini dapat diperluas sesuai dengan topik atau isu yang dibicarakan. Ketiga, relijiusitas, seperti juga fenomena yang lain, dapat dibahas dari sudut proses atau mekanisme operasionalnya yang menyangkut bagaimana relijiusitas itu berlangsung. Apakah itu melibatkan institusi agama, peraturan, atau tekanan-tekanan dalam masyarakat. Relijiusitas dapat juga terjadi akibat kontrol sosial dengan karakter yang berbeda pada seting sosial keagamaan dan politik yang berbeda. Pembicaraan tentang proses dapat juga berarti pemaparan berdasarkan tahapan-tahapan yang relevan. Proses atau mekanisme ini membentuk suatu perspektif dalam melihat suatu pokok bahasan sehingga akan menyumbangkan pada ketajaman sebuah tulisan. Bahasan tentang proses merupakan suatu pernyataan tentang bagaimana suatu gejala ditempatkan dalam konteks yang lebih dinamis yang memungkinkan pemahaman secara lebih komprehensif. Keempat, suatu pokok bahasan dapat dilihat atau dibicarakan dari faktor atau prakondisi kehadirannya atau keberadaannya. Faktor dapat menjadi dasar suatu pemahaman yang juga menyangkut sejarah lahirnya atau keberadaan sesuatu yang sedang dibicarakan dalam tulisan. Realitas sosial dapat diasumsikan sebagai suatu bentukan atas kekuatan-kekuatan yang berlaku yang perlu dibahas secara seksama dalam suatu tulisan. Pemahaman tentang faktor akan memungkinkan melihat suatu pokok pembicaraan dari perspektif yang berbeda yang memungkinkan munculnya pilihan-pilihan dalam analisis atau pemahaman suatu pokok bahasan. Kualitas tulisan akan tampak pada saat analisis faktor memberikan wawasan baru dibalik suatu deskripsi yang telah diberikan tentang suatu isu atau pokok bahasan. Kelima, suatu pokok isu dapat dibahas dari dampak atau implikasi keberadaan sesuatu yang menyangkut hasil dari adanya suatu gejala atau proses. Relijiusitas dapat dibicarakan dari dampaknya bagi tingkah laku individu atau bagi penataan sosial secara kolektif. Relijiusitas sebagai suatu praktik kolektif dapat bermakna atau berfungsi harmoni bagi kehidupan bermasyarakat yang dapat menjadi pokok bahasan yang menarik. Implikasi sesuatu juga dapat berarti implikasi teoretis atau konseptual yang muncul atas suatu gejala atau proses atau pokok bahasan dalam suatu konteks kajian. Pembicaraan tentang dampak akan memberikan kekuatan bagi tulisan karena memberikan dimensi yang lebih kompleks dan memperlihatkan ketajaman di dalam suatu analisis. Kelima pokok pikiran di atas merupakan kemungkinan yang terbuka untuk dimanfaatkan dalam proses menulis yang sangat menentukan kekuatan suatu tulisan. Menulis dengan sistematis dan dengan penjabaran logis berdasarkan kelima pokok pikiran tersebut akan memungkinkan suatu tulisan bergeser dari tulisan deskriptif menjadi suatu tulisan analitis yang secara akademik memiliki mutu yang jauh lebih tinggi.

PENUTUP
Menulis itu gampang jika secara teknis kita menguasai caranya, yakni dengan memiliki keahlian dalam menjalankan tahap demi tahap penulisan. Menemukan ide untuk menulis, memformulasikan suatu isu yang akan dijadikan fokus, pembuatan outline tulisan, mencari dukungan data atas isu yang akan ditulis, memilih gaya penulisan, hingga teknik menulis dan menghasilkan sebuah karya. Paling tidak, tiga hal pokok dapat disimpulkan dalam keseluruhan proses tersebut. Pertama, untuk menulis perlu terlebih dahulu dipahami dengan baik sasaran yang ingin dituju dan diacu dalam suatu tulisan. Apakah kita hendak berkomunikasi dengan pembaca kalangan berpendidikan yang cerdas dan kritis, atau kelompok masyarakat umum yang awam dalam bidang tertentu dan tulisan yang dihasilkan merupakan mandat untuk menjalankan misi mencerdaskan bangsa. Tulisan yang ditujukan untuk kalangan akademisi tentu saja berisi analisis tajam tentang isu tertentu yang kemudian melahirkan debat konseptual dan bahkan melahirkan teori baru dalam memahami suatu gejala. Ketika suatu tulisan ditujukan kepada pembuat kebijakan dan pengambil keputusan, maka suatu tulisan diharapkan berorientasi pada pemecahan masalah. Hasil dari analisis dalam tulisan tersebut berupa wisdom (pandangan bijak) yang dapat diacu dalam pemecahan masalah secara praktis dan teknis. Suatu tulisan yang ditujukan kepada publik yang lebih luas tentu saja harus memiliki bobot informatif yang lebih dominan dalam rangka perluasan wawasan untuk mendorong lahirnya kesadaran baru tentang sesuatu yang ingin dikomunikasikan. Kedua, suatu tulisan sangat tergantung pada kekuatan gagasan yang dipilih dan dibangun. Apakah suatu tulisan didasarkan pada suatu kejadian, peristiwa atau fenomena yang sedang terjadi di dalam masyarakat yang kemudian ditulis untuk memberi jawaban atas pertanyaan tertentu. Suatu ide dapat juga muncul akibat suatu keprihatinan individual atau kolektif atas ancaman-ancaman moral atau agama yang sangat perlu pemecahan masalah demi suatu kepentingan yang lebih besar. Tidak jarang ide menulis datang dari pihak lain atau pesanan untuk tujuan-tujuan tertentu. Dalam upaya memenangkan suatu partai dapat saja seseorang diminta menulis isu tententu yang menyebabkan tulisan tersebut mengandung bias yang merugikan. Pemilihan tema/topik/isu menulis memang bisa datang dari diri sendiri akibat perenungan atau suatu pengamatan, namun dapat juga datang dari orang lain yang memberikan ide atau bahkan memberikan uang untuk suatu kajian dan tulisan tertentu. Tentu saja integritas sang penulis dipertanyakan dalam hubungannya dengan kemandirian seorang penulis dalam menghasilkan suatu karya ilmiah. Paling tidak, kualitas suatu tulisan sangat ditentukan oleh gagasan atau isu yang dijadikan acuan dalam menulis sebuah karya. Ketiga, menarik tidaknya suatu tulisan tidak dapat dipisahkan dari cara atau gaya pengungkapan tulisan itu sendiri. Yang membedakan satu penulis dengan penulis lain adalah gaya didalam menulis, baik itu dalam pengertian kemampuan menggunakan bahasa secara efektif maupun dalam cara membangun argumen atau logika berpikir yang berbeda dengan kebiasaan umum. Pada saat satu tulisan mengatakan bahwa ”konflik merupakan suatu yang niscaya, yang kehadirannya dibutuhkan untuk penataan sosial yang lebih baik...,” maka tulisan itu sudah mengundang pertanyaan dan keinginan-tahu pembaca. Gaya penulisan semacam ini akan menjadikan tulisan menarik dan khas. Banyak penulis yang memilik cara sendiri-sendiri dalam menggunakan berbagai teknik langsung atau idiom dalam mengungkapkan sesuatu dalam karyanya.
Dibalik semua itu, menulis sesungguhnya membutuhkan komitmen untuk duduk dan menulis. Tidak banyak orang memiliki waktu atau mampu menggunakan waktunya untuk betul-betul duduk dan menulis. Memilih waktu duduk dan menulis adalah satu cara untuk bisa melahirkan suatu tulisan. Penulis yang berhasil, sebagian besar, adalah orang yang mampu memaksa dirinya untuk duduk dipagi buta dan menulis satu-dua halaman setiap hari. Dan satu-dua halaman itulah yang menjadikannya seratus halaman dalam tiga bulan. 

Selamat mencoba . . . . !

Baca selengkapnya . . .

21 Maret 2009

Esai: Pengetahuan dan Pedoman Menulis

Apakah esai itu ?

     Menurut Lucile Vaughan Payne dalam bukunya “ The Lively Art of Writing “, esai bukanlah sekedar rekaman fakta-fakta atau hasil imajinasi murni, seberapapun lengkap dan cermatnya penulis menulis ulang semua fakta tersebut sekalipun dengan bahasanya sendiri. Esai bukan juga semata kejadian atau pengalaman yang dituliskan, tak peduli betapa nyata, cerdas, menyentuh, berurutan, jelas, rinci dan lengkapnya tulisan itu. Esai sebenarnya adalah ekspresi tertulis dari opini penulisnya ( opini/pandangan penulis yang diekspresikan melalui tulisan ). Payne juga mengatakan bahwa sebuah esai akan lebih baik apabila penulisnya dapat menggabungkan fakta dengan imajinasi, pengetahuan dengan perasaan tanpa mengedepankan salah satunya. Tujuannya selalu sama, yaitu mengekspresikan opini / pandangan. Esai bisa berbentuk sederhana sampai yang sangat kompleks, namun esai tetap akan menunjukkan sebuah opini pribadi sebagai analisa akhir. Inilah perbedaan mendasar antara esai dengan tulisan ekspositoris atau sebuah laporan. Sebuah esai tidak hanya sekedar menunjukkan fakta atau menceritakan sebuah pengalaman; esai menyelipkan opini/pandangan penulis diantara fakta-fakta dan pengalaman tsb.

     Pengertian esai lainnya disampaikan oleh Samuel Johnson (2007) dalam “ Writing Essays “. Johnson mendefinisikan, esai adalah suatu bentuk tulisan yang memiliki struktur/susunan dan aturan penulisan tertentu. Johnson juga mengatakan bahwa esai yang baik membawa pembaca kepada sesuatu yang berguna atau penting melalui penyampaian secara jelas dengan cara yang logis, saling berhubungan satu dengan yang lainnya ( coherent ) serta alur tulisannya mudah diikuti ( easy to follow ). Ada juga pengertian yang mengatakan sebuah esai adalah komposisi prosa singkat yang mengekspresikan opini penulisnya tentang subyek tertentu. Adapun pengertian esai yang diajarkan kepada Pasis Seskoad, esai adalah bentuk tulisan bebas digunakan untuk menyampaikan pendapat dengan tujuan dan kegunaan tertentu seperti untuk surat kabar, majalah, sinopsis, timbangan buku atau keparluan laporan. Sementara pengertian esai yang diajarkan kepada siswa KSPS, esai adalah salah satu bentuk tulisan atau model penulisan yang bersifat bebas, artinya tidak ada aturan baku yang mengikat, sehingga penulisan esai sangat bervariasi tergantung karakter dan keinginan penulisnya.

     Terjadinya beragam pengertian tersebut sangat memungkinkan mengingat belum adanya definisi baku/pasti tentang apa itu esai. Kita juga akan mengalami kesulitan untuk membedakan antara esai dan bukan esai, mengingat pendapat-pendapat atau rumusan-rumusan yang telah ada sering tidak lengkap dan terkadang bertolak belakang. Misalnya mengenai ukuran esai, ada yang menyatakan bebas, sedang dan singkat; mengenai isi esai, ada yang menyatakan berupa analisis, penafsiran dan uraian; dan demikian juga mengenai gaya dan metode esai ada yang menyatakan bebas dan ada yang menyatakan teratur; daftar pustaka ada yang menyatakan tidak perlu dicantumkan diakhir tulisan karena sudah dimuat didalam tulisan berupa catatan perut, ada juga yang menyatakan perlu dicantumkan sekalipun sudah dimuat sebagai catatan perut.

Sejarah Esai.

     Esai mulai dikenal pada tahun 1500-an dimana seorang filsuf Perancis, Montaigne, menulis sebuah buku yang mencantumkan beberapa anekdot dan observasinya. Buku pertamanya ini diterbitkan pada tahun 1580 yang berjudul Essais yang berarti attempts atau usaha. Montaigne menulis beberapa cerita dalam buku ini dan menyatakan bahwa bukunya diterbitkan berdasarkan pendapat pribadinya. Esai ini, berdasarkan pengakuan Montaigne, bertujuan mengekspresikan pandangannya tentang kehidupan.

     Lalu bagaimana pengertian esai menurut Montaigne? Montaigne menuliskan sikap dan pandangannya mengenai esai melalui deskripsi-deskripsinya yang tersirat, sahaja, rendah hati tetapi jernih dalam sebuah kata pengantar bukunya: "Pembaca, ini sebuah buku yang jujur. Anda diperingatkan semenjak awal bahwa dalam buku ini telah saya tetapkan suatu tujuan yang bersifat kekeluargaan dan pribadi. Tidak terpikir oleh saya bahwa buku ini harus bermanfaat untuk anda atau harus memuliakan diri saya. Maksud itu berada di luar kemampuan saya. Buku ini saya persembahkan kepada para kerabat dan handai taulan agar dapat mereka manfaatkan secara pribadi sehingga ketika saya tidak lagi berada di tengah-tengah mereka (suatu hal yang pasti segera mereka alami), dapatlah mereka temukan di dalamnya beberapa sifat dari kebiasaan dan rasa humor saya, dan mudah-mudahan, dengan cara itu, pengetahuan yang telah mereka peroleh tentang diri saya tetap awet dan selalu hidup" (dari "To The Reader").

     Kemudian, pada tahun 1600-an, Sir Francis Bacon menjadi Esais Inggris pertama. Bukunya berjudul Essay. Bentuk, panjang, kejelasan, dan ritme kalimat dari esai ini menjadi standar bagi esais-esais sesudahnya. Ada beberapa esai yang formal, dan ada beberapa esai lain yang bersifat informal. Bentuk esai informal lebih mudah ditulis karena lebih bersifat personal, jenaka, dengan bentuk yang bergaya, struktur yang tidak terlalu formal, dan bertutur. Bentuk esai formal lebih sering dipergunakan oleh para pelajar, mahasiswa dan peneliti untuk mengerjakan tugas-tugasnya. Formal esai dibedakan dari tujuannya yang lebih serius, berbobot, logis dan lebih panjang.

     Di Indonesia bentuk esai dipopulerkan oleh HB Jassin melalui tinjauan-tinjauannya mengenai karya-karya sastra Indonesia yang kemudian dibukukan (sebanyak empat jilid) dengan judul Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei (1985), tapi Jassin tidak bisa menerang-jelaskan rumusan esai.

Tipe Esai.

Esai Deskriptif: esai deskriptif biasanya bertujuan menciptakan kesan tentang seseorang, tempat, atau benda. Bentuk esai ini mencakup rincian nyata untuk membawa pembaca pada visualisasi dari sebuah subyek. Rincian pendukung disajikan dalam urutan tertentu (kiri ke kanan, atas ke bawah, dekat ke jauh, arah jarum jam, dll). Pola pergerakan ini mencerminkan urutan rincian yang dirasakan melalui penginderaan.

Esai ekspositori: esai ini menjelaskan subyek ke pembaca. Biasanya dilengkapi dengan penjelasan tentang proses, membandingkan dua hal, identifikasi hubungan sebab-akibat, menjelaskan dengan contoh, membagi dan mengklasifikasikan, atau mendefinisikan. Urutan penjelasannya sangat bervariasi, tergantung dari tipe esai ekspositori yang dibuat. Esai proses akan menyajikan urutan yang bersifat kronologis (berdasarkan waktu); esai yang membandingkan akan menjelaskan dengan contoh-contoh; esai perbandingan atau klasifikasi akan menggunakan urutan kepentingan (terpenting sampai yang tak penting, atau sebaliknya); esai sebab-akibat mungkin mengidentifikasi suatu sebab dan meramalkan akibat, atau sebaliknya, mulai dengan akibat dan mencari sebabnya.

Esai naratif: esai ini menggambarkan suatu ide dengan cara bertutur. Kejadian yang diceritakan biasanya disajikan sesuai urutan waktu.

Esai persuasif: esai ini bertujuan untuk mengubah perilaku pembaca atau memotivasi pembaca untuk ikut serta dalam suatu aksi/tindakan. Esai ini dapat menyatakan suatu emosi atau tampak emosional. Rincian pendukung biasanya disajikan berdasarkan urutan kepentingannya.

Esai dokumentatif: memberikan informasi berdasarkan suatu penelitian di bawah suatu institusi atau otoritas tertentu.

Struktur Esai.

     Esai terdiri dari 3 bagian utama, yaitu: pendahuluan, tubuh dan penutup. Bagian pendahuluan memuat 2 substansi, yaitu: upaya menarik perhatian pembaca dan pernyataan fokus (pokok persoalan) yang akan dibahas. Ada beberapa strategi untuk menarik perhatian pembaca, antara lain: awali dengan pertanyaan; awali dengan fakta yang mengejutkan; awali dengan kutipan/pernyataan; awali dengan anekdot. Hampir semua tulisan memiliki fokus/pokok bahasan/pokok pesoalan, berupa kalimat yang menyatakan apa yang menjadi fokus tulisan. Biasanya untuk esai naratif dan esai ekspositori menggunakan rumusan persoalan (thesis statement) sementara untuk esai persuasif menggunakan pernyataan opini (opinion statement). Pokok persoalan biasanya didukung dengan beberapa pokok pikiran/pikiran utama yang berfungsi memberi arah tentang hal yang akan dibahas dalam tulisan (menjelaskan tentang tesis/pokok persoalan)

     Bagian tubuh biasanya terdiri dari beberapa paragraf, tergantung jumlah pokok pikiran. Masing-masing pokok pikiran didukung oleh beberapa pikiran pendukung untuk memperjelas pokok pikiran. Apabila pokok pikiran diuraikan dalam satu paragraf, dalam hal ini pokok pikiran berfungsi sebagai kalimat topik (topic sentence) dalam paragraf. Setiap paragraf akan memiliki kalimat topik sendiri yang membahas pokok pikiran, kalimat topik juga harus didukung dengan beberapa kalimat pendukung. Ingat, setiap paragraf hanya memuat 1 gagasan pokok. Teknik penulisan paragraf: awali dengan kalimat topik; tambahkan rincian pendukung (fakta, bukti, pernyataan dsb); gunakan transisi untuk menghubungkan ide/pemikiran; akhiri dengan kalimat penutup. Transisi adalah kata atau kelompok kata (yang tidak bersubyek dan berpredikat) sebagai penghubung ide/pemikiran. Transisi digunakan ketika akan: menunjukkan lokasi/tempat, menunjukkan waktu, membandingkan pemikiran, menunjukkan perbedaan, menekankan sesuatu hal, menyimpulkan atau merangkum, menambahkan informasi, klarifikasi. Kata/kelompok kata yang biasa digunakan, antara lain: diatas, kemuaian, seperti, walaupun, lagi, akhirnya, sebagai tambahan, sebagai contoh, dsb. Penggunaan transisi dapat di dalam paragraf, untuk menghubungkan rincian pendukung, ataupun antara paragraf, untuk menghubungkan pokok pikiran/pikiran pendukung.

     Bagian penutup merupakan paragraf akhir suatu esai, biasanya berisi: pernyataan ulang fokus bahasan/pokok persoalan; merangkum pokok-pokok pikiran atau alasan; meninggalkan pembaca untuk berpikir tentang topik yang dibahas ataupun tindak lanjutnya. Pada esai persuasif biasanya termasuk ajakan/seruan untuk bertindak.

Pedoman Menulis Esai bagi Pasis.

     Agar pasis mampu menulis sebuah esai yang efektif, pasis harus memahami proses dan format penulisan dengan tujuan: agar pasis mampu menuangkan gagasan/pemikirannya secara jelas; dan pasis mampu memenuhi persyaratan teknik menulis yang ditentukan lembaga. Melalui langkah-langkah ini, diharapkan pasis dapat memanfaatkan proses untuk menyusun komposisi, mengikuti format dalam esai, dan menghindari kesalahan-kesalahan dalam struktur penulisan. Proses menulis meliputi: memahami penugasan, mengumpulkan informasi, mengembangkan ide/gagasan, menentukan maksud/tujuan menulis, menyusun rumusan persoalan, membuat rencana, menuangkan komposisi, memeriksa dan memperbaiki komposisi. Adapun format penulisan meliputi ketentuan-ketentuan menulis: pendahuluan, tubuh dan penutup.

Proses penulisan esai.

Memahami penugasan, untuk dapat memahami penugasan pasis dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini: apa tugas saya sebenarnya ?, apa pokok bahasannya ?, berapa jumlah halaman yang diminta ?, kapan batas waktu penyerahan tulisan ?, apakah perlu melakukan riset ?, apakah harus bekerja sendiri atau dalam hubungan kelompok ?, format apa yang harus digunakan ?.

Mengumpulkan informasi, pasis perlu menemukan informasi/referensi yang relevan. Pengumpulan informasi/referensi dapat dilakukan melalui: buku perpustakaan, internet, wawancara, pengalaman pribadi, koran, majalah, bahan kuliah, diskusi.

Mengembangkan ide/gagasan, untuk dapat mengembangkan gagasan pasis harus mengetahui apa yang akan ditulis. Untuk menjawab ini dapat dilakukan melalui: tukar pikiran/brainstorming, mendata, memetakan, dsb.

Menentukan maksud/tujuan penulisan, untuk dapat menentukan maksud/tujuan penulisan, pertama-tama pasis harus mempunyai alasan menulis; berikutnya, pertimbangkan penugasan, kemampuan, kepentingan dan tingkat pengetahuan; kemudian, cari hubungan antara ide/gagasan dengan informasi/referensi; terakhir, tanyakan kepada diri, apakah yang ingin saya capai ?, apa yang ingin saya tunjukkan ?.

Menyusun rumusan persoalan/tesis, pernyataan rumusan persoalan/tesis mencerminkan isi esai dan poin penting yang hendak disampaikan penulisnya. Pernyataan rumusan persoalan/tesis terdiri dari 2 bagian: bagian pertama menyatakan topik (misal: Disiplin tempur . . . ., Pemberdayaan wilayah pertahanan . . . . ), bagian kedua menyatakan poin-poin esai (misal: Merupakan syarat pokok keberhasilan di daerah operasi, Belum sepenuhnya dipahami oleh Perwira TNI AD). Dalam merumuskan persoalan, pasis harus mengetahui apa topik yang akan dibahas. Biasanya topik telah diberikan dalam penugasan pasis, namun sebelum melangkah lebih lanjut pasis harus memikirkan terlebih dahulu tipe naskah yang akan ditulis. Apakah berupa tinjauan umum atau menganalisis topik secara khusus. Bila ingin melakukan analisis khusus, maka topik harus benar-benar spesifik. Apabila topik yang diberikan masih terlalu umum maka pasis harus mempersempit topik untuk lebih mempertajam pembahasan. Apabila topik belum diberikan, pasis memiliki kebebasan untuk memilih topik, namun hal ini akan terasa menyulitkan bila belum terbiasa. Selanjutnya pasis harus menanyakan apa yang pasis yakini dengan topik tersebut, dan apa ide/gagasan murni pasis berkenaan dengan topik tersebut, bagaimana pasis dapat mendukung ide/gagasan dengan bukti dan logika. Pengetahuan dan cara menuangkan merupakan pandangan pasis tentang topik tersebut.

     Sekarang tuliskan rumusan persoalan dan periksalah kembali. Rumusan persoalan harus: jelas, dalam kalimat yang lengkap; spesifik, tidak terlalu umum; dapat didukung dengan bukti/referensi; kuat, tidak meragukan; satu kesatuan (coherent), tidak bercampur dengan topik.

     Dalam menyusun rumusan persoalan hindari: pertanyaan-pertanyaan, penilaian-penilaian, perasaan/prasangka, fakta, ide orang lain, pandangan religius.

Membuat rencana (out line), tujuan membuat rencana esai adalah untuk meletakkan ide-ide tentang topik dalam sebuah format yang terorganisir. Bagaimana pasis dapat mengorganisir ide/gagasan ?: Mulailah dengan menulis topik di bagian atas; kemudian tuliskan angka romawi I, II, III dibagian kiri halaman dengan jarak yang cukup lebar; Selanjutnya tuliskan garis besar ide tentang topik yang dimaksud (jika pasis hendak mencoba meyakinkan, berikan argumentasi; jika hendak menjelaskan suatu proses, tuliskan langkah-langkahnya sehingga mudah dipahami; dst); Kemudian pada masing-masing angka romawi tuliskan A, B dan C secara menurun disisi kiri halaman. Tuliskan fakta/informasi yang mendukung ide utama. Hubungan antara ide dengan fakta/informasi biasanya dalam pola: umum - spesifik, sebab - akibat, persamaan - perbedaan, kategori - klasifikasi, proses - kronologi, persoalan - solusi, pokok pikiran - pikiran pendukung; Kemudian, tuangkan rencana kedalam kerangka untuk menuntun bagaimana pasis menunjukkan pokok persoalan. Rangkaikan ide dalam urutan yang logis, sbb:

I.   Pendahuluan dengan rumusan persoalan/tesis.

II.  Tubuh/inti

A.  Pokok pikiran 1 (umum)

     1. Pikiran pendukung 1 (spesifik)

     2. Pikiran pendukung 2 (spesifik)

     3. Pikiran pendukung 3 (spesifik)

B.  Pokok pikiran 2 (umum)

     1. Pikiran pendukung 1 (spesifik)

     2. Pikiran pendukung 2 (spesifik)

     3. Pikiran pendukung 3 (spesifik)

C.  Pokok pikiran 3 (umum)

     1. Pikiran pendukung 1 (spesifik)

     2. Pikiran pendukung 2 (spesifik)

     3. Pikiran pendukung 3 (spesifik)

D.  Dst

III.  Penutup

     Selanjutnya, periksalah susunan, urutan, dan pendukungnya,sbb: apakah dukungan cukup ?, apakah dukungan seimbang ?, apakah setiap pikiran mendukung tulisan ?, apakah ide sudah tersusun dalam urutan yang logis ?, apakah saya mempertimbangkan pandangan yang berbeda ?, apakah saya sudah cukup menganalisis topik, apakah alasan dan bukti sudah mendukung/membenarkan pemikiran saya ?.

Menuangkan komposisi, bagaimana membuat tulisan pertama ?: Pertama, fokus. Ingat apa tujuan, tulis rumusan persoalan di bagian atas, ikuti kerangka yang telah dibuat. Kemudian, tulislah segera, perbaiki nanti. Selanjutnya, tulislah bagian tubuh/inti terlebih dahulu, lalu pendahuluan dan kesimpulan. Terakhir, periksa dan perbaiki komposisi: Tinggalkan dan tunggu 24 jam; Bayangkan pasis sebagai dosen, lalu baca draft/tulisan: pertama, periksa kejelasan rumusan persoalan, alasan yang baik dengan dan urutan yang mendukung/logis; kedua, periksa mekanisme; ketiga, periksa gaya bahasa. Lalu: tulis ulang, tulis ulang, tulis ulang.

Format penulisan esai.

Pendahuluan, merupakan permulaan tulisan, untuk menarik perhatian pembaca serta menyampaikan rumusan persoalan (Tesis), rumusan persoalan menunjukkan sejauh mana pemahaman terhadap persoalan, memperkirakan inti tulisan, hanya satu paragraf.

Tubuh/inti, merupakan inti dari tulisan. Terdiri dari beberapa paragraf, dimana masing-masing paragraf memuat kalimat topik/pokok pikiran/pikiran utama, dan pikiran utama memuat beberapa pikiran pendukung (menjelaskan pikiran utama dengan fakta, contoh dan penjelasan). Inti tulisan harus dapat menjelaskan dan membuktikan rumusan persoalan/tesis dengan alasan yang jelas dan menyeluruh serta urutan yang logis.

Kesimpulan, merupakan penutup tulisan, hanya satu paragraf. Kesimpulan menyatakan kembali rumusan persoalan, atau merangkum pokok-pokok pikiran/pikiran utama, ditutup secara mulus dan bersifat positip. Membuat agar pembaca ingat.

Penggunaan referensi dan daftar pustaka.

Mengapa perlu referensi, ketika kita menulis sebuah esai, laporan, desertasi atau bentuk tulisan ilmiah, penuangan pemikiran dan gagasan kita tidak dapat dilepaskan dari pemikiran penulis lain, para peneliti, para dosen. Pemikiran maupun penelitian pihak lain akan memperkaya tulisan kita. Karena bukan milik kita, maka apa yang kita ambil harus kita beritahukan. Oleh karenanya sangat penting untuk menyertakan sumber data, penelitian, pemikiran pihak lain yang kita gunakan untuk memperkaya tulisan kita. Penggunaan referensi akan menunjukkan kepada pembaca yang mana ide/gagasan murni kita, dan yang mana ide/gagasan yang bukan milik kita, pembaca juga akan mudah untuk menelusuri rincian pemikiran/fakta melalui referensi yang kita rujuk.

Mereferensi menggunakan footnotes (catatan pada bagian kaki halaman) dan endnotes (catatan pada bagian akhir pekerjaan/kalimat). Beberapa disiplin ilmu ada yang lebih suka menggunakan footnotes atau endnotes untuk merujuk sumber referensi yang digunakan. Sekalipun gaya masing-masing penulis berbeda dalam sistem "penulis, tanggal" (author, date system) namun dari sisi tujuan untuk merujuk sumber ide/data/kutipan tanpa interupsi yang tidak semestinya terhadap tulisan, adalah sama. Sumber kutipan diakhir kalimat dibuat seringkas mungkin, hanya penulis dan tanggal, sumber secara lengkap dibuat dalam daftar pustaka ( Samuel, Johnson. 2007)

Tentang paragraf karya ilmiah ( tambahan)

     Sebagai orang awam tentunya tidak terlalu sulit untuk menunjukkan apa yang disebut paragraf, namun jika diminta untuk menjelaskan apalagi mendefinisikan, tidak semua orang dapat melakukannya.

     Dari segi wujudnya, paragraf adalah bagian dari wacana tertulis. Wacana lisan tidak mengenal istilah paragraf. Paragraf dimulai dengan baris baru yang dibentuk dengan indentasi (Marahimin,1994:28), tulisan dibuat menjorok kedalam sejauh 2,3 atau 5 ketukan. Paragraf juga dapat dikenali dari jarak spasi. Jarak spasi antara 1 paragraf dengan paragraf lain lebih banyak bila dibandingkan jarak antara satu kalimat dengan kalimat lain dalam 1 paragraf. Wujud penanda lainnya adalah kalimat. Sebuah paragraf dibangun oleh beberapa kalimat, tidak ada ketentuan baku tentang berapa jumlah kalimat dalam 1 paragraf. Dalam penulisan bersifat ilmiah, jumlah kalimat dalam 1 paragraf dipengaruhi oleh pertimbangan rasional-ilmiah dan pertimbangan praktis.

     Kalimat-kalimat yang membangun sebuah paragraf harus saling berhubungan satu dengan lainnya. Paragraf dibangun oleh " himpunan kalimat yang bertalian dalam satu rangkaian untuk membentuk sebuah gagasan " (Keraf, 1989:62). Pertalian ini menghasilkan gagasan yang utuh dan lengkap sehingga pembaca memperoleh pengertian yang utuh, lengkap dan jelas tentang satu masalah dalam paragraf tsb.

     Ada 3 syarat yang dibutuhkan untuk menyusun paragraf tulisan bersifat ilmiah: (1) Dalam 1 paragraf hanya terdapat 1 gagasan pokok; (2) Kalimat-kalimat dalam paragraf bertalian atau berhubungan satu sama lain secara erat; (3) Pengurutan gagasan-gagasan pendukung (untuk menunjang gagasan pokok) dalam paragraf diwujudkan dengan penataan kalimat yang teratur. Ketiga faktor ini biasa diistilahkan dengan kesatuan, kepaduan dan pengembangan paragraf. Kesatuan paragraf. Paragraf karya ilmiah yang baik hanya memiliki 1 gagasan pokok. Gagasan pokok tersebut dimuat dalam sebuah kalimat. Kalimat yang memuat gagasan pokok paragraf biasa disebut kalimat topik (topic sentence). Selain kalimat topik, sebuah paragraf karya ilmiah juga harus dilengkapi dengan kalimat (-kalimat) penjelas yang disusun untuk memperjelas isi dan pengertian kalimat topik. Banyaknya kalimat penjelas dalam peragraf tergantung pada penulis, apakah serangkaian kalimat penjelas sudah dapat menjelaskan gagasan pokok dalam paragraf. Penempatan kalimat topik bisa diawal ataupun pada akhir paragraf, ada juga yang menempatkan kalimat topik diawal dan diulangi diakhir paragraf untuk mempertegas kembali. Selain paragraf dengan kalimat topik, pada paragraf karya ilmiah juga digunakan paragraf naratif dan paragraf deskriptif. Pada kedua paragraf ini, tidak terdapat kalimat topik, karena semua kalimat berfungsi sama.

Kepaduan paragraf, hubungan antara kalimat topik dengan kalimat penjelas dalam sebuah paragraf harus ditata dengan baik untuk memperoleh paragraf yang padu. Ada 2 sarana pokok yang biasa digunakan untuk membangun hubungan antar kalimat dalam paragraf, yaitu dengan: pengulangan (repetisi) dan konjungsi. Pengulangan dapat berupa pengulangan kata, pengulangan ide, dll. Konjungsi biasanya menggunakan kata/frase penghubung, seperti: sejak, walau demikian, sebaliknya, dalam medan sesulit itu, dsb. Selain dengan pengulangan dan konjungsi, hubungan antar kalimat dan antar gagasan dalam satu paragraf juga dapat dibuat lebih padu dengan menggunakan kata tunjuk (itu, tersebut, demikian, dsb).

Pengembangan paragraf (pengurutan gagasan bawahan), gagasan pokok dalam paragraf diperjelas atau ditunjang oleh gagasan-gagasan bawahan yang dimuat dalam kalimat-kalimat penjelas. Kalimat-kalimat penjelas ditata dan disusun menurut satu model atau pola tertentu. Beberapa model yang dapat digunakan untuk mengembangkan gagasan pokok sebuah paragraf, diantaranya: Deskripsi, dapat berupa pemerian ( penggambaran, pendefinisian) seseorang, sebuah ruang, sebuah benda, suasana, perasaan, dsb; Contoh, sebuah gagasan dapat menjadi lebih jelas jika didukung dengan contoh atau ilustrasi; Definisi luas, biasa digunakan untuk menguraikan sebuah gagasan yang abstrak atau istilah yang menimbulkan kontroversi sehingga perlu ada penjelasan. Bentuknya buka semata definisi, melainkan definisi yang disertai penjelasan tambahan sehingga menjadi paragraf yang utuh dan jelas; Analisis atau uraian, penulis memerikan sesuatu kedalam unsur-unsur yang membangunnya agar lebih mudah dipahami; Klasifikasi, mengelompokkan berbagai hal yang dianggap memiliki kesamaan kedalam satu kategori sehingga hubungan diantara berbagai hal itu menjadi jelas; Perbandingan dan pertentangan, dalam perbandingan unsur yang sama dari 2 hal atau lebih diungkapkan dan diuraikan. Sementara dalam pertentangan, unsur yang membedakan 2 hal atau lebih diungkapkan dan diuraikan; Sebab-akibat, paragraf model ini menguraikan hal-hal yang menyebabkan suatu peristiwa terjadi, atau sebaliknya diuraikan dulu sebuah akibat baru diikuti oleh penyebabnya; Proses, pengembangan paragraf dengan model ini berupa uraian tentang proses terjadinya sesuatu. Dalam model ini ada urutan dari tindakan menciptakan atau menghasilkan sesuatu.

Disarikan dari berbagai sumber:

1.  Guide to Writing Basic Essay, Index of Literary Terms.

2.  Some Tips on Writing Papers of History Course.

3.  A Process and A Format for Writing Academic Essays at CGSC.

4.  Learning Essentials for Microsoft Office, Student Edition.

5.  Samuel, Johnson. 2007. Writing Essays. Internet.

6.  Payne, Lucile Vaughan. 1965. What is An Essay?. Artikel. The Lively Art of Writing. London: Follet Publishing Company.

7.  Sumadiria, AS Haris. 2005. Menulis Artikel dan Tajuk Rencana: Panduan Praktis Penulis & Jurnalis Profesional. Cetakan kedua. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

8.  Yunita T. Winarno, Totok Suhardiyanto, Ezra M. Choesin. 2004. Karya Tulis Ilmiah Sosial: Menyiapkan, Menulis, dan Mencermatinya. Cetakan Pertama. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

 

CATATAN:

Untuk Pasis Seskoad telah diajarkan esai dengan sisi tinjauan yang mungkin sedikit berbeda dengan yang diuraikan di atas. Semua adalah dalam rangka memperkaya pemahaman dan wawasan, mengingat perkembangan ilmu pengetahuan telah berkembang demikian pesatnya. Kita harus mau membuka cakrawala wawasan seluas mungkin agar kita semakin mengerti betapa sebenarnya kita sarat dengan kekurangan.

( Letkol Czi. Heri Marjaga Siagian )



Baca selengkapnya . . .