Tampilkan postingan dengan label Informasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Informasi. Tampilkan semua postingan

03 Februari 2014

Pemanfaatan Teknologi Informasi Dalam Rangka Reformasi Pendidikan TNI AD

Oleh: Budiman S.P.*

Pada suatu waktu, para perwira siswa (pasis) memasuki ruangan kuliah umum yang sudah dilengkapi dengan sarana audio visual yang cukup baik. Dosen mengajar mata pelajaran dengan persiapan yang matang. Para pasis mengikuti pelajaran dengan antusias, para pasis bertanya dan dosen menjawab pertanyaan dengan memuaskan. Di akhir pelajaran dosen memberikan penugasan kepada pasis. Untuk membuat kelas menjadi efektif, maka pasis dibagi-bagi dalam sindikat untuk mendiskusikan persoalan yang diberikan. Masing-masing sindikat dibimbing oleh seorang perwira yang ditunjuk. Dalam kesempatan berikutnya dilaksanakan diskusi kelas yang suasananya hidup. Masing-masing pasis secara aktif berperan dalam diskusi tersebut. Hasil diskusi disimpulkan dalam makalah yang harus dikumpulkan dalam waktu tertentu. Hasil diskusi sesuai dengan apa yang diinginkan lembaga seperti yang tertuang dalam “jawaban sekolah”. Para pasis dan lembaga merasa puas.

Dua tahun kemudian, selesai mengikuti upacara pembukaan para pasis dibagi Compact Disk (CD) yang secara otomatis akan menampilkan informasi begitu dimasukkan kedalam CD drive komputer. Para pasis tidak harus “melek komputer” untuk dapat mengoperasikannya. CD tersebut berisi informasi lengkap tentang Seskoad, kumpulan semua hanjar, Lembar Penugasan dan Kuis serta referensi yang berkaitan dengan pelajaran yang diberikan. CD tersebut juga berisi link (hubungan) ke sumber-sumber internet. Para pasis dengan membawa CD masing-masing duduk di depan komputer di laboratorium untuk mempelajari tugas yang diberikan oleh lembaga, mencari referensi untuk penugasannya. Sebagian perwira siswa yang sudah terbiasa menggunakan internet pergi ke warnet atau memanfaatkan laptopnya disambungkan pada jaringan hotspot/wireless untuk mencari tambahan informasi seperti yang ditunjukkan dalam link-link tersebut. Sebagian pasis lainnya mencari tambahan informasi dengan memanfaatkan ensiklopedia elektronik. Dalam waktu yang telah ditentukan mereka berkumpul di ruang diskusi dalam bentuk sindikat/kelompok untuk mendiskusikan penugasannya disupervisi oleh perwira yang ditunjuk. Suasana diskusi sangat hidup dan berkembang dengan sudut pandang berbeda-beda. Diskusi menghasilkan keputusan atau makalah yang komprehensif dan ternyata berbeda dengan jawaban sekolah. Laporan dikumpulkan dalam waktu yang lebih cepat dengan kualitas yang lebih baik sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.

Demikianlah gambaran situasi kelas yang berbeda antara sistem dengan dan tanpa memanfaatkan peranan teknologi informasi. Tulisan ini akan membahas peran teknologi informasi dalam bidang pendidikan dan bagaimana teknologi informasi dapat diimplementasikan untuk meningkatkan jumlah dan kualitas serdik dalam proses belajar. Sebagai bahan pembahasan penulis mengambil contoh Seskoad karena sekolah ini merupakan barometer pendidikan di TNI AD dan diasumsikan merupakan pendidikan yang terbaik. Diharapkan dengan memanfaatkan teknologi informasi Seskoad akan menjadi pelopor pembaharuan dalam bidang pendidikan di lingkungan TNI AD.

Sistem Pendidikan

Inti dari sistem pendidikan adalah hubungan manusiawi yang terbentuk antara tenaga pendidik (gadik) dan peserta-didik (serdik). Hubungan ini oleh para praktisi biasanya direduksi hanya menjadi “proses belajar-mengajar”, yang tidak mencerminkan keseluruhan sistem pendidikan. Terkadang bahkan, pendidikan direduksi menjadi sekedar suatu proses transfer pengetahuan, ketrampilan, dan penyebaran informasi saja. Memang proses belajar mengajar, transfer pengetahuan dan ketrampilan serta proses penyebaran informasi adalah merupakan elemen-elemen kunci dalam sistem pendidikan. Secara khusus, sistem pendidikan TNI AD bukan hanya sekedar “proses belajar-mengajar” ditambah dengan “pewarisan nilai-nilai”, melainkan lebih dari itu secara universal ditujukan untuk menjadikan manusia seutuhnya, khususnya dalam rangka menjadi patriot untuk mempertahankan eksistensi negara Indonesia. Hal ini tertuang dalam sesanti “dwi warna purwa cendekia wusana” yang berarti pertama-tama adalah pejuang merah putih dan baru kemudian kecendekiaan atau keahlian.

Kualitas pendidikan secara umum sangat ditentukan oleh adanya interaksi yang baik antara gadik dan serdik. Gadik sebagai pembimbing atau pendamping sekaligus menjadi teladan bagi serdik dalam rangka proses belajar mengajar dan proses pewarisan nilai-nilai. Tanpa adanya interaksi yang baik ini maka pendidikan akan jauh dari hakekatnya dan akan tinggal menjadi hal-hal teknis belaka yang akan menghasilkan manusia-manusia yang pandai saja tetapi miskin sentuhan manusiawi. Sehingga tidak mengherankan kalau kualitas manusia yang terbaik saat ini justru diperoleh melalui pendidikan dengan pola tradisional dengan metoda "talk and chalk" , model perguruan silat, ataupun model pesantren. Menurut ukuran yang sampai saat ini masih berlaku, bagus tidaknya suatu institusi pendidikan adalah tergantung nisbah (ratio) siswa dengan gurunya. Semakin besar nisbahnya diharapkan semakin baik kualitas hasil didiknya. Ini mengandung arti bahwa semakin banyak hubungan manusiawinya diharapkan semakin baik kualitas hasil didiknya. Namun demikian hal ini tidak berarti bahwa penggunaan teknologi untuk menjalankan proses-proses dalam sistem pendidikan akan menurunkan kualitas pendidikan.

Penggunaan teknologi secara nyata meningkatkan kuantitas serdik yang dapat memperoleh pendidikan serta memperluas cakupan materi pelajaran, yang berarti penggunaan teknologi modern khususnya teknologi informasi dapat membantu meningkatkan pendidikan tanpa harus menurunkan kualitasnya apabila hubungan manusiawi antara gadik dan serdik tetap dijaga.

Peran Teknologi Dalam Pendidikan.

Ramalan mengenai peran atau manfaat teknologi biasanya dihubungkan dengan masalah yang berkaitan dengan konteks sosial politik yang akan terjadi dalam masyarakat. Namun kadang-kadang ramalan itu tidak terjadi atau meleset. Sebagai contoh, pada awal abad 20 di Amerika pada saat kendaraan sudah mulai banyak, dinyatakan bahwa akan terjadi perbaikan kondisi lingkungan bila mobil menggantikan kereta kuda. Jalanan menjadi bersih, tidak berdebu, tidak berbau, dan tidak berisik sejak ditemukannya ban dalam, hal ini akan mengurangi ketegangan dan gangguan di kota-kota besar. Saat ini barangkali ramalan semacam itu akan ditertawakan karena ternyata dengan digunakannya mobil, kondisi yang diramalkan meleset. Yang terjadi justru adalah kemacetan lalu lintas, polusi suara, polusi udara yang semakin menimbulkan ketegangan dan gangguan di kota-kota besar. Tanpa mempersoalkan apa akibatnya dari sisi sosial politik, pengaruh teknologi terhadap pendidikan terutama dari sisi transfer pengetahuan dan penambahan cakupan pengetahuan terlihat sangat jelas.

Berikut gambaran mengenai bagaimana teknologi dengan jelas mampu mengubah cara pendidikan dilaksanakan. Yang dimaksud teknologi dalam hal ini mulai dari mimik atau isyarat ke bahasa lisan (spoken language), menuju bahasa tulisan (written language) di batu/tulang, tulisan di kertas, mesin cetak sampai dengan buku dan TV sampai saat ini menggunakan e-learning. Marilah kita menengok kebelakang dan melihat bagaimana perkembangan teknologi tersebut mengubah pendidikan.

Teknologi yang sangat primitif yang digunakan untuk berkomunikasi adalah menggunakan mimik, isyarat, maupun coretan-coretan di pasir. Dengan teknologi ini walaupun tanpa kata-kata manusia sudah mampu melakukan pendidikan kepada anak-anaknya. Dengan cara ini pula para orang tua sudah mampu mengajari anaknya untuk berburu binatang dan mencari makanan dan sebagainya. Begitu ada teknologi baru yang berupa bahasa lisan (spoken language) maka ada kemajuan yang pesat dalam upaya penyampaian pengetahuan kepada anak-anaknya. Dalam era ini kadar pengetahuan masih sangat tergantung pada ingatan saja. Teknologi yang selanjutnya adalah bahasa tulis (written language), dengan teknologi ini mulailah pengalaman-pengalaman tersebut dituliskan di tulang, batu dan dinding-dinding gua. Mulai saat inilah pengetahuan tidak hanya tergantung yang di ingatan saja melainkan juga yang tertulis entah di batu ataupun dinding gua. Setelah ditemukannya teknologi kertas yang jauh lebih ringan dari lempeng batu maka semakin banyak pengetahuan yang didapatkan dan relatif bisa dibawa kemana-mana. Berikutnya setelah ditemukannya teknologi mesin cetak maka terjadi lompatan yang sangat luar biasa karena informasi dapat disimpan dengan cepat dalam bentuk buku. Dalam tahap ini pengetahuan sangat cepat didapatkan. Dengan adanya teknologi komunikasi / radio maka pengetahuan makin mudah untuk didapatkan. Menyusul ditemukannya televisi kita bisa mengikuti pendidikan secara visual melalui televisi. Ketika komputer ditemukan dan teknologi informasi berkembang dengan cepat maka saat ini kita dapat belajar menggunakan metode yang disebut sebagai e-learning. Inilah gambaran betapa teknologi itu akan dengan jelas mengubah bagaimana kita belajar dan mengikuti pendidikan.

Secara singkat kemajuan teknologi khususnya teknologi informasi membuat pergeseran yang cukup nyata dalam pendidikan. Pergeseran tersebut adalah kalau dahulu gadik sebagai sumber utama pengetahuan (teachers as gatekeepers to knowledge) maka saat ini gadik berfungsi menjadi lebih sebagai fasilitator maupun mediator. Hal ini terjadi karena adanya media interaktif (interactivity media), perpustakaan elektronis (online library), ataupun belajar jarak jauh (distance learning). Saat ini seiring dengan kemajuan teknologi informasi, terjadi pergeseran paradigma pendidikan dari yang tadinya pendidikan berpusat kepada gadik (lecturer centered) menjadi berpusat pada serdik (student centered education); belajar dengan mengutamakan ilmu (knowledge based learning) menjadi belajar yang mengarah pada kompetensi (competence based learning); dan metodologi yang menekankan penguasaan materi (content driven methodology) menjadi metodologi yang mengedepankan proses belajar (process driven methodology).

Mengingat demikian besar pengaruh teknologi terhadap pendidikan maka TNI AD mau tidak mau harus menggunakan teknologi khususnya teknologi informasi untuk membantu meningkatkan cakupan jumlah serdik dan kualitas pendidikan dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Kondisi Pendidikan TNI AD.

Selama ini masih diyakini bahwa Seskoad sebagai pendidikan tertinggi di lingkungan TNI AD merupakan “center of excellence”. Namun demikian ternyata sistem pendidikannya masih dijalankan dengan menggunakan pendekatan konvensional yaitu gadik sebagai sumber utama pengetahuan (teachers as gatekeepers to knowledge). Sistem pendidikan yang demikian akan menghasilkan serdik yang kemampuannya tidak maksimal dan menimbulkan ketergantungan kepada guru. Metode ini mempersyaratkan kehadiran gadik, tanpa gadik tidak ada proses belajar. Sistem ini juga menuntut ketersediaan gadik yang cukup. Jumlah gadik yang tidak mencukupi membuat satu orang gadik mengajar beberapa mata pelajaran sehingga tingkat kompetensinya pun diragukan. Dengan demikian paradigma pendidikan yang berpusat pada gadik ini perlu dirubah menjadi berpusat pada serdik untuk lebih menumbuhkan inisiatif para serdik.

Saat ini metode belajar di Seskoad juga masih menekankan bagaimana serdik diharapkan menguasai materi pelajaran sebanyak-banyaknya (knowledge based learning) dan belum mengarah pada kompetensi (competence based learning). Saat ini pelajaran yang diberikan di Seskoad meliputi Subyek Bin Kejuangan dan Kepribadian; Subyek Bin Pengetahuan dan Ketrampilan; Subyek Bin Jasmani; dan Lain-lain dengan jumlah mata pelajaran teori sebanyak 114 buah yang diberikan dalam 43 minggu. Ini merupakan contoh tipikal pendidikan dengan titik berat mata pelajaran. Dalam waktu yang relatif singkat serdik diwajibkan menguasai sebanyak-banyaknya pelajaran. Sistem yang demikian tidak menjamin kompetensi. Rasanya sangat sulit untuk mengharapkan lulusan Seskoad dengan paradigma ini mempunyai kompetensi yang tinggi. Sebagai perbandingan Sesko Malaysia, Singapura, atau Filipina tidak mengajarkan banyak pelajaran. Pada umumnya pelajaran dikelompokkan dalam empat modul dasar yaitu General Studies; Command, Leadership and Management; Strategy Warfare and Conflict Strategies; dan Military Operations. Masing-masing modul hanya terdiri dari beberapa pelajaran namun cukup mendalam dengan didukung sarana yang memadahi. Bahkan seperti di Malaysia dan Australia alumni pendidikan Sesko langsung dapat melanjutkan untuk S2 di bidang strategi di universitas. Untuk Malaysia dapat melanjutkan di Universitas Malaya dan di Inggris sedangkan untuk Australia dapat melanjutkan S2 di ADFA. Dengan demikian pendidikan Sesko diharapkan menggunakan sistem belajar yang menekankan kompetensi, sehingga alumninya cukup kompeten dalam bidang yang ditekuninya.

Pendidikan di Seskoad juga masih menganut metodologi yang menekankan pada isi pendidikan (content driven methodology). Sistem ini akan memacu siswa belajar atau membuat penugasan hanya untuk memenuhi tugas sesuai jadwal sementara penguasaan materi kurang ditonjolkan. Menurut salah satu bidang manajemen yaitu Total Quality Management (TQM) hasil akan baik apabila prosesnya benar (process driven methodology). Dengan demikian hasil pendidikan yang baik akan secara otomatis dapat dicapai apabila proses belajarnya benar, tanpa harus setiap kali mengevaluasi hasilnya.

Kondisi pendidikan sesuai dengan paradigma dan metodologi yang diharapkan tersebut dapat dilakukan salah satunya dengan cara melakukan penataan kembali sistem pendidikan dengan memanfaatkan peran teknologi informasi.

Konsepsi Penataan Pendidikan TNI AD

Pada prinsipnya reformasi Sistem Pendidikan TNI AD yang ideal dilaksanakan dengan melakukan penataan kembali seluruh komponen pendidikan yang meliputi kurikulum, paket instruksi, gadik, gapendik, serdik, alins/alongins, metoda pengajaran, evaluasi, fasdik, dan anggaran. Penataan ini dapat dilakukan dengan melibatkan dan mengintegrasikan personel-personel yang kompeten di bidang masing-masing. Untuk beberapa komponen seperti paket instruksi, alins/alongins dan evaluasi dapat ditata dengan menggunakan teknologi informasi untuk mempercepat proses penguasaan pengetahuan.

Perkembangan teknologi dewasa ini ditandai dengan adanya perkembangan komputer yang sangat pesat baik dari aspek peranti keras maupun peranti lunak seperti database, pengolah kata (word processor), lembar kerja (spreadsheet). Keunggulan dari teknologi ini adalah mampu menyimpan pengetahuan yang sangat besar dan mudah diakses dalam waktu yang sangat cepat. Akibat perkembangan komputer yang pesat ini berkembanglah teknologi internet. Internet merupakan jutaan komputer yang terhubung satu sama lain di seluruh penjuru dunia dengan kapasitas informasi yang tak terbatas yang sewaktu-waktu dapat diakses secara on-line. Saat ini banyak universitas (baik militer maupun sipil), kursus-kursus, sudah membuka pelajaran secara on-line, berkat jaringan global ini. Berkaitan dengan kemajuan teknologi ini maka komponen pendidikan seperti paket instruksi dapat dibuat menggunakan perangkat lunak pengolah kata, alins ataupun alongins dapat menggunakan paket tutorial yang berbasiskan komputer / Computer Based Tutorial (CBT), evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan bentuk soal yang diketik menggunakan perangkat lunak pengolah kata (word processor) ataupun menggunakan metode evaluasi yang otomatis dikerjakan secara interaktif langsung di komputer.

Dalam pendidikan yang dijalankan dengan metode tradisional hambatan yang utama adalah adanya keterbatasan ruang dan waktu. Tenaga pendidik yang sesuai/ profesional tidak selalu berada dalam satu dimensi ruang dan waktu dengan peserta-didik yang memerlukan kehadirannya. Dengan demikian, kesempatan peserta-didik untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas seperti di Seskoad secara langsung melalui proses-proses pendidikan bertatap muka sangat terbatas dan sulit karena alokasi yang terbatas. Namun dengan inovasi teknologi informasi (baik internet maupun sistem pemberkasan hanjar yang baik) dapat mengatasi kendala ruang dan waktu. Bahan ajaran dikelompokkan menjadi paket-paket elektronik yang dapat disimpan dan ditansfer melintasi ruang melalui sistem komunikasi data tanpa hambatan. Dengan sistem pemberkasan hanjar elektronik, materi-materi pendidikan dapat disimpan dan diakses setiap saat melintasi dimensi waktu. Secara teoritis berarti kendala ruang dan waktu dapat teratasi, kapasitas pendidikan menjadi tak terbatas. Dengan penggunaan teknologi ini maka diharapkan akan meningkatkan kapasitas jumlah siswa yang dapat memperoleh pengetahuan, dengan demikian tidak lagi terbatas pada jumlah alokasi yang tersedia, sehingga bisa saja setiap perwira diwajibkan mengikuti pendidikan Seskoad. (Konsekuensinya harus menggunakan sistem yang berbeda dengan yang sekarang. Seperti misalnya dengan sistem belajar jarak jauh atau Sesko secara terdistribusi dengan pengawasan kualitas yang ketat). Implikasinya jangka panjang otomatis akan terjadi peningkatan kemampuan perwira dalam mendukung pelaksanaan tugas pokoknya. Adapun secara singkat langkah-langkah bagaimana memajukan Seskoad berkaitan dengan penggunaan teknologi informasi adalah sebagai berikut:

Tahap pertama, menyusun informasi yang berkaitan dengan Seskoad, bahan ajaran, kuis dan Lembar Penugasan, referensi yang berkaitan dengan pelajaran, dan link-link ke internet yang berkaitan dengan materi pendidikan kedalam satu CD yang secara otomatis dapat dijalankan tanpa memerlukan kemampuan menggunakan komputer (computer literacy). Yang dilakukan serdik adalah tinggal mengikuti petunjuk yang ditampilkan di komputer. Hal ini sangat memungkinkan karena komputer bukan merupakan barang yang asing bagi serdik di Seskoad. Dengan adanya CD ini maka diharapkan serdik akan dapat belajar secara lebih mandiri dengan penuh inisiatif. Diharapkan pula dengan adanya CD ini serdik tidak lagi berkutat dengan banyak kertas dan buku-buku yang biayanya relatif mahal. Setelah lulus dari Seskoad pun serdik masih dengan mudah untuk mengakses pengetahuan yang ada dalam CD tersebut.

Tahap kedua, Seskoad perlu mengembangkan laboratorium komputer dengan sistem menggunakan sistem jaringan (networking) dengan sistem server dan diskless workstation. Dengan sistem ini maka biaya pengadaannya akan menjadi lebih murah karena masing-masing workstation tidak memerlukan harddisk. Biaya untuk harddisk ini dapat dialihkan untuk pembelian unit komputer yang baru. Dengan adanya jaringan komputer ini diharapkan Seskoad akan memberikan pelajaran dengan cara yang berbeda dengan yang telah dilakukan selama ini. Dengan adanya laboratorium ini maka serdik dapat belajar secara mandiri.

Tahap ketiga, menghubungkan jaringan komputer tersebut ke internet agar serdik dapat mencari informasi atau referensi yang berkaitan dengan materi pelajarannya. Dengan internet ini maka akan terbukalah cakrawala para perwira akan perkembangan terbaru dari pelajaran atau pengetahuan yang dapat diperoleh dari internet.

Tahap keempat (ini optional), membangun jaringan internet di mes serdik. Sehingga serdik mampu mengakses internet tanpa harus ke laboratorium. Dengan demikian maka serdik dapat belajar setiap saat dari kamar dengan suasana yang jauh lebih enak dari pada belajar di kelas.

Memang penataan pendidikan yang demikian mempersyaratkan guru dengan kualitas yang baik (walaupun kalau masalahnya hanya transfer pengetahuan tidak memerlukan guru). Diperlukan kualitas guru yang baik karena untuk mencapai kualitas manusia yang baik diperlukan hubungan manusiawi yang erat antara gadik dengan serdik. Ini merupakan tantangan yang berat bagi Seskoad untuk meningkatkan kualitas gadiknya. Karena dengan sesanti “dwiwarna purwa cendekia wusana” diharapkan para gadik dituntut untuk benar-benar bersikap dan berperilaku yang mencerminkan sesanti tersebut disamping tingkat kompetensi yang tinggi. Konsekuensinya Seskoad perlu melakukan kontrol yang lebih ketat untuk menentukan kriteria para gadiknya kalau perlu melalui fit and proper test.

Penutup

Demikianlah gambaran singkat mengenai penataan pendidikan TNI AD khususnya di Seskoad dengan mempertimbangkan beberapa komponen dalam sistem pendidikan yaitu paket instruksi, alins/alongins dan evaluasi dangan memanfaatkan teknologi informasi. Untuk tahap pertama, baik untuk lembaga pendidikan (lemdik) Seskoad dan lemdik pendidikan perwira lainnya, dengan disusunnya bahan ajaran dalam bentuk CD diharapkan kualitas bahan ajaran menjadi jauh lebih baik. Hal ini merupakan langkah awal untuk menuju pada modernisasi pendidikan di lingkungan TNI AD.

Untuk kelompok bintara dan tamtama yang biasanya dididik di Rindam belum memerlukan hanjar dalam bentuk yang sudah dikomputerisasi. Bentuk yang cocok diberikan kepada bintara tamtama adalah bahan ajaran yang dirumuskan dalam buku saku yang berisi pengetahuan-pengetahuan praktis tentang tugasnya. Buku saku ini dapat dicetak dalam media yang berlapis plastik yang kedap air sehingga dapat dibawa kemana-mana dan diharapkan mampu menjadi referensi dalam membantu memecahkan masalah yang dihadapi dalam penugasan mereka. Teknologi informasi dapat dimanfaatkan dalam pengadaan buku saku ini dengan membuat master cetakan yang bagus menggunakan format portable document format (PDF). Dengan format ini kualitas hasil cetakannya lebih bagus dibandingkan perangkat lunak pengolah kata biasa.

Didalam pelaksanaannya konsep ini pasti akan mengalami hambatan seperti masalah ketersediaan anggaran, sumber daya manusia, dan energi khususnya listrik untuk mendukung komputer. Namun demikian hal-hal tersebut relatif mudah diatasi dengan melaksanakan pentahapan kegiatan. Akan tetapi hambatan yang paling besar dalam konteks ini adalah adanya perilaku yang selalu menolak terhadap perubahan (resistance to change). Untuk mempermudah pengendalian dan bahan evaluasi sebaiknya penataan ini dilakukan dengan melaksanakan percontohan di salah satu lemdik (pilot project), dan setelah hasilnya tampak maka baru diterapkan ke semua lemdik di lingkungan TNI AD.

Diharapkan dengan melakukan penataan pendidikan menggunakan teknologi informasi ini akan meningkatkan baik jumlah perserta didik maupun kualitasnya. Dengan demikian akan terjadi peningkatan kualitas sumber daya manusia TNI AD.

* Budiman S. Pratomo

Analis Sistem Informasi

Disinfolahtad

Baca selengkapnya . . .

Senjata Perang Informasi

Oleh: Budiman S.P.

Militer sangat menyadari bahwa informasi dan teknologi informasi dapat digunakan sebagai senjata untuk memperoleh keunggulan. Memang cukup sulit untuk menggambarkan senjata yang digunakan untuk perang informasi di masa depan. Tetapi yang jelas pasti berbeda dari senjata yang saat ini digunakan oleh tentara pada umumnya di lapangan.

Kemungkinan perang dalam era gelombang ketiga adalah sejenis perang intelijen yang melibatkan para hackers. Seperti diketahui komputer ataupun jaringan telepon dirancang sebagai sarana untuk menyebarkan informasi. Informasi melalui jaringan ini dapat dimonitor. Para perwira dengan keahlian otomasi sistem (FA 53-menurut klasifikasi US Army) pasti mengetahui apa yang disebut program TEMPEST yang dirancang untuk memonitor emisi peralatan elektronik dari jarak jauh. Ini memberikan peringatan bahwa kita harus berhati-hati dengan monitoring peralatan elektronik yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak berhak. Bahkan kandungan informasinya pun dapat dimonitor tanpa sepengetahuan yang punya. Bila jaringan dapat dimonitor dari jarak jauh, maka dapat pula diakses dari jarak jauh. Monitoring ini dapat dilakukan oleh komputer yang dirancang khusus sebagai sistem senjata. Secara umum senjata tersebut dapat dibagi menjadi empat kategori yaitu : peranti lunak (software), peranti keras (hardware), sistem elektromagnet, dan sarana yang lain.

Peranti Lunak (Software)

Peranti lunak ini meliputi program yang khusus dirancang untuk mengumpulkan informasi, menghambat, mengubah, ataupun merusak sistem informasi lawan. Peranti lunak ini dapat menjadi senjata yang cukup bagus dalam perang informasi. Sebagai contoh, KNOWBOT yang dapat bertindak sebagai mata-mata. Yang lain adalah Virus, Worm, Trojan Horse, Logic Bomb, Trap Door, Demon, dan Sniffer.

KNOWBOT merupakan singkatan dari knowledge robot, yang merupakan program komputer yang dapat berpindah dari mesin satu ke mesin yang lain dan dapat menggandakan diri sendiri. KNOWBOT tersebut dapat berkomunikasi dengan program yang lain, dengan berbagai jaringan dan pengguna. KNOWBOT tersebut dapat diperintahkan untuk mencari komputer dan sumber informasi selaku perangkat lunak mata-mata. KNOWBOT dapat ditanam dalam komputer musuh, menggandakan dirinya sendiri dan ketika mendapatkan informasi yang sesuai dengan yang diinginkan, kemudian mengumpulkan informasi dan suatu waktu dapat diinterogasi untuk memperoleh informasi yang sesuai dengan keinginan. KNOWBOT bahkan dapat diprogram untuk menghapus dirinya sendiri untuk mencegah terbongkarnya aktifitas mata-mata yang dilakukannya. KNOWBOT juga dapat merubah dan menghancurkan data yang sangat penting bagi jaringan komando dan kendali.

Virus merupakan kumpulan kode yang dapat menggandakan dirinya sendiri dan merubah program. Virus ini bekerja bila komputer induknya menjalankan program, kemudian dapat merubah program tersebut. Virus ini setelah menginfeksi, menggandakan diri, menginfeksi program yang lain dan berkembang biak. Kita dapat menemukan virus hampir di semua lingkungan pekerjaan yang menggunakan komputer, sehingga tidak mengherankan bila program kecil ini digunakan dalam Perang Informasi. Akibat yang ditimbulkan oleh virus ini sangat luas mulai dari menimbulkan kerusakan data, mematikan komputer, sampai menghapus data atau bahkan menghapus file allocation table (FAT).

Worm merupakan program kecil yang mirip virus. Worm dapat menggandakan dirinya sendiri dan dapat berpindah dari satu komputer ke komputer lain lewat jaringan. Tidak seperti virus, worm biasanya tidak mengubah data atau program. Meskipun worm tidak merusak data, tetapi dapat menyebabkan macetnya komputer karena dapat memakan seluruh sumber daya (disk) dan menyebar ke seluruh jaringan. Contoh yang bagus dari worm adalah “Internet Worm” atau “Morris Worm” yang sempat melumpuhkan internet pada bulan November 1988. Worm tersebut adalah berupa 99 baris program yang ditulis oleh Robert Tappan Morris yang pada saat itu berusia 23 tahun dan sebagai siswa doktoral di Cornell University.

Trojan horse merupakan potongan kode yang disembunyikan dalam program dan mengerjakan fungsi yang merusak. Trojan horse yang pintar tidak akan meninggalkan jejak dan menimbulkan kerusakan yang tidak terdeteksi sehingga sulit untuk dilacak.

Logic Bomb merupakan jenis trojan horse yang dapat digunakan untuk melepaskan virus, worm ataupun yang lain. Logic bomb ini merupakan program bebas ataupun kode yang sengaja ditanam oleh para pemrogram ataupun pengembang sistem. Logic bomb biasanya tidak terlacak sebelum program tersebut diaktifkan. Ketika kondisi yang dipersyaratkan terpenuhi maka program akan diaktifkan. Logic bomb dapat mengubah, merusak ataupun menghambat fungsi sistem. Kondisi yang dipersyaratkan tersebut dapat berupa waktu tertentu, perintah tertentu, atau perintah yang dikirimkan dari jalur komando kendali. Logic bomb ini bisa dipasang pada saat konflik sedang terjadi dan diaktifkan bila kondisi perang telah dimulai.

Trap door, atau back door, adalah suatu mekanisme untuk mengerjakan fungsi tertentu yang dibangun pada suatu sistem oleh perancangnya. Fungsinya adalah untuk memberikan akses kepada perancangnya untuk masuk ke dalam sistem dengan memotong proteksi sistem. Trap door memungkinkan pengguna masuk dengan cepat ke dalam suatu sistem untuk membuat perubahan dalam waktu yang cepat di kemudian hari. Ini menjadi berresiko ketika orang yang salah menemukannya, sehingga akses yang tidak sah menjadi mudah dan sistem keamanan dapat dipotong. Bila ini terjadi maka dengan mudah informasi akan dapat diambil oleh pihak yang tidak berhak.

Demon merupakan suatu program yang ditanam dalam suatu sistem yang dapat merekam semua perintah yang dimasukkan kedalam sistem. Demon ini dapat diintrogasi dan akan melaporkan semua perintah yang telah dicatatnya. Dengan demikian demon dapat memberikan kode akses, kunci dan informasi yang mirip dalam sistem informasi.

Sniffer mirip dengan demon, tugasnya mencatat 128 bit pertama dari data ataupun program. Informasi logon dan password untuk masuk ke dalam sistem biasanya masuk dalam porsi ini. Karena sniffer hanya membaca informasi maka sangat sulit untuk dideteksi.

Peranti Keras (Hardware)

Seperti halnya menggunakan peranti lunak fungsi-fungsi yang diinginkan dapat pula dikerjakan melalui peranti keras. Perangkat keras ini dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu menggunakan Chip dan Nano Machines.

Chip yang terdiri dari jutaan sirkuit dapat dengan mudah dibuat oleh pabrik untuk mengerjakan sesuatu yang sama dengan peranti lunak. Fungsi chip ini adalah membawa peranti lunak yang dapat disambungkan kepada sistem komputer musuh. Peranti keras terdiri atas komputer dan komponen pelengkapnya (peripheral). Peranti keras merupakan sarana yang potensial untuk mengakses sistem informasi lawan. Seperti pernah dilaporkan oleh majalah US News & World Report, selama Operasi Badai Gurun, ada upaya untuk mengitroduksi virus kedalam sistem informasi Irak dengan menyelipkan chip kedalam printer buatan Perancis yang diselundupkan ke Irak. Chip tersebut mengandung virus yang dapat melumpuhkan sistem komputer yang menyebabkan pengguna sulit untuk membuka windows. Karena peralatan seperti printer sangat jarang untuk menjadi sarang virus, maka ini merupakan sarana yang bagus untuk memasukkan virus ke dalam sistem informasi lawan. Ini merupakan contoh yang bagus untuk menjelaskan bahwa peranti keras dapat dipakai untuk menyerang musuh sebagai penyebar peranti lunak dalam suatu sistem informasi .

Nano machines dapat menyebabkan bahaya yang serius terhadap sistem informasi. Tidak seperti virus, kita dapat menggunakan ini untuk menyerang sistem informasi lawan terutama perangkat kerasnya. Nano machines merupakan robot kecil berukuran lebih kecil dari semut yang dapat menyebar ke semua sistem komputer lawan. Mesin ini sangat kecil sehingga dapat merambat lewat dinding dan masuk lewat lubang angin untuk menemukan komputer. Karena kecilnya ini ia dapat masuk melalui slot dan dapat mematikan atau merusak komputer.

Sistem Elektromagnet.

Ssitem elektromagnet dapat digunakan untuk mengganggu ataupun merusak jalur komando dan kendali musuh. Yang termasuk dalam upaya ini adalah Meaconing, Intrusion, Jamming and Interference (MIJI). Meaconing merupakan upaya untuk mengacaukan sarana navigasi. Intrusion yang merupakan upaya untuk menembus sistem komunikasi lawan sehingga membingungkan komunikasi dan dapat memancarkan perintah balik (counter-commands). Jamming dan interference merupakan upaya untuk mencegah musuh dapat menggunakan sistem elektomagnetik.

HERF singkatan dari High Energy Radio Frequency. Senapan HERF memancarkan sinyal radio pada sasaran peralatan elektronik dan membuatnya tidak berfungsi / rusak. Kerusakannya dapat ringan, sedang atau bahkan berat. Mekanisme penggunaan senapan HERF cukup berhasil. Sebenarnya senapan HERF adalah pemancar radio yang dapat mengirimkan sinyal yang sangat kuat kepada sasarannya. Sasarannya adalah sasaran diam seperti komputer mainframe dan jaringan komputer atau bahkan sasaran bergerak seperti pesawat atau mobil yang dilengkapi dengan peralatan elektronik.

EMP singkatan dari electromagnetic pulse. Sumbernya dapat berasal dari nuklir ataupun non nuklir. Peralatan ini dapat digunakan oleh pasukan khusus yang dapat menyusup daerah musuh dan dapat meledakkan peralatan komputer. EMP bomb dilaporkan digunakan melawan Irak pada Perang Teluk.

Sarana Lain.

Perang informasi tidak terbatas pada sistem elektronik saja. Kombinasi antara senjata biologi dengan elektonik dapat digunakan untuk keperluan tersebut. Sebagai contoh, petugas Pentagon pernah menyatakan bahwa ada mikroba tertentu yang dapat dibiakkan untuk menghancurkan bahan elektronik dan material lain dalam komputer.

Bom yang dibimbing oleh sinar laser dapat dijatuhkan pada kotak kabel komunikasi akan memberikan efek yang sangat nyata. Sehingga dapat melemahkan komando dan kendali lawan. Pasukan khusus dapat merusak titik titik kritis atau dapat mengangkap personel yang berkaitan dengan fungsi perang informasi. Bahkan divisi infantri bermotor dapat merusak titik kritis dalam jaringan komunikasi.

Dalam tangan yang terlatih sarana sarana tersebut dapat digunakan secara bersama sama atau sendiri untuk mencapai tujuan. Secara teoritis dengan memanfaatkan sarana-sarana tersebut dapat mengakhiri perang sebelum tembakan pertama ditembakkan.

BUDIMAN S.P.

Analis Sistem Informasi

Alumnus University of Western Sydney, Australia

Baca selengkapnya . . .

Perang Informasi dan Peran TNI

Oleh: Budiman S.P.

Keterampilan terhebat dalam perang adalah menaklukkan musuh tanpa harus bertempur [ Sun Tzu]

Perang dalam era demokrasi dan pengutamaan hak asasi manusia dewasa ini dirasakan sangat kejam. Dilatar-belakangi oleh hal tersebut maka ada suatu konsep perang tanpa korban (victimless war) yang secara etis lebih bisa diterima. Perang tanpa korban ini bisa dilakukan dengan menggunakan senjata yang khusus dikembangkan untuk keperluan tersebut seperti zat yang menyebabkan orang tidur (calmative agent), zat yang membuat licin permukaan (anti traction) seperti Teflon dan pelumas, zat peretak logam (liquid metal embrittlement), atau perekat yang sangat kuat yang dapat menghambat pergerakan pasukan [Toffler, 1993], disamping itu dapat pula dilakukan melalui sarana lain yang berupa informasi. Dalam suatu perang, semakin banyak informasi potensial yang diperoleh akan mengurangi "kabut perang" sehingga barang siapa menguasai informasi potensial akan memenangkan pertempuran.

Ruang lingkup perang informasi sangat luas mulai dari penguasaan komando dan kendali sampai dengan apa yang disebut cyberwar, termasuk menggunakan sarana-sarana teknologi informasi seperti virus, worm, gelombang elektromagnet, mengacak-acak sistem informasi lawan, memberikan informasi palsu, dan merusak instalasi sistem informasi lawan. Dalam perang konvensional, bila kita mempunyai seratus tank sedangkan musuh hanya mempunyai sepuluh tank maka kita dapat mengatakan kita mempunyai keunggulan sepuluh berbanding satu, tetapi tidak demikian dalam perang informasi. Suatu prinsip dalam perang informasi adalah walaupun kita mempunyai keunggulan informasi tetapi tidak secara otomatis memenangkan perang. Hal ini disebabkan karena informasi yang benar dan strategis tidak akan pernah usang, sehingga walaupun ini dianggap kecil tetapi akan memberikan efek yang menghancurkan. Sebagai contoh adalah masalah-masalah yang dihadapi bangsa Indonesia dan TNI khususnya pada saat ini. TNI dan pemerintah selama masa Orde Baru sebenarnya mempunyai banyak sekali kesempatan untuk memberikan informasi yang strategis dengan jujur, ilmiah, dan terbuka dalam kaitannya dengan situasi yang sedang terjadi dalam masyarakat. Tetapi sayangnya hal ini tidak banyak dilakukan, dan yang sering dilakukan justru memonopoli informasi dengan membatasi informasi dan mengintervensi media massa untuk tidak memberitakan fakta kepada masyarakat. Bila dibandingkan dengan informasi yang diberikan pada era reformasi ini, ternyata informasi yang diberikan selama lebih dari tiga puluh tahun dapat dikalahkan oleh informasi yang diberikan secara relatif jujur, ilmiah, dan terbuka dalam waktu beberapa bulan.

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang perang informasi dalam tulisan di bawah ini akan diberikan gambaran secara umum tentang perang informasi, sejarah perang informasi dan bagaimana sebaiknya TNI menyikapi tentang perang informasi sebagai salah satu bidang yang menjadi tugas pokoknya.

Perang Informasi.

 Perang dalam konteks ini berasal dari kata Warfare. "Warfare is the set of all lethal and nonlethal activities undertaken to subdue the hostile will of an adversary or enemy." Perang dalam pengertian ini tidak sama artinya dengan perang yang biasa kita dengar, karena perang ini tidak memerlukan pernyataan keadaan perang terlebih dahulu. Sehingga tujuan dari perang ini tidaklah harus membunuh musuh. Dengan demikian tujuan utamanya adalah membuat musuh menyerah, sesuai dengan ajaran Sun Tzu yang menyatakan bahwa ketrampilan tertinggi dalam perang yaitu dapat menaklukkan musuh tanpa harus bertempur.

Informasi diartikan sebagai pesan yang mempunyai arti atau isi. Informasi berkaitan dengan pengambilan keputusan sehingga tidak terlepas dari sistem informasi dalam suatu organisasi.

Setelah digabung menjadi Perang Informasi maka terminologi ini mempunyai pengertian yang sangat luas karena dapat diterapkan dalam bidang militer ataupun sipil. Pada dasarnya perang informasi merupakan semua upaya dan kegiatan yang ditujukan untuk melawan semua bagian dari sistem pengetahuan dan sistem informasi lawan. Untuk lebih memperoleh kejelasan dari pengertian perang informasi berikut ini pendapat dari beberapa pihak yang menekuni bidang ini.

US Army mendefinisikan perang informasi sebagai tindakan-tindakan yang diambil untuk mencapai superioritas informasi dengan mempengaruhi sistem informasi lawan dan melindungi sistem informasi sendiri. Sementara Dr. Martin Libicki dari National Defense University tidak mendefinisikan secara tegas apa itu perang informasi, tetapi dia menyatakan ada tujuh bentuk perang informasi.Tujuh bentuk perang informasi tersebut adalah:

Pertama, perang untuk menguasai komando dan kendali, yang melibatkan kegiatan untuk mengganggu rantai komando dan pengendalian. Dalam prakteknya di lapangan melibatkan tindakan perusakan secara fisik terhadap saluran komunikasi.

Kedua, perang berbasiskan intelijen, yang merupakan bentuk tradisional dari perang informasi. Hal ini melibatkan kegiatan pengumpulan dan penyadapan informasi dari fihak musuh. Ini sangat berguna bila informasi yang diperoleh dapat digunakan secara langsung dalam operasi.

Ketiga, perang elektronika, yang menggunakan peralatan berteknologi tinggi untuk operasi militer yang berkaitan dengan keunggulan elektromagnetik. Ini meliputi kegiatan radioelektronik dan kriptografi.

Keempat, perang psikologi / urat syaraf, yang melibatkan aspek psikologi dalam pelaksanaannya. Perang ini menggunakan informasi untuk mempengaruhi perasaan manusia baik para komandan pasukan ataupun rakyat biasa. Sebagai contoh, penayangan adegan pengarakan mayat serdadu Amerika di Somalia terbukti telah sukses mempengaruhi publik Amerika untuk menghentikan keterlibatan US Army secara lebih jauh dalam operasi di Somalia.

Kelima, perang hacker, yang berkaitan dengan penyerangan pada jaringan komputer. Perang ini bertujuan menyerang kelemahan pada pengamanan sistem informasi. Tujuan dari perang ini adalah mengacau sistem informasi musuh dengan menyebarkan informasi palsu ataupun mengambil data yang bersifat rahasia.

Keenam, perang informasi ekonomi, yang dapat mengambil dua bentuk utama yaitu penguasaan informasi dan blokade informasi. Dalam perang ini termasuk mengacaukan bursa saham, penyerangan terhadap nomor rekening di bank, dan mengacaukan nilai mata uang

Ketujuh, operasi yang disebut cyberwar, yang merupakan bentuk perang yang sekarang ini masih menjadi pertanyaan apakah itu realistis atau tidak. Ini merupakan bagian fiksi dari kemajuan teknologi informasi. Seperti digambarkan oleh Douglas Waller Washington dalam majalah Time 21 Agustus 1995 dibawah judul Onward Cyber Soldier, yang menggambarkan topik menarik mengenai bagaimana tentara di masa depan berperang.

Sedangkan Schwartau dalam Information Warfare, Chaos on the Electronic Superhighway, membagi tiga kelas perang informasi yaitu.

Pertama, Perang Informasi Personal, yang mencakup serangan terhadap privasi, termasuk membocorkan rahasia perorangan dari suatu database. Hal ini tidak merupakan bahaya yang potensial, tetapi bila menyangkut orang tertentu dapat juga berkaitan dengan kelas kedua atau ketiga.

Kedua, Perang Informasi Korporat, yang lebih mencerminkan kompetisi antara perusahaan di seluruh dunia meliputi kegiatan pencarian dan penyebaran informasi untuk kepentingan suatu fihak.

Ketiga, Perang Informasi Global, yang mencakup bidang industri ataupun negara. Tujuan dari perang ini tidak hanya mencari informasi rahasia dari data penelitian untuk keperluan sendiri, tetapi untuk mencapai kemenangan dengan menghancurkan lawannya.

Sejarah Perang Informasi

Alvin Toffler dalam bukunya yang berjudul Third Wave, menggunakan perspektif sejarah untuk mendefinisikan masyarakat. Dia menyatakan bahwa masyarakat berkembang dari masyarakat agraris (gelombang pertama), masyarakat industri (gelombang kedua), dan kemudian ke masyarakat gelombang ketiga. Dalam bukunya War and Anti War yang diterbitkan tahun 1993 Alvin dan Heidi Toffler menjelaskan mengenai sejarah perang menggunakan pendekatan yang sama dengan pendekatan yang digunakan dalam the Third Wave.

Gelombang Pertama, Revolusi pertanian mendorong terjadinya perubahan yang sangat pesat dalam kebudayaan manusia yang mendorong pada terbentuknya masyarakat yang kita kenal dewasa ini. Tanah pertanian menghasilkan produk bernilai ekonomi yang menjadi salah satu faktor penyebab perang. Dengan demikian perang pada saat itu bertujuan untuk menguasai tanah dan memperluas hegemoni. Sebagai akibat dari ciri perang dalam gelombang ini maka tentara selalu berada di lapangan. Pada saat ini pula tentara kurang terorganisasi dan tidak menggunakan senjata yang memadahi. Keahlian mereka dinilai dari keberanian mereka bertempur sebagai kesatria.

Gelombang Kedua, Revolusi Industri merubah cara bagaimana tentara bertempur. Dengan ditemukannya amunisi dan senjata pemusnah massal maka berkembang perang dengan tujuan menghancurkan sasaran untuk tujuan memenangkan pertempuran. Dalam gelombang ini mulailah ditetapkan standarisasi peralatan, latihan, organisasi dan doktrin dalam tubuh angkatan perang.

Gelombang Ketiga, Pada akhir tahun 70-an, dengan berkembang pesatnya teknologi informasi, masyarakat berkembang dari masyarakat industri ke masyarakat komunikasi. Dengan demikian tujuan perang tidak lagi menghancurkan sasaran yang sangat luas tetapi hanya ditujukan pada obyek strategis yang berupa jaringan komunikasi atau informasi. Sebagai contoh, pada saat Perang Teluk tentara Amerika tidak lagi menghancurkan target secara membabi buta tetapi lebih ditekankan pada jaringan komunikasi dan pengendalian untuk mencegah informasi mengalir dalam rantai komando. Dalam tahap ini penggunaan teknologi informasi yang berupa komputer semakin banyak, terbukti dalam perang Teluk digunakan lebih dari 3000 buah komputer yang dihubungkan dengan pusat komputer di Amerika Serikat. Dengan demikian dalam tahap ini informasi menjadi faktor yang sangat penting dalam memenangkan pertempuran.

Ditinjau dari sudut pandang militer, prinsip perang yang diajarkan oleh Clausewitz dengan teori center of gravity adalah barang siapa menguasai medan yang strategis dialah yang memenangkan perang. Berdasarkan teori inilah maka perang berkembang dari waktu ke waktu. Pada saat permulaan dalam lingkup yang sempit, barang siapa menguasai medan strategis maka dialah yang dapat menguasai suatu wilayah. Dalam tahap yang selanjutnya dalam skala luas, barang siapa menguasai daerah Eropa dan Balkan dialah yang dapat menguasai dunia, inilah yang sampai sekarang menyebabkan orang selalu menaruh perhatian besar terhadap apa yang terjadi di daerah itu. Dengan kemajuan teknologi kelautan maka barang siapa menguasai lautan dialah yang menguasai dunia. Hal ini dibuktikan oleh Inggris dengan armada Angkatan Lautnya yang kuat dengan negara persemakmurannya. Teknologi kedirgantaraan berkembang, maka barang siapa menguasai udara dialah yang menguasai dunia. Ini terbukti dengan perlombaan yang seru diantara negara adi daya untuk memajukan Angkatan Udaranya, sehingga doktrin perangnya pun menjadi berbeda yaitu dengan mengedepankan serangan udara strategis. Teknologi kedirgantaraan berkembang semakin pesat, maka barang siapa menguasai udara dengan ketinggian 50.000 mil atau lebih maka dialah yang akan menguasai dunia, terlebih lagi bila dapat menguasai lunar libration points atau yang lebih dikenal dengan L4 dan L5 yang merupakan tempat-tempat dimana gaya gravitasi bulan dan bumi sama besarnya. Inilah yang mendorong Amerika untuk memperkenalkan konsep Perang Bintang pada jaman presiden Ronald Reagan. Sejalan dengan perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat maka barang siapa menguasai informasi dialah yang menguasai dunia. Inilah yang mendorong negara adi daya untuk berlomba-lomba memasuki medan peperangan yang baru yaitu perang informasi terutama dengan memanfaatkan media masa dan jaringan informasi global. Hal ini dapat dibuktikan dengan kejatuhan pemerintahan seperti Haiti, Uni Soviet, dan barangkali Indonesia, yang tidak terlepas dari perang informasi global tersebut.

Peran TNI.

Dalam versi militer tujuan perang termasuk perang informasi adalah membuat lawan menyerah. Lawan terpaksa menyerah apabila lawan sudah tidak lagi mempunyai kendali, mengalami demoralisasi, tidak punya daya juang lagi, atau meyakini dengan menyerah akan dapat kemenangan di lain waktu. Dengan demikian yang harus dilakukan adalah membuat lawan dalam salah satu dari kondisi-kondisi tersebut.

Dengan asumsi bahwa tidak akan ada perang / serangan secara fisik ke Indonesia, maka medan perang yang akan dihadapi oleh TNI adalah perang informasi yang tidak hanya mencakup wilayah di dalam negeri tetapi juga harus berhadapan dengan berbagai pihak di luar negeri. Di dalam negeri, dalam konteks ini TNI tidak menganggap bahwa komponen-komponen yang ada dalam masyarakat kita sebagai musuh yang harus ditaklukkan sehingga menyerah, tetapi di dalam masyarakat pasti ada unsur-unsur yang selalu mempunyai maksud yang bertentangan dengan cita-cita luhur masyarakat Indonesia. Sedangkan di luar negeri kita berhadapan dengan fihak-pihak yang sangat ahli dan sangat kuat dalam bidang perang informasi ini. TNI sebagai bagian integral dari bangsa Indonesia, mau tidak mau harus melibatkan diri secara aktif dalam kancah perang informasi ini. Terlebih lagi setelah terbukti adanya upaya-upaya dari kelompok masyarakat untuk melakukan disorganisasi secara sistematis dengan memanfaatkan konsep perang informasi, seperti yang diisyaratkan oleh Jenderal Wiranto pada peringatan Hari Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1999.

Untuk menghadapi perang informasi global, TNI harus masuk lebih serius dalam jaringan informasi global yaitu internet. Dengan demikian ini merupakan tantangan bagi TNI untuk siap menguasai teknologi internet dengan segala resikonya, seperti pengalaman pada suatu waktu jaringan ABRI-net dan Departemen luar negeri dijebol oleh para hacker dan disisipi informasi yang sesuai dengan selera pihak-pihak yang berada di belakang para hacker.

Suatu prinsip dalam perang informasi adalah walaupun kita mempunyai banyak informasi tetapi tidak praktis memenangkan perang. Hal ini disebabkan karena informasi yang benar dan strategis tidak pernah usang, sehingga walaupun ini dianggap kecil tetapi akan memberikan efek yang menghancurkan. Dengan demikian yang sebaiknya dilakukan TNI adalah menyajikan informasi yang benar dan strategis secara jujur, ilmiah, dan terbuka. Perang informasi klasik seperti yang dilakukan oleh militer sebagai bagian dari taktiknya, membenarkan penipuan data dan informasi sebagai upaya penyesatan, sedangkan dunia internet yang telah dimasuki TNI adalah bagian dari dunia akademik yang mengutamakan kejujuran ilmiah tidak membenarkan hal tersebut. Dalam konteks ini, maka bila perlu data dan informasi yang berkaitan dengan kebijakan TNI / kemiliteran bisa disampaikan sesuai dengan batas-batas klasifikasi yang dapat diterima, sehingga masyarakat akan dapat mengerti dengan jelas apa yang menjadi kebijakan TNI. Pemberian informasi tentang apa yang terjadi dalam tubuh TNI, walaupun secara terbatas adalah bagian dari pertanggung-jawaban moral TNI kepada rakyatnya.

Dengan berlandaskan pada pola pikir dunia akademik, TNI bisa menyediakan kontra informasi yang tegas, faktual, dan sekaligus memenuhi rasa haus akan informasi para pembacanya. Termasuk dalam hal ini TNI siap mengakui jika melakukan kesalahan yang telah diperbuat, tentunya harus disertai dengan pertimbangan yang sangat cermat. Bila TNI dapat menyajikan informasi berdasarkan pada prinsip tersebut maka akan membawa implikasi yang lebih baik bagi masa depan jaringan informasi tentang Indonesia, yang pada gilirannya akan memperkokoh ketahanan nasional bangsa Indonesia. Dari kacamata militer, memang informasi yang dicari-cari pembaca yang kritis umumnya dikategorikan konfidensial. Sebagai contoh, mengenai mutasi para perwira tinggi. Para pembaca jurnal di internet sudah bisa membaca informasi mutasi, terutama perwira tingginya, lengkap dengan latar belakangnya, dalam waktu relatif singkat. Informasi semacam ini justru tidak bisa kita dapatkan dari home page TNI, sehingga jangan kaget kalau pembaca akan lebih percaya kepada sumber informasi yang lain yang dianggap memenuhi rasa ingin tahu pembaca, walaupun kebenaran informasinya juga tidak selalu benar. Sumber informasi inilah yang secara dominan membentuk opini publik. Sebagai perbandingan, dalam home page US Army, kita bisa dengan terbuka mengetahui siapa saja perwira yang akan naik pangkat dalam tahun fiskal yang akan datang, juga tentang pendidikan para perwiranya. Informasi semacam ini di tubuh TNI merupakan rahasia bahkan untuk para anggotanya sekalipun. Dengan transparansi semacam ini maka para pembaca akan betul-betul memperoleh informasi yang tepat dari fihak yang tepat.

Dengan demikian bila TNI tidak merubah kriteria dan kategori informasinya di homepagenya maka akan ditinggalkan para pembacanya. Barangkali homepage TNI cukup banyak pengunjungnya, tetapi jumlah pengunjung sebuah homepage bukan merupakan indikator intensitas kunjungan mereka. Pembaca kritis tetap akan lebih memilih homepage seperti Apakabar, dan homepage lainnya yang menyediakan informasi yang lebih baik atau bahkan memilih Newsgroup dan jalur-jalur E-mail yang lebih interaktif. Seperti diketahui para netters (istilah untuk pengguna internet) kebanyakan bukanlah orang awam, sehingga walaupun ini merupakan bagian kecil masyarakat tetapi pengaruhnya sangat besar dalam membentuk opini publik, sehingga untuk media ini haruslah digarap dengan lebih serius dan profesional.

Untuk keberhasilannya sudah saatnya TNI bersikap lebih profesional dalam bidang pembinaan personel, yaitu penempatan personel yang lebih ditekankan pada keahlian dari pada tingkat jabatan atau pangkat. Disamping itu TNI harus kembali pada citranya yaitu sebagai prajurit profesional dan bhayangkari negara yang lahir dari rakyat dan berjuang untuk rakyat dengan selalu membela kejujuran, kebenaran, dan keadilan sesuai yang diamanatkan dalam Sapta Marga. Dan yang lebih penting lagi adalah dapat memimpin dengan menjadi contoh dan tidak sekedar memberi contoh, sehingga akan terwujud satunya kata dengan perbuatan. Upaya-upaya ini bersama dengan keseriusan terlibat dalam perang informasi akan dapat memulihkan citra TNI yang saat ini sedang terpuruk. Semoga TNI segera berbenah diri untuk mengawal Republik Indonesia yang demokratis.

BUDIMAN S.P.

Analis Sistem Informasi

Alumnus University of Western Sydney, Australia

Baca selengkapnya . . .

31 Januari 2014

Dikreg Seskoad Virtual



Setiap tahun seribuan lebih Pamen TNI AD berbondong dan bergumul mengikuti Seleksi Seskoad, mereka berupaya mati-matian bahkan menggunakan segala macam cara agar lulus seleksi dan lolos mengikuti Pendidikan Seskoad. Beberapa faktor yang kelihatannya menjadi penyebab, diantaranya: Alokasi pendidikan yang tersedia bervariasi antara 200 – 250 siswa, sehingga setiap tahun selalu terjadi penumpukan peserta seleksi karena diperbolehkan mengikuti lebih dari 1 x seleksi (biasanya diberikan kesempatan 3-4 kali, tergantung kebijakan seleksi pada tahun tersebut). Faktor lainnya dan mungkin menjadi penyebab utama membludaknya peserta seleksi Seskoad adalah akibat Pendidikan Seskoad menjadi  semacam “ Garis Awal “ kelancaran karier para perwira di Angkatan Darat. Tanpa ijazah Seskoad, jangan harap bisa menduduki jabatan bergengsi seperti Danyon, Dandim, Danbrig, Danrem apalagi meraih bintang dipundak  dan inilah orientasi yang memenuhi benak banyak perwira selama ini mengapa mereka mati-matian harus mengikuti pendidikan Seskoad. Sementara substansi pendidikan Seskoad untuk meningkatkan kemampuan kognitif para perwira dari level Applying menuju level Analyzing dan kemampuan afektif dari level Responding menuju level Valuing, termasuk kemampuan Psycho-motorik dalam hal berpikir, berbicara dan menulis menuju level Naturalization nampaknya bukan menjadi alasan terpenting, bahkan saya khawatir sebagian besar peserta seleksi justru tidak mengerti hal ini. Sehingga tidaklah mengherankan bila banyak siswa Seskoad yang menganggap pendidikan Seskoad lebih sebagai ajang membangun dan meluaskan jaringan pertemanan dibandingkan meningkatkan kemampuan diri baik kemampuan kognitif, afektif maupun psycho-motorik. Jadi janganlah kaget apabila ada lulusan Seskoad mengalami kesulitan melakukan analisa secara benar ataupun membuat apa yang mereka kerjakan berorientasi/menjunjung nilai, ataupun dalam menulis masih mengandalkan contoh (Imitation – yang merupakan level terendah aspek Psycho-motorik), dalam berpikir belum bisa berpikir secara integral dan holistik, ketika berbicara tidak disertai argumen yang didukung data dan fakta yang memadai.

Pimpinan Angkatan Darat baru-baru ini mencanangkan “Transformasi Angkatan Darat “, walaupun banyak yang masih kebingungan (terutama yang bertugas di daerah) berkaitan dengan program Transformasi ini. Pimpinan Angkatan Darat tentunya melalui pengamatan holistik dengan pertimbangan yang matang dan terukur memandang perlu Angkatan Darat harus melakukan Transformasi. Kalau saya tidak salah, Angkatan Bersenjata Singapura juga telah sukses melakukan Transformasi dari Generasi Ketiga menjadi Generasi Keempat sesuai dengan parameter yang mereka telah tentukan untuk tiap Generasi. Dalam tulisan ini, saya tidak hendak membahas tentang transformasi secara spesifik, namun saya sebagai perwira yang telah memilih jalan hidup sebagai prajurit TNI AD, ingin turut berperan aktif dalam program ini dengan menawarkan Dikreg Seskoad Virtual sebagai bagian dari program Transformasi Angkatan Darat.
Sebagaimana kita ketahui, kehidupan manusia termasuk kita sebagai tentara sangat dipengaruhi oleh dimensi ruang dan dimensi waktu. Bila kita kombinasikan kedua dimensi tersebut, maka seluruh aktifitas kita dapat dikelompokkan menjadi 4 kelompok/kwadran, yaitu: Ruang dan Waktu sama (Kwadran I), contohnya: mengajar di kelas, ngobrol dengan teman di warung kopi; Ruang beda Waktu sama (Kwadran II), contohnya: Menelepon istri, Teleconfrence Panglima dengan para Danremnya; Ruang sama Waktu beda (Kwadran III), contohnya: tulis pesan di papan pengumuman; dan Ruang dan Waktu beda (Kwadran IV), contohnya: membuat tulisan bersama secara online collaboration, online learning. Berkenaan dengan masalah waktu, saya ingin menyampaikan pandangan salah satu orang paling kaya dan paling terkenal di kolong langit ini, yaitu Bill Gates. Dia mengatakan kira-kira begini: era tahun 80 an merupakan era kualitas, era tahun 90 an merupakan era reengineering, dan era tahun 2000 merupakan era kecepatan. Tentunya ini tidak dapat dilepaskan dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi komputer yang teramat pesat semenjak tahun 90 an terutama ditahun 2000 an, jadi tidaklah mengherankan bila sebuah kejadian dapat langsung menyebar beritanya ke seluruh penjuru dunia hanya dalam hitungan detik saja. Berkenaan dengan dimensi ruang dan waktu serta era kecepatan yang digambarkan diatas, agar Angkatan Darat tidak ditinggalkan oleh zaman maka harus meningkatkan aktifitas di kwadran IV (Ruang beda Waktu beda), yang salah satunya adalah model yang hendak saya tawarkan: Dikreg Seskoad Virtual.
Pemikiran tentang Dikreg Seskoad Virtual ini telah terlintas dibenak saya sejak lama, tepatnya sejak tahun 2006 saat saya dipercaya untuk menjadi Dosen di Seskoad. Namun saya pikir saat itu, pasti akan mendapat resistansi bila saya sampaikan ke lembaga. Kemudian, pada saat mengikuti kuliah Hubungan Internasional di Unpad  sekitar tahun 2008, saya pernah menyarankan kepada Ketua Jurusan agar Unpad juga membuka kelas online/virtual sehingga interaksi antara Dosen dan Mahasiswa dapat dilakukan setiap saat tanpa harus terikat ruang dan waktu, sehingga mahasiswa ekstensi semacam saya bisa lebih intens lagi dalam berinteraksi. Ide ini disambut dengan baik, namun sayangnya Universitas belum bisa merespons karena berbagai hal termasuk kemampuan Dosen yang belum merata dalam penguasaan teknologi komputer dan IT, sama halnya dengan kondisi di Seskoad. Pada tahun 2010, Angkatan Darat kembali menerapkan sistem Korespondensi dan saya pikir merupakan kesempatan yang sangat tepat untuk menyampaikan ide pendidikan virtual yang telah lama tersimpan dibenak saya. Dalam sebuah kesempatan, saya menyampaikan kepada Danseskoad (Mayjen Bambang Suranto) dan beliau menyambut sangat baik ide tersebut, demikian halnya dengan Wadanseskoad (Brigjen Husein Malik). Saya sudah menyampaikan bahwa tidak perlu harus menyiapkan sistemnya, cukup menggunakan Blog dan Facebook dulu yang bisa dipelajari dan dilatihkan secara cepat kepada para Dosen untuk langkah percobaan. Namun dengan berat hati Danseskoad belum bisa memberi keputusan, akhirnya saya meminta ijin Danseskoad untuk melakukan uji coba metode tersebut dalam materi yang diberikan kepada saya, Pengantar Filsafat dan beliau mengijinkan. Sebagaimana yang pernah saya sampaikan kepada Danseskoad bahwa persoalan utama metode korespondensi adalah interaksi antara Dosen dan Siswa, dan prediksi saya memang terbukti. Sebagian dosen berinteraksi melalui telepon hanya saat menyampaikan berita remedial/her kepada Siswa, ada juga yang berinteraksi menggunakan email. Interaksi yang sangat-sangat minim untuk level pendidikan setingkat Seskoad, karena interaksi sangat-sangat terbatas dan itupun baru interaksi 2 arah antara Dosen-Siswa, belum bisa 3 arah yaitu Dosen-Siswa-Siswa.
Agar tidak keliru memahami, Dikreg Seskoad Virtual merupakan bagian dari Dikreg Seskoad secara keseluruhan. Untuk kegiatan Aplikasi Taktik dan Dinas Staf, Geladi Posko, PKB Juang, Survey Sosial, Seminar dilaksanakan secara on-campus, sementara materi lainnya dilaksanakan secara off-campus (Virtual). Dengan demikian dalam kegiatan off-campus tetap dilaksanakan sebagaimana biasa kegiatan yang dilaksanakan secara on-campus, seperti: penyampaian materi dari dosen, tanya-jawab, pembuatan tugas dan kegiatan diskusi. Kegiatan on-campus dilaksanakan antara 3 s/d 4 bulan dan kegiatan off-campus dilaksanakan 6 s/d 7 bulan, dengan demikian Dikreg Seskoad dapat diselenggarakan 2 s/d 3 gelombang dalam satu tahun dengan siswa pergelombang lebih kurang 200 orang. Hal ini tentunya akan semakin meningkatkan kualitas perwira menengah TNI AD karena semakin banyak yang mengenyam pendidikan Seskoad. Dihadapkan dengan Pembinaan Karier Perwira, jangan lagi persyaratannya telah memiliki ijazah Seskoad, tetapi ijazah Seskoad dengan IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) yang dipersyaratkan. Misal: untuk menjabat Danyon, IPK mimimalnya 3; untuk menjabat Danbrig, IPK minimal 3,2 dengan demikian tidak semua perwira Satpur/Banpur bisa menjadi Danyon, dan tidak setiap Danyon bisa menjadi Danbrig, jadi secara alamiah organisasi sudah bisa melakukan seleksi karier. Angkatan Darat sesuai kompetensinya akan menentukan kebijakan bersifat strategis tentang penerapannya, tinggal mengatur saja. Akan banyak keuntungan dengan sistem semacam ini, antara lain: tidak terjadi lagi pengkotak-kotakan antar lulusan Seskoad dan bukan lulusan Seskoad yang justru membuat organisasi menjauh dari visi solid nya, pembinaan karier Perwira lebih mengedepankan kompetensi dan keadilan (meritokrasi).
Dengan kemajuan teknologi saat ini, paradigma pendidikan sebenarnya telah bergeser dari Lecturer Oriented menjadi Student Oriented, artinya peran Guru/Dosen lebih sebagai fasilitator dan bukan lagi sumber ilmu. Sebagai fasilitator tugas Dosen sebenarnya lebih berat, karena Siswa memperoleh ilmu dari berbagai sumber dan semua itu harus bisa dirangkul oleh Dosen sebagai fasilitator. Agar Dosen tidak keblinger sendiri, interaksi tidak lagi hanya antara Dosen-Siswa saja, melainkan Dosen-Siswa-Siswa. Berikut ini saya coba gambarkan interaksi Dosen-Siswa-Siswa, meliputi: Penyampaian Materi, Tanya Jawab, Penugasan Akademik dan Diskusi yang dilaksanakan secara off-campus. Dosen menyampaikan materi sebagaimana yang biasa diberikan di kelas besar Seskoad, ada dosennya… ada slide nya .. (sumber: www.videoaidedinstruction.com) …

Video Pelajaran


Siswa bisa mengulang-ulang materi yang disampaikan sesuai kemauan siswa, tanpa harus terikat ruang dan waktu. Kalau dilaksanakan secara on-campus, dosen hanya menyampaikan materi sekali saja, sementara secara off-campus dengan teknologi virtual materi bisa diputar berulang kali sampai siswa mengerti … bisa sambil tiduran … enak kan? Dibanding kalau di kelas besar sering menerima materinya sampai ketiduran (just joke). Untuk sesi tanya jawab dan penugasan akademik, Dosen menyampaikan melalui Blog (http://seskoad2seskoad.blogspot.com)sebagaimana contoh berikut  yang saya lakukan
Arahan 1 Dosen Mekanisme Pengerjaan Soal



saat korespondensi Dikreg 48. Dosen bisa memberikan penjelasan bila ada siswa yang belum paham, dan enaknya seluruh siswa juga bisa sekaligus menerima penjelasan, coba bayangkan bila interaksi semacam ini hanya mengandalkan telepon … berapa biaya untuk pulsanya, berapa banyak waktu terbuang dan bisa jadi banyak dosen akan menderita kanker otak akibat terlalu sering menerima radiasi gelombang elektromagnet dari handphone. Pertanyaan siswa juga bisa diketahui siswa lainnya, jadi tidak perlu dosen berulang menjelaskan hal yang sama ataupun siswa berulang menanyakan pertanyaan yang sama. Blog juga bisa digunakan oleh Dosen untuk memberikan penugasan akademik, dan melakukan interaksi berkaitan dengan penugasan seandainya siswa menghendaki penjelasan. Selanjutnya untuk diskusi, bila menghendaki ruang diskusi secara terbatas/rahasia yang hanya diikuti oleh peserta tertentu saja bisa menggunakan fasilitas group yang ada di Facebook. Berikut ini contoh ruang diskusi Seskoad Korespondensi yang saya gunakan pada Dikreg 48 .. ( https://www.facebook.com/groups/255770005492/?fref=ts ) …
 Diskusi Persoalan No.3



 saat itu bertepatan Dosennya Prof. Juharya sedang tugas ke Afrika Selatan, lalu Prof. Juharya memberikan 4 persoalan kepada para siswa. Agar para siswa lebih mengerti lagi, saya kembangkan dengan metode: Jawab – Dukung – Kritik, sehingga setiap persoalan siswa menjawab persoalan, kemudian mendukung jawaban salah satu siswa dan mengkritik jawaban salah satu siswa. Hasilnya sangat luar biasa, yang tadinya dalam setiap konseling terdahulu minta materi Pengantar Filsafat dihapuskan saja karena tidak ada manfaatnya, menjadi minta ditambah jam karena sangat besar manfaatnya terutama bagi pemimpin. Berkenaan dengan tugas akhir pendidikan, juga dapat dikerjakan secara off-campus dan pengujian secara on-campuss (model kombinasi). Nanti para Dosen bisa menggunakan fasilitas online collaboration yang aga di Google ataupun lainnya untuk pembimbingan. Dan sebaiknya, karya siswa Seskoad jangan lagi seputar Upaya atau Optimalisasi, tetapi sudah menjurus kegiatan riset dalam rangka problem solving.
Kira-kira demikian gambaran secara singkat tentang Dikreg Seskoad Virtual, mudah mudahan bisa bermanfaat bagi Angkatan Darat.

Heri Marjaga Siagian
Pamen Kodam XVII/Cenderawasih
Baca selengkapnya . . .