21 Februari 2010

Memahami Pembuatan Karmil Dalam Rangka Seleksi Seskoad

     Pada tulisan sebelumnya saya telah membahas bagaimana tentang pembuatan Karmil saat ujian seleksi Seskoad. Namun tulisan terdahulu rupanya masih agak sulit dipahami, sehingga saya harus menjelaskan dengan bahasa sesederhana mungkin agar mudah dipahami oleh para calon siswa Seskoad.

     Ujian Karmil tahun ini masih tetap seperti tahun lalu, dimana judul sudah diberikan. Oleh karenanya setiap calon siswa harus dapat menyesuaikan dengan apapun judul yang diberikan.
     Saya masih sering didatangi para perwira yang akan mengikuti seleksi Seskoad, sambil membawa Karmil untuk dikoreksi. Saya menganjurkan agar perwira tidak perlu menyiapkan Karmil, namun yang perlu disiapkan adalah bagaimana berlatih membuat: Pendahuluan, Latar Belakang Pemikiran, Kondisi Awal, Faktor Berpengaruh, Kondisi Akhir dan Penutup. Saya menyarankan untuk memilih judul yang pernah dialami dalam bertugas sehingga perwira memiliki memori yang akan sangat membantu proses penuangan yang ada dibenak kedalam tulisan.
     Tentang judul hampir dapat dipastikan bahwa judul yang diberikan memiliki 2 variabel (makro dan mikro). Judul yang diberikan juga berkisar pada Upaya Meningkatkan Bla Bla Bla dan Optimalisasi Bla Bla Bla. Apakah ada perbedaan antara OPTIMALISASI dan UPAYA MENINGKATKAN ? Untuk mudahnya saya akan menjelaskan melalui suatu analogi sehingga mudah dipahami dimana letak perbedaan antara keduanya.
  • Saya memiliki sebuah mobil Toyota Avanza keluaran tahun 2005. Pada saat baru, kecepatannya dapat mencapai 130 km/jam. Namun seiring dengan berjalannya waktu, sekarang kecepatan paling tinggi yang dapat dicapai hanyalah 90 km/jam.
  • Apabila saya ingin mengoptimalkan kecepatan kendaraan maka saya akan melakukan berbagai cara agar kecepatannya dapat mencapai kecepatan standar ketika mobil tersebut keluar dari pabrik yaitu 130 km/jam. Atau minimal mendekati kecepatan 130 km/jam, misalnya menjadi 127 km/jam.
  • Sedangkan upaya meningkatkan ada dua kemungkinan, pertama melebihi kecepatan yang dapat dicapai saat ini, misalnya dari 90 km/jam di utak-utik menjadi 95 km/jam (meningkat 5 km/jam) atau kemungkinan kedua meningkatkan kecepatan melebihi standar pabrik, misalkan menjadi 160 km/jam. Tentu cara yang dilakukan berbeda antara meningkatkan menjadi 95 km/jam dan menjadi 160 km/jam.
     Terkadang saya sering bingung juga apabila ada judul, misalkan: Optimalisasi Kemampuan Komunikasi Sosial Babinsa Dalam Rangka Mempersempit Ruang Gerak Terorisme Di Wilayah Tugas. Kebingungan saya adalah: Apakah ada standar Kemampuan Komsos Babinsa, kalau ada berarti kita bisa menggunakan Optimalisasi, tetapi kalau tidak ada standar sebaiknya menggunakan Upaya Meningkatkan, sehingga judul tersebut sebaiknya: Upaya Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Sosial Babinsa Dalam Rangka Mempersempit Ruang Gerak Terorisme di Wilayah Tugas.
     Sebelum kita melanjutkan pembahasan, ada baiknya perwira calon siswa mengetahui hal-hal apa saja yang dinilai termasuk bobotnya. Tabel di bawah ini hanya sekedar perkiraan, namun kira-kira tidak jauh berbeda pada setiap pelaksanaan seleksi. Apa dan bagaimana supaya Karmil yang dibuat memenuhi unsur unsur yang akan dinilai, akan saya informasikan dalam pembahasan.

Tabel 1. BOBOT NILAI KARMIL
NO
ASPEK PENILAIAN
BOBOT
%
A
TEKNIK PENULISAN
± 15
- Judul
- Pendahuluan :
- Inti Tulisan
- Penutup
B
KELENGKAPAN
± 5
- Tata tulis & Minu
- Kelengkapan Naskah
C
KUALITAS KARMIL
± 80
- Judul
- Hubungan Antar Bab
- Inti Tulisan (Bab I s/d VII)
- Alur Pikir / Pola Pikir

UNTUK DIPERHATIKAN !!
  • Karmil yang dibuat perwira dalam ujian adalah Karmil Pemecahan Masalah, dengan demikian perwira perlu memahami apa yang dimaksud dengan masalah. Apa juga yang dimaksud dengan persoalan ?
  • Sederhananya, masalah adalah penyimpangan/deviasi antara realita dan harapan. Semakin besar penyimpangan berarti semakin besar masalah yang terjadi.
  • Persoalan bagian (anak) dari masalah, persoalan juga bisa sebagai masalah atau masalah sebagai persoalan. Kapan masalah jadi persoalan dan kapan persoalan jadi masalah sangat tergantung pada strata pembahasan, misalnya:
    • Banjir tahunan adalah masalah bagi kota Jakarta, persoalannya adalah: Adanya pemanfaatan lahan yang tidak semestinya di daerah Puncak; Banyak penduduk Jakarta tinggal di bantaran sungai; Pembangunan yang kurang mempertimbangkan areal resapan air; dsb.
    • Pemanfaatan lahan yang tidak semestinya merupakan persoalan bagi Pemda DKI, tetapi menjadi masalah bagi Pemda Bogor.
  • Dalam penulisan Karmil, masalah terdapat pada variabel makro (tetap), sedangkan persoalan yang akan dipecahkan ada pada variabel mikro(tidak tetap). Dalam Karmil ujian seleksi yang dibahas secara rinci adalah variabel mikro, bukan variabel makro. Penguraian variabel makro hanya untuk mengantarkan pembahasan pada variabel mikro. Sederhananya, apabila persoalan-persoalan dapat diatasi maka masalah otomatis dapat diatasi.
  • Dalam Karmil sering kita menemukan tujuan dan sasaran. Pada dasarnya tujuan adalah untuk menjawab permasalahan, sedangkan sasaran adalah untuk menjawab persoalan. Namun dalam penulisan sangat sering terjadi tujuan yang ditetapkan tidak berkaitan dengan masalah yang dihadapi, demikian juga dengan sasaran sering tidak berkaitan dengan persoalan yang akan ditangani.
Tentang Judul.
     Agar memenuhi persyaratan dalam teknik penulisan, judul harus dibuat dengan HURUP BESAR tanpa diakhiri titik dan diberi garis bawah, contoh:
UPAYA MENINGKATKAN PERFORMA TOYOTA AVANSA
DALAM RANGKA MENGHADAPI LOMBA DRAG RACE
KELAS 1300 CC
     Judul harus sesuai dengan judul Karmil yang disiapkan dalam ujian. Upayakan judul yang dituliskan tidak berkurang satu hurup pun dari pilihan judul yang diberikan.  
     Dalam contoh judul yang diberikan di atas, variabel makro adalah: Dalam Rangka Menghadapi Lomba Drag Race Kelas 1300 cc. Variabel mikro adalah: Upaya Meningkatkan Performa Toyota Avansa.
     Permasalahannya: “ Toyota Avansa yang dimiliki tidak memadai untuk mengikuti lomba”. Lomba drag race sangat tergantung pada faktor kecepatan dan akselerasi. Kecepatan dan akselerasi yang ada sekarang masih sesuai standar pabrik yang peruntukannya bukan untuk perlombaan, dengan demikian apabila ferforma tidak ditingkatkan, kendaraan tidak memadai dalam menghadapi lomba drag race.
     Persoalannya: “ Setting kecepatan dan akselerasi kendaraan masih standar pabrik ”. Kendaraan yang dibuat pabrik untuk digunakan sehari hari berbeda dengan yang diperuntukkan untuk lomba.
       Berawal dari judul, perwira harus sudah dapat melihat apa permasalahan dan apa persoalan. Selanjutnya dari permasalahan dan persolalan perwira harus sudah memiliki gambaran/bayangan bagaimana menjawab/menanganinya. Bertolak dari sini, perwira seharusnya sudah memiliki gambaran tentang isi tulisan/apa yang akan ditulis.

Pendahuluan.
     Bab pendahuluan meliputi: Umum; Maksud dan Tujuan; Ruang Lingkup dan Tata Urut; Metode dan Pendekatan; dan Pengertian-pengertian. Upayakan seluruh unsur dari pendahuluan harus ada, karena bila tidak ada maka akan diberi nilai nol bagi unsur yang tidak ada.
     Pasal Umum. Penentuan berapa poin yang akan dimuat dalam pasal umum sebaiknya disesuaikan dengan jumlah variabel dalam judul. Karena ujian Karmil biasanya memuat dua variabel, maka sebaiknya terdapat 2+1 poin dalam pasal umum. Poin “a” menguraikan secara ringkas tentang variabel makro. Tuangkan latar belakang dan substansi masalah. Poin “b” menguraikan secara ringkas tentang variabel mikro. Deskripsikan persoalan persoalan yang menjadi bagian masalah. Pada poin “c” berisi penekanan pentingnya masalah diselesaikan, terkadang dapat juga ditambahkan harapan penulis.
Contoh Pasal Umum:
a.   Lomba Drag Race merupakan lomba tahunan IMI (Ikatan Motor Indonesia) yang digelar secara bergilir di lima kota besar Indonesia. Ada beberapa kelas yang dilombakan, salah satunya adalah kelas 1300 cc. Peserta diberikan kebebasan untuk memilih 3 jenis  kendaraan setiap kelas, yaitu: Minibus, Jeep dan Sedan. Lomba tahun ini akan dilaksanakan di kota Bandung, saya memutuskan tetap turun di kelas 1300 cc. Namun tahun ini saya saya akan menggunakan kendaraan minibus, bukan sedan seperti yang selama ini saya gunakan. Pertimbangan saya untuk menggunakan mobil minibus adalah karena Toyota Avanza. Toyota Avanza memiliki bobot yang jauh lebih ringan bila dibandingkan sedan maupun jeep pada kelas yang sama.  Faktor bobot kendaraan merupakan faktor penting dalam lomba Drag Race, karena dengan bobot yang ringan kendaraan dapat melaju lebih cepat. Namun sekalipun memiliki keunggulan dari segi bobot, Toyota Avanza belum memadai untuk ikut dalam perlombaan karena ferforma kendaraan diperuntukkan untuk keperluan sehari hari, bukan untuk perlombaan.
b.    Ferforma yang dibutuhkan untuk menghadapi perlombaan terutama pada aspek kecepatan dan akselerasi. Kecepatan maksimal yang direkomendasi pabrik untuk setiap Toyota Avanza 1300 cc adalah 130 km/jam. Rekomendasi ini terutama atas pertimbangan faktor keamanan, sehingga kecepatan dibatasi tidak dapat melebihi kecepatan yang direkomendasikan pabrik. Lomba Drag Race dilaksanakan pada lintasan lurus sehingga faktor keamanan tidak menjadi hal yang urgen, dengan demikian kecepatan Toyota Avanza dapat ditingkatkan melebihi kecepatan yang direkomendasikan pabrik. Akselerasi menjadi faktor yang sangat menentukan dalam perlombaan Drag Race yang menempuh lintasan lurus dengan jarak yang sangat pendek. Semakin tinggi akselerasi maka semakin cepat kendaraan mencapai kecepatan maksimum. Sekalipun kendaraan memiliki kecepatan maksimum yang tinggi, namun apabila tidak didukung akselerasi yang tinggi, kendaraan akan tertinggal oleh kendaraan yang kecepatan maksimumnya lebih rendah namun memiliki akselerasi yang lebih tinggi, mengingat lomba Drag Race hitungan waktunya berkisaran hitungan detik.
c.     Meningkatkan ferforma Toyota Avanza yang akan saya gunakan dalam perlombaan merupakan hal yang sangat penting. Tanpa ferforma yang memadai, saya hanya akan menuai kekecewaan dan perasaan malu. Mudah-mudahan upaya meningkatkan ferforma Toyota Avanza ini dapat mengantarkan saya ketangga juara.
         Kelemahan yang sering terjadi:
    • Dalam menguraikan poin “a” sering penarikan latar belakang terlalu jauh sehingga tidak fokus pada variabel makro. Misalkan dalam contoh di atas diawali dengan “ Era globalisasi . . . . “.
    • Permasalahan dan persoalan tidak tergambar secara jelas/ bahkan tidak tergambar sama sekali.
     Pasal Maksud dan Tujuan. Pada hakekatnya penuangan maksud dan tujuan sangat berkaitan dengan sifat tulisan. Mengingat Karmil ujian Seskoad bersifat problem solving/pemecahan masalah maka tujuannya berkaitan dengan solusi. Maksud disini adalah maksud penulis, apa yang memotivasi/mendorong penulis untuk menulis. Tujuan berkaitan dengan sifat tulisan, apa yang dikehendaki penulis melalui tulisan yang dibuat.
Contoh Pasal Maksud dan Tujuan:
a.  Maksud. Menguraikan permasalahan fermorma Toyota Avanza aspek kecepatan dan akselerasi dan langkah-langkah peningkatannya.
Tujuan. Mendapatkan performa Toyota Avanza yang memadai untuk lomba Drag Race kelas 1300 cc.
Bersambung . . . . .
Baca selengkapnya . . .

15 Februari 2010

Teknik Menjawab Persoalan Pengantar Filsafat

     Saya telah melihat beberapa pendapat/tanggapan Pasis dalam ruang “Seskoad Korespondensi”, kelemahan mendasar adalah dalam MENYAMPAIKAN ARGUMEN. Ada beberapa tipe pendapat/tanggapan yang saya amati:

  1. Pasis menyampaikan teori/pendapat orang lain (referensi) panjang lebar tapi tidak memberikan argumen (yang berasal dari pasis).
  2. Pasis memberikan pendapat/tanggapan dan merasa sudah memberikan argumen.

     Sederhananya, ber-argumen adalah ber-logika. Mari kita lihat logika sederhana dibawah ini:

  • Makanan yang tidak higienis dapat mengakibatkan sakit perut.
  • Amir sering memakan makanan yang tidak higienis.
  • Amir sering sakit perut.
    • Ketika kita mendapatkan Amir sakit dibagian perut, kita dapat menyimpulkan Amir sakit perut (pendapat/tanggapan). Argumennya karena Amir sering memakan makanan yang tidak higienis, yang menurut teori kesehatan bahwa memakan makanan yang tidak higienis dapat  mengakibatkan sakit perut (mendukung/memperkuat argumen).

Argumen yang digambarkan diatas hanya sebagai contoh yang sangat sederhana sifatnya namun mudah-mudahan dapat memberikan gambaran bagaimana memberikan sebuah argumen.

     Berikut ini saya akan coba berikan gambaran bagaimana memberikan argumen yang agak lebih tinggi grade nya . . . . (Bersambung)

Baca selengkapnya . . .

19 Januari 2010

Mekanisme Pengerjaan Lembar Tugas Materi Pengantar Filsafat

     Para pasis Dikreg 48 Seskoad, saya akan sampaikan beberapa hal berkaitan dengan pengerjaan lembar tugas Pengantar Filsafat, sebagai berikut:

  1. Penilaian atas produk pasis dibagi 2, yaitu: produk tertulis dengan nilai maksimal 60 (Enam Puluh) dan interaksi akademis dengan nilai maksimal 40 (Empat Puluh). Dengan demikian nilai tertinggi yang dapat diraih setiap pasis adalah 100 (Seratus).
  2. Interaksi akademis dilakukan melalui ruang “Seskoad Korespondensi” di http://www.facebook.com. Untuk mengikuti interaksi akademis di ruang ini, pertama-tama pasis harus memiliki account facebook. Setelah itu kirim undangan (invite) kepada heimas1123@gmail.com dengan pesan : Pasis (Nama)/Nosis-Sindikat, contoh: Pasis Deni Rejeki/48007-15. Selanjutnya saya sebagai admin akan mengirimkan undangan kepada pasis agar bisa memasuki ruang interaksi akademis yang berlogo seperti gambar dibawah ini. Logo Seskoad Korespondensi
    Atau agar lebih mudah, pasis buat account facebook (bagi yang belum punya) selanjutnya add saya (Heri Marjaga Siagian) sambil mengirim pesan berupa nama dan nosis. Selanjutnya pasis dapat memberikan pendapat atas persoalan yang dilemparkan oleh admin sesuai dengan lembar tugas. Ruang ini bersifat rahasia, hanya yang diundang oleh admin yang dapat masuk, melihat dan memberikan tanggapan. Oleh karenanya pasis harus terlebih dahulu mengundang admin melalui account facebook yang pasis miliki, agar admin bisa mengundang balik untuk memasuki ruang interaksi akademis ini.
  3. Interaksi akademis dilaksanakan dengan memberikan pendapat/tanggapan terhadap setiap persoalan yang ditanyakan, pasis diwajibkan untuk memberikan sekurang-kurangnya 3 pendapat/tanggapan, sbb:
    • Pendapat/tanggapan terhadap persoalan, dengan terlebih dahulu menulis dibagian atas  sbb: Pendapat Pasis Deni Rejeki / 48007-15   Bla . . bla . . bla . . bla . . bla . . bla.
    • Pendapat/tanggapan mendukung terhadap pendapat salah seorang pasis dengan terlebih dulu menulis dibagian atas sbb: Pendapat/tanggapan mendukung Pasis Deni Rejeki / 48007-15 atas pendapat/tanggapan Pasis Ruby Hutajulu / 48100-05  Bla . . bla . . bla . . bla . . bla . . bla . . bla.
    • Pendapat/tanggapan menolak terhadap pendapat salah seorang pasis dengan terlebih dahulu menulis dibagian atas sbb: Pendapat/tanggapan menolak Pasis Ruby Hutajulu / 48100-05 atas pendapat/tanggapan Pasis Efrizon / 48050-10  Bla . . bla . . bla . . bla . . bla . . bla . . bla . . bla . . bla . . bla . . bla.
    • Pasis dapat memberikan lebih dari 1 untuk tanggapan mendukung maupun tanggapan menolak, serta akan mendapat kredit point nilai.
  4. Setiap pendapat/tanggapan dalam interaksi akademis memuat minimal 100 dan maksimal 150 kata, dengan disertai dengan argumen yang berdasar (referensi, fakta, contoh, dlsb) untuk menguatkan pendapat/tanggapan yang pasis berikan. Pendapat/tanggapan yang berkembang dalam interaksi akademis selanjutnya menjadi rujukan setiap siswa dalam mengerjakan produk tertulis. Melalui interaksi akademis ini, Prof. Juhaya S. Praja selaku pengampu materi akan dapat melihat sejauh mana pemahaman dan kedalaman pasis berkaitan dengan materi Pengantar Filsafat, dan diharapkan Prof Juhaya dapat menyampaikan ulasan akademis pada saat beliau menyampaikan materi Teori Nilai pada tahap II (in campus). Adapun beberapa ketentuan dan penilaian interaksi akademis sbb:
    • Untuk memudahkan pemberian tanggapan, pasis diharapkan sudah mengundang admin melalui account facebook secepatnya. Tanggapan awal terhadap setiap persoalan diharapkan sudah selesai pada akhir Januari 2010, sehingga pasis tidak saling menunggu untuk memberikan tanggapan lanjutan baik yang bersifat mendukung maupun menolak.
    • Pendapat/tanggapan < dari 100 kata mendapat nilai 0,5.
    • Pendapat/tanggapan 100-150 kata mendapat nilai 1,5.
    • Memberikan argumen tanpa didukung rujukan/dasar yang memadai  mendapat tambahan nilai 0,5.
    • Memberikan argumen dengan didukung  rujukan/dasar yang memadai mendapat tambahan nilai 1,5.
    • Memberikan pendapat/tanggapan tambahan akan mendapat tambahan nilai 0,5 untuk setiap pendapat/tanggapan (mendukung/menolak).
    • Nilai maksimal untuk setiap persoalan adalah 10, untuk 4 persoalan nilai maksimal 40.
  5. Produk tertulis dibuat dalam bentuk bebas dengan jumlah kata 300 s/d 400 kata untuk setiap persoalan. Dalam menjawab setiap persoalan, pasis diwajibkan untuk mencantumkan sekurangnya 1 referensi buku/jurnal dan 1 referensi internet. Esensi yang ingin dinilai dalam produk tertulis adalah bagaimana pasis menjelaskan/menyampaikan pendapat/tanggapan dengan argumentasi yang berdasar dan dapat dipertanggung-jawabkan secara akademis serta fokus pada persoalan yang ditanyakan. Adapun beberapa ketentuan dan penilaian produk tertulis adalah sbb:
    • Produk tertulis dibuat dalam bentuk hardcopy yang dikumpulkan sesuai waktu yang ditentukan dalam lembar penugasan, dan dalam bentuk softcopy yang dikirimkan selambat-lambatnya sesuai dengan tanggal yang ditentukan dalam lembar tugas ke alamat: depjuang.seskoad@yahoo.co.id cc seskoad2seskoad@gmail.com.
    • Penulisan referensi sesuai dengan ketentuan dalam pembuatan Taskap.
    • Setiap persoalan mendapat nilai maksimal 15, untuk 4 persoalan mendapat nilai maksimal 60.
    • Jawaban persoalan < 300 kata akan mendapat nilai 2.
    • Jawaban persoalan 300 – 400 kata akan mendapat nilai 5.
    • Menyertakan referensi buku/jurnal akan mendapat tambahan nilai 2,5. Menyertakan referensi buku/jurnal lebih dari 1 akan mendapat tambahan nilai 0,5 untuk setiap buku/jurnal.
    • Menyertakan referensi internet akan mendapat tambahan 1. Menyertakan referensi internet lebih dari 1 akan mendapat tambahan nilai 0,25 setiap referensi (alamat sumber harus jelas dan dapat diakses)
    • Memberikan argumen tanpa didukung rujukan/dasar yang memadai akan mendapat tambahan nilai 1.
    • Memberikan argumen dengan didukung rujukan/dasar yang memadai akan mendapat tambahan nilai 4.

    Demikian informasi tentang pengerjaan lembar tugas Pengantar Filsafat, apabila ada hal-hal yang kurang jelas agar menanyakan melalui kolom komentar dalam blog ini. Selamat bekerja.

Baca selengkapnya . . .

Trik Mengerjakan Penugasan pada Tahap Korespondensi

     Pada tahap korespondensi Pasis harus menyelesaikan 53 lembar penugasan, bahkan ada juga lembar penugasan yang menuntut lebih dari 1 produk, seperti halnya materi kepemimpinan yang menugaskan 3 produk kajian (kajian kepemimpinan satuan, kajian kepemimpinan tokoh luar negeri dan kajian kepemimpinan tokoh dalam negeri). Apabila dihitung waktu sejak pasis kembali ke satuan pada tanggal 21 Januari 2010  s/d waktu paling akhir pengumpulan produk pada tanggal 23 Maret 2010 maka waktu yang tersedia bagi pasis adalah 61 hari. Bisa kita bayangkan betapa padatnya jadwal pasis selama tahap korespondensi.

     Pimpinan Angkatan Darat juga telah menaikkan standar nilai bagi pasis Dikreg 48, yakni: minimal 80, sehingga saya tidak bisa membayangkan bagaimana pontang-pantingnya pasis untuk menyelesaikan produk. Pimpinan juga telah menegaskan bahwa pelaku plagiat  tidak akan diberi ampun. Dan memang sudah sepantasnya Pasis Dikreg Seskoad haram  melakukan tindakan plagiat, karena mempertaruhkan kehormatan dan martabat yang harus dijunjung tinggi setiap perwira. Esensi plagiat adalah mengakui pendapat atau gagasan orang lain sebagai miliknya, atau juga menuliskan pendapat atau gagasan tanpa menyebut sumbernya sehingga pendapat atau gagasan seolah-olah adalah miliknya. Dalam etika akademis, kita tidak perlu meminta ijin secara lisan untuk menggunakan pendapat atau gagasan orang lain, cukup mencantumkan sumber sesuai aturan penulisan yang berlaku umum. Saya mewanti-wanti kepada pasis untuk tidak menganggap sepele masalah plagiarisme ini. Lebih baik pasis menempuh jalan yang sulit dan berat tetapi terhormat daripada jalan yang mudah dan ringan tetapi hina. Ingat berapa besar pengorbanan pasis dan doa anak istri yang mengiringi hingga para perwira mendapat kehormatan menjadi Pasis Dikreg Seskoad. Penyesalan dikemudian hari tidak ada gunanya. Lalu bagaimana sebaiknya pasis menyiasati tuntutan tugas pendidikan yang demikian berat namun waktunya terbatas.

     Kuncinya adalah kerjasama. Seperti filosofi sapu lidi, sebatang lidi sangatlah sulit ketika akan membersihkan dedaunan yang ada di halaman, namun ketika sekelompok lidi-lidi membentuk suatu kesatuan yang barnama sapu lidi, maka tugas membersihkan dedaunan menjadi jauh lebih mudah dilaksanakan. Dengan filosofi itu pasis bisa membangun kebersamaan untuk melaksanakan tugas pendidikan selama tahap korespondensi. Saya menyarankan menggunakan metode: Bahu membahu menyiapkan input, mandiri melakukan proses, efektif mendapat output

     Menyiapkan input. 53 materi pelajaran dipertanggung-jawabkan kepada 209 pasis, dengan demikian 1 materi pelajaran menjadi tanggung jawab 4 orang pasis untuk menyiapkan input yang dibutuhkan sesuai dengan tuntutan yang dikehendaki persoalan. Input yang disiapkan, misalkan: data/fakta, teori, pernyataan, argumen, contoh peristiwa, dsb. Menyiapkan input yang memadai bagi suatu tulisan argumentatif/analitis memerlukan waktu yang cukup lama, sehingga bila setiap pasis harus menyiapkan input sendiri-sendiri maka dapat dipastikan pasis tidak akan mampu menyelesaikan tugas yang diberikan, atau seandainya mampu menyelesaikan tugas maka patut dipertanyakan seperti apa kualitas produk yang dibuat pasis. Dengan memberikan tanggung jawab penyiapan input secara bahu membahu maka beban pasis untuk menyiapkan input akan menjadi semakin ringan. Dan diperlukan secara perorangan pasis masih dapat menambahkan input tambahan untuk lebih meningkatkan kualitas produk sesuai dengan kemampuan akademis masing-masing. Misalkan ditentukan waktu 1 minggu untuk menyiapkan input, maka dalam satu minggu itu seluruh 53 lembar penugasan sudah siap inputnya. Untuk mendukung hal ini, pasis dapat menggunakan ruang di website Dikreg 48 ( yang saya dengar sudah ada), atau fasilitas lain seperti facebook, dsb.

     Melakukan proses. Ini adalah tahap dimana pasis membuat tulisan, melakukan analisis hingga memberikan argumen. Sekalipun input yang digunakan sama, namun bisa dipastikan kemungkinan tulisan/analisis/argumen yang sama amat sangat kecil bila pasis mengerjakannya secara mandiri/perorangan dengan bahasa sendiri. Melakukan proses ini tentunya akan sangat terbantu dengan input yang memadai, proses penulisan/analisis/argumen akan lebih mudah dan cepat.

     Output yang diharapkan adalah hasil karya pasis secara pribadi, yang menunjukkan kualitas diri dan intelektual masing-masing pasis. Output ini mudah-mudahan dapat dicapai sekalipun tampaknya pekerjaan yang dibebankan kepada pasis sepertinya melebihi kapasitas.

     Mudah mudahan dengan metode seperti ini, pasis dapat mengerjakan tugas pendidikan secara optimal dan mengamankan kebijakan pimpinan Angkatan Darat dengan melaksanakan tugas pendidikan ini secara sungguh-sungguh, bertanggung-jawab dan bermartabat. Selamat belajar.

Baca selengkapnya . . .

18 Januari 2010

Dikreg Seskoad Tahap I Korespondensi

     Tahun ini akan dilaksanakan Dikreg model korespondensi khusus untuk tahap I (lk 3 bulan). Model ini pernah dilakukan pada Selapa dan juga pada KSPS (Kursus Strategi Perang Semesta). Sekalipun TNI AD pernah menyelenggarakan model pendidikan korespondensi, namun kelihatannya TNI AD belum mampu mengatasi kendala mendasar model pendidikan ini, yakni masalah interaksi, baik antara dosen dengan siswa maupun antar sesama siswa. Sebagai contoh, selama korespondensi materi yang diberikan hanya materi yang bersifat teori, sementara materi yang bersifat diskusi diberikan pada tahap II (in campus). Apakah metode diskusi tidak bisa dilaksanakan pada tahap korespondensi ? Tentu saja bisa.

     Sekarang ini bukan lagi menjadi hal yang sulit melakukan interaksi pada ruang berbeda dan waktu berbeda. Pada awal belum ada teknologi interaksi dilakukan pada ruang dan waktu yang sama. Dengan ditemukannya telepon, manusia mulai bisa berinteraksi pada ruang yang berbeda namun waktunya sama, dengan kehadiran internet interaksi semakin menarik karena bisa menampilkan audio dan visual, tidak semata audio saja. Internet juga memungkinkan manusia untuk berinteraksi pada ruang dan waktu yang berbeda contohnya fasilitas docs google yang memungkinkan kita melakukan online collaborations. Misalnya, dulu kalau Pasis ditugaskan membuat semacam tulisan kelompok, biasanya ketua kelompok membagi tugas si A membuat bab I, si B membuat bab II, dst. Ketika tulisan tersebut digabungkan, ternyata isi antar bab saling tidak menyambung ( Jaka Sembung Bawa Golok), karena para pasis biasanya mengerjakan tugas sambil IB. Dengan online collaborations hal itu tidak perlu terjadi, karena sekalipun para pasis mengerjakan di tempat yang berbeda, mereka dapat mengerjakannya bersama-sama. Ketika si A membuat Bab I, dia dapat langsung melihat apa yang dikerjakan si B, si C, dst. Demikian juga si B dapat melihat pekerjaan si A dan si C.

     Secara pribadi saya prihatin dengan tingkat kepedulian para perwira yang rodo sepuh terhadap implementasi teknologi dalam kehidupan militer sehari-hari. Banyak kemudahan dan kecepatan bahkan penghematan yang dapat kita peroleh dari teknologi, tapi masalahnya banyak diantara kita yang masih butek (buta teknologi) dan gaptek (gagap teknologi). Kalau perwira lulusan 80 an masih banyak yang butek bin gaptek, mudah-mudahan untuk perwira lulusan 90 sudah jauh lebih baik, dan untuk lulusan 2000 sudah sadar teknologi semua. Kalau tidak, maka Angkatan Darat kita ini akan semakin terpuruk saja (mudah-mudahan tidak menjadi seperti Dinosaurus – dahulu kala pernah ada yang namanya TNI AD).

     Dalam kapasitas saya sebagai dosen, untuk materi yang saya pegang (di Departemen Juang) saya akan coba untuk mewajibkan interaksi berupa diskusi (ruangnya sedang saya pertimbangkan apakah di blog ini atau akan saya buat ruang diskusi di facebook). Mudah mudahan ini bisa mentriger kesadaran para perwira lainnya, khususnya rekan rekan dosen dan Seskokad. Saya memimpikan suatu ketika ada Dikreg Seskoad Virtual agar seluruh perwira TNI AD pernah merasakan pendidikan Seskoad tanpa harus ada seleksi-seleksi lagi. Mudah-mudahan . . . . , Mari para perwira muda kita wujudkan itu.

Baca selengkapnya . . .

30 Oktober 2009

Seleksi Tahap II/2 (Oral)

    Pada pertengahan bulan November 2009 ini akan diadakan seleksi tingkat oral bagi casis yang telah lulus seleksi tahap II/1. Materi yang diujikan meliputi: akademik, pemeriksaan psikologi, kesehatan dan kesemaptaan jasmani.

    Materi akademik berupa pembuatan Karmil dan ujian lisan. Karmil yang dibuat tidak dinilai seperti halnya pada seleksi tahap II/1, namun akan dijadikan pegangan penguji dalam ujian lisan akademik. Dalam membuat Karmil, substansi yang akan dibahas sebaiknya merupakan materi yang telah dikuasai. Misalnya dalam Karmil membahas tentang personel, kepemimpinan dan binsat, maka pertanyaan penguji akan mengarah pada personel, kepemimpinan dan binsat. Selain substansi karmil, casis juga agar menyiapkan pengetahuan umum baik nasional dan internasional, khususnya isu-isu aktual, hal berkaitan dengan TNI, termasuk bahasa Inggris.

   Ujian lisan akademik dilaksanakan selama 70 menit. 5 menit persiapan; 15 menit paparan; 45 menit tanya jawab; dan 5 menit pengakhiran. Selain penguasaan pengetahuan juga akan dinilai sikap penampilan dan tata bicara.

   Pada penilaian akhir akademik, nilai oral memberikan andil sebesar 40 % sedangkan nilai akademik tahap II/1 sebesar 60 %. Rata-rata dari kedua nilai tersebut menjadi nilai akhir yang menentukan apakah casis masuk alokasi atau tereleminasi.

   Bagi casis yang tidak punya koneksi, tidak perlu berkecil hati. Yang penting laksanakan ujian dengan kesungguhan hati dan semangat yang tinggi. Ingat ! TUHAN tidak pernah tidur. SELAMAT BERJUANG.

Baca selengkapnya . . .

Strategi dan Kiat Belajar dalam rangka Seleksi Seskoad

  Menjadi Pasis Dikreg Seskoad merupakan dambaan setiap Perwira TNI AD, karena pendidikan Seskoad merupakan pintu kritis yang harus dilalui untuk pengembangan karier selanjutnya. Tanpa melalui pendidikan Seskoad, peluang perwira untuk mengembangkan karier di TNI AD khususnya maupun TNI umumnya menjadi sangat terbatas. Namun demikian bukan berarti pendidikan Seskoad merupakan jaminan utama bagi perwira untuk memperoleh pengalaman karier yang diinginkan. Masih banyak faktor-faktor penentu  lainnya yang menjadi pertimbangan organisasi untuk menempatkan perwira dalam mengembangkan karier selanjutnya. 

   Dalam rangka peningkatan SDM, idealnya TNI AD memberikan kesempatan bagi setiap perwira yang telah memenuhi syarat (administrasi) untuk mengikuti pendidikan Seskoad. Namun terbatasnya alokasi  pendidikan membuat  tidak semua perwira yang telah memenuhi syarat  dapat mengikuti pendidikan ini. Hanya perwira yang berhasil melalui seleksi yang dapat mengikuti pendidikan. Karena terbatasnya alokasi   serta  sedemikian pentingnya  pendidikan ini membuat setiap perwira akan berusaha semaksimal mungkin (all out)  mempersiapkan  dirinya dalam menghadapi seleksi Seskoad khususnya bidang akademik.

    Materi pokok akademik biasanya meliputi: Aplikasi (taktik dan dinas staf), Teori (taktik, dinas staf, bintal/pengum, binlat dan bahasa Inggris) dan Karangan Militer. Pada seleksi Casis Dikreg TA. 2009 (Dikreg XLVII) terjadi perubahan mendasar atas materi pokok yang diujikan. Materi Aplikasi yang semula 7-8 persoalan dengan alokasi waktu 7,5 jam dan  tanpa diberikan format  menjadi 3-5 persoalan dengan alokasi waktu 4 jam, serta format diberikan. Materi Teori (taktik, dinas staf, bintal/pengum dan binlat) semula 38 soal (Pilihan B/S, Pilihan Analisis Hubungan Antar Hal, Pilihan Berganda Tunggal, Pilihan Analisis Kasus, Isian dan Uraian) dengan alokasi waktu 180 menit menjadi 50 soal (Pilihan B/S, Pilihan Berganda Tunggal, Pilihan Berganda Majemuk dan Pilihan Analisis Kasus) dengan alokasi waktu 90 menit. Teori Bahasa Inggris dari 26 soal (Terjemahan, Jawab Pertanyaan, Pilihan dan Isian) dengan alokasi waktu 150 menit menjadi 30 soal (Pilihan B/S, Pilihan Berganda Tunggal, Pilihan Berganda Majemuk) dengan alokasi waktu 60 menit. Materi Karmil yang semula diberikan proposisi menjadi diberikan judul.

   Pada seleksi sebelumnya, untuk materi Aplikasi, bagi perwira  yang telah terlatih mengerjakan soal akan memiliki peluang lebih besar untuk lulus seleksi, karena dengan model 7-8 persoalan dan waktu 7,5 jam sangat sulit bagi yang tidak terlatih untuk mengerjakan persoalan sesuai dengan alokasi waktu yang disediakan. Kondisi ini memaksa perwira untuk menghafal format-format, agar saat mengerjakan persoalan tidak terganggu waktu untuk mengingat-ngingat format. Sehingga pada masa itu segala macam cara dan teknik digunakan para perwira untuk menghapalkan format. Bangun tidur, yang pertama kali dilihat adalah format (yang telah tertata di dinding), sebelum masuk kamar mandi di bagian pintu  juga ada format, saat buang air besar hiasan yang tertera didepan juga format. Masuk ke dalam kantor yang dilihat juga format, di dalam saku baju ada catatan kecil yang isinya juga format. Para perwira juga berlatih dengan cara drill mengerjakan soal aplikasi, dari drill menyalin jawaban persoalan, drill menjawab persoalan tanpa dihitung waktu, sampai dengan drill sesungguhnya seperti saat melaksanakan ujian aplikasi. Kondisi ini membuat tujuan seleksi untuk menjaring para perwira yang memiliki cara berpikir logis, kritis, kreatif dan argumentatif (beralasan)  pada akhirnya tidak tercapai. Ketika melaksanakan pendidikan, sebagian besar perwira selalu terbelenggu dengan format, juga mengalami kesulitan untuk menemukan ide-ide kreatif dalam menyikapi suatu permasalahan. Perwira yang kreatif dan memiliki cara berpikir kritis, biasanya kurang begitu menyukai dengan metode menghapal dan drill berulang-ulang sehingga mereka sulit terjaring melalui model seleksi yang dilakukan. Cukup banyak kita lihat, perwira-perwira yang kreatif dan hebat cara berfikirnya, tapi tidak pernah dapat lulus seleksi Seskoad. Kondisi inilah yang diantaranya mendorong diadakannya perubahan pada materi Aplikasi Taktik dan Dinas Staf.

   Untuk materi teori, pada seleksi lalu masih ada jawaban isian dan uraian yang bobotnya lebih besar dari jawaban Benar-Salah dan jawaban Pilihan. Untuk Benar-Salah dan Pilihan hanya ada 2 kriteria jawaban, yaitu: Benar (100%) atau Salah (nol). Sementara untuk jawaban isian dan uraian menggunakan 5 kriteria jawaban sbb: Tidak menjawab (nol); Salah (10%), Kurang Benar (11%-40%); Mengandung Kebenaran (41%-70%); Mendekati Benar (71%-90%) dan Benar (91%-100). Kondisi ini membuat penilaian sulit dilaksanakan secara obyektif. Selain itu faktor tulisan juga sangat menentukan, bisa saja jawaban sebenarnya mendekati benar namun karena tulisannya sulit dibaca akhirnya dinilai pada kriteria mengandung kebenararan sehingga  nilai lebih rendah dari nilai yang seharusnya, sebaliknya jawaban kurang benar namun karena tulisannya bagus diberikan nilai pada kriteria mengandung kebenaran.  Hal ini tentunya akan sangat merugikan bagi perwira yang sebenarnya cerdas, namun karena faktor tulisan pada akhirnya tidak lulus seleksi. Rentang nilai pada masing-masing kelompok kriteria juga sangat menyulitkan dalam penilaian. Penilaian terhadap produk peserta tidak mungkin akan sama antara pemeriksa satu dengan pemeriksa lainnya. Sekalipun telah dilaksanakan sistem koreksi berlapis, tetap saja unsur subyektifitas tidak dapat dihindarkan. Sekarang ini jawaban untuk materi persoalan teori hanya ada 2 kriteria, yaitu: Benar (100%) dan Salah (nol). Dengan cara ini faktor tulisan tidak lagi menjadi penghambat, subyektifitas tidak ada lagi karena pemeriksa hanya diberi 2 alternatif jawaban, yaitu: Benar diberi nilai 100 dan Salah diberi nilai nol sehingga penilaian menjadi sangat obyektif. Penerapan sistem ini disisi lain ternyata juga membawa dampak yang sangat besar pada saat pelaksanaan seleksi yang baru lalu. Sebagian besar peserta seleksi nilai teorinya rendah. Rendahnya nilai teori ini kemungkinan sebagai akibat model jawaban yang tidak lagi menggunakan jawaban isian dan uraian dan kemungkinan juga cara belajar yang salah.

   Materi Karmil juga mengalami perubahan yaitu dari semula dengan pemberian proposisi menjadi diberikan judul. Pada dasarnya kedua model ini sama saja apabila peserta membuatnya murni pada saat pelaksanaan ujian, bahkan pemberian proposisi akan lebih memberikan kebebasan kepada peserta untuk menentukan judul tulisannya. Namun pada kenyataannya tidaklah demikian. Dengan model pemberian proposisi, sebagian besar peserta sudah mempersiapkan Karmil jauh sebelum pelaksanaan ujian. Bahkan sebagian besar peserta mengkonsultasikan Karmil yang  dibuat keberbagai pihak. Kondisi ini membuat panitia seleksi mengalami kesulitan untuk mengetahui apakah Karmil yang dibuat dalam ujian itu murni hasil pemikiran peserta atau bukan, akibatnya tujuan seleksi menjadi sulit diukur. Ujian Karmil pada hakekatnya adalah untuk menjaring perwira yang telah memiliki: kemampuan dasar berpikir kritis (dapat melihat sesuatu yang tidak normal dalam suatu lingkungan), kemampuan dasar untuk menggali ide/gagasan sebagai tindak lanjut berpikir kritis dan kemampuan dasar untuk menyampaikan ide/gagasan dalam bentuk tulisan dengan argumen yang logis. Kemampuan dasar  ini secara minimal  sebenarnya  dimiliki oleh setiap perwira apabila para perwira mau mengembangkan diri dengan pendidikan-pendidikan yang telah diperoleh sebelumnya dan mau mengaplikasikannya dalam lingkungan bertugas. Apabila perwira tidak memiliki kemampuan dasar ini, Seskoad akan mengalami kesulitan untuk mendidik perwira sesuai dengan apa yang diharapkan dalam tujuan pendidikan.

   Pengalaman selama ini, dalam mempersiapkan diri menghadapi seleksi, para perwira biasanya menitik-beratkan belajar pada materi Aplikasi. Pertimbangan ini dilakukan mengingat materi aplikasi memiliki bobot terbesar dibanding materi lainnya. Akibatnya para perwira kurang menyiapkan materi yang bersifat teori. Untuk model soal seleksi yang lalu, cara seperti ini mungkin cukup efektif, namun untuk model yang baru cara ini tidak efektif. Para perwira perlu menggunakan strategi yang efektif dalam belajar agar lebih siap menghadapi seleksi Seskoad. Komposisi materi ujian dan bobotnya seperti tergambar dalam tabel di bawah:

NO

MACAM MATERI

BOBOT (%)

1

APLIKASI TAKTIK & DINAS STAF

35

2

TEORI TAKTIK

15

3

TEORI DINAS STAF

15

4

TEORI BINTAL / PENG. UMUM

10

5

TEORI BINLAT

10

6

BAHASA INGGRIS

5

7

KARANGAN MILITER

10

 

                             JUMLAH

100

Dengan mengetahui komposisi materi dan bobot, para perwira akan lebih mudah untuk mengatur strategi belajar sesuai kekuatan dan kelemahan yang dimiliki.

   Dengan mempertimbangkan kekuatan dan kelemahan, para perwira dapat membuat asumsi untuk mendapat nilai 70 (nilai batas lulus). Misalkan: Dengan kemampuan yang dimiliki asumsi perolehan nilai aplikasi adalah 20 dan Karmil adalah 10. Berarti untuk memperoleh nilai batas lulus perlu mencari nilai 40 dari materi teori. Komposisi ini tentunya berbeda-beda pada setiap orang. Melalui ruang ini (http://seskoad2seskoad.blogspot.com)  para perwira dapat belajar bagaimana sebaiknya cara mengerjakan/menjawab Aplikasi dan menulis Karmil sesuai dengan ketentuan/teori dengan harapan para perwira dapat memperoleh nilai antara 20 s/ 25 untuk materi Aplikasi dan 10 s/d 12 untuk materi Karmil.  Adapun untuk materi Teori, cara belajar yang paling efektif adalah dengan membuat soal dan jawaban sebanyak mungkin. Sebagai contoh: Untuk belajar teori Dinas Staf, siapkanlah seluruh Buku Petunjuk Lapangan tentang Dinas Staf dari Dinas Staf Umum s/d Dinas Staf Teritorial. Buatlah pertanyaan dan jawaban dari Bujuklap Dinas Staf Umum sesuai dengan model persoalan dalam ujian (pertanyaan dengan jawaban  B/S, Pilihan berganda tunggal, Pilihan berganda majemuk dan Pilihan analisis kasus). Untuk pertanyaan model analisis kasus mengingat agak kompleks tidak perlu dibuat dulu. Semakin banyak pertanyaan dan jawaban yang dibuat akan semakin bagus. Sekurang kurangnya buatlah 100 pertanyaan dan jawaban untuk pilihan B/S, 100 untuk Pilihan berganda tunggal dan 100 untuk pilihan berganda majemuk untuk setiap Bujuklap. Mengapa belajar dengan cara seperti ini ?. Dengan belajar menggunakan model ini kita akan membaca setiap lembar referensi secara seksama untuk menentukan apa yang dapat dijadikan pertanyaan dalam lembar tersebut. Minimal kita harus membaca 2-3 kali sebelum kita dapat membuat pertanyaan dari lembar yang kita baca. Inilah sebenarnya yang dilakukan oleh para perumus soal di Seskoad. Hasil yang didapat dengan model belajar seperti ini sangat berbeda apabila dibandingkan dengan model belajar hanya membaca dan menghapal. Cara lain yang lebih mudah namun cukup efektif adalah dengan membaca buku kumpulan pertanyaan dan penjelasan jawaban (bukan hanya jawaban, tetapi juga ada penjelasan mengapa jawabannya demikian). Buku ini bisa dibuat oleh para perwira senior yang telah memiliki dasar keilmuan yang memadai. Para perwira juga bisa membuat kelompok diskusi untuk belajar. Ingat! Proses berpikir yang dilakukan secara bersama-sama biasanya lebih baik jika dibandingkan denga berpikir sendiri-sendiri. Untuk referensi yang digunakan dalam seleksi pendidikan, para perwira bisa menanyakan di Spersdam masing-masing.

   Para perwira juga ada baiknya mengetahui komposisi dan bobot materi persoalan Teori untuk menghindari terjadinya salah perhitungan. Contoh: Dari 50 soal teori Dinas Staf, rasa-rasanya bisa dijawab dengan benar 40 soal. Menurut hitungan diperkirakan nilai yang didapat: (40:50)x15=12, kenyataannya nilai yang didapat hanya 9. Mengapa demikian ? Ini terjadi karena dalam menghitung tidak diperhitungkan bobot dari macam pertanyaan. Dibawah ini merupakan bobot dari setiap macam pertanyaan dalam materi persoalan Teori.

1) Untuk selain Bahasa Inggris:

NO

MACAM PERTANYAAN

JML SOAL

BOBOT

1

PILIHAN BENAR / SALAH

15

10 %

2

PILIHAN BERGANDA TUNGGAL

15

20 %

3

PILIHAN BERGANDA MAJEMUK

10

30 %

4

PILIHAN ANALISIS KASUS

10

40 %

                           JUMLAH

50

2) Untuk Bahasa Inggris:

NO

MACAM PERTANYAAN

JML SOAL

BOBOT

1

PILIHAN BENAR / SALAH

10

20 %

2

PILIHAN BERGANDA TUNGGAL

10

30 %

3

PILIHAN BERGANDA MAJEMUK

10

50 %

                           JUMLAH

30

 

   Rekan-rekan perwira, khususnya yang akan mengikuti seleksi pendidikan Seskoad, demikianlah pengantar yang dapat saya sampaikan. Selanjutnya  melalui ruang ini saya akan mencoba untuk membahas materi Aplikasi dan Karmil. Para perwira silahkan untuk bertanya dalam rangka memperoleh pemahaman. Melalui forum ini juga saya mengajak para perwira untuk membangun Institusi yang kita cintai ini dengan cara mengembangkan kemampuan diri pribadi kita secara sehat. Perlu diingat bahwa Seskoad bukanlah tempat mencari legalitas dan perkawanan semata, tetapi yang lebih penting Seskoad adalah tempat untuk memperbaiki, menyehatkan dan  meningkatkan cara berpikir kita. Cara berpikir yang sehat akan menghasilkan sikap perilaku dan tindak perbuatan yang sehat yang sangat dibutuhkan untuk kemajuan TNI AD. Mari kita manfaatkan ruang ini semaksimal mungkin untuk kemajuan Angkatan Darat yang kita cintai.

(Letkol. Czi. Heri Marjaga Siagian / Dosen Muda Seskoad).

Baca selengkapnya . . .

24 Juli 2009

Pandangan Tentang Penyelesaian Masalah Ambalat

(Tulisan ini dimuat atas seijin penulis)

Oleh:

Sayidiman Suryohadiprojo, Letjen TNI (Purn), mantan Gubernur Lemhanas (http://sayidiman.suryohadiprojo.com)

Ada beberapa faktor yang menjadi sumber masalah berkaitan dengan persoalan Ambalat akhir-akhir ini:

Faktor psikologis. Keberhasilan Malaysia dalam membangun negaranya, termasuk ekonominya, menimbulkan rasa percaya diri yang berlebihan sampai dapat dikategorikan sikap arrogant. Akibatnya adalah menyepelekan pihak lain yang dianggapnya kurang berhasil dan sedang menghadapi banyak persoalan, seperti Indonesia. Hal ini dapat dilihat ketika Malaysia tidak pernah membicarakan masalah ini secara serius kepada Indonesia, padahal dua-duanya anggota ASEAN. Juga pembuatan peta tentang wilayah perbatasan secara unilateral adalah bukti arrogansi itu.

Faktor ekonomi. Perusahaan minyak Shell berkepentingan mendapatkan konsesi di Ambalat yang dapat mempengaruhi perusahaan Petronas bertindak sepihak. Ini juga kepentingan Malaysia untuk peningkatan ekonominya.

Faktor militer. Malaysia mengira bahwa kekuatan militernya, khususnya kekuatan angkatan laut dan angkatan udara, memadai untuk mendukung memaksakan fait accompli seperti yang telah dilakukan dulu dengan Sipadan dan Ligitan. Perkiraan ini timbul karena pengaruh faktor psikologi (arrogansi) dalam menilai kemampuan militer Indonesia.

Faktor politik. Malaysia melihat bahwa Indonesia sedang sibuk menghadapi berbagai masalah politik, ekonomi dan keamanan dalam negeri, sehingga dinilai tidak cukup kemampuan menghadapi masalah ini secara sungguh-sungguh. Itu dapat dilihat pada sikap dan ucapan Menlu Malaysia bahwa buat Malaysia tidak ada masalah negosiasi dan ia datang ke Jakarta hanya untuk menyampaikan pendapat Malaysia.

Sikap kita

Dalam media dapat kita baca bagaimana reaksi masyarakat Indonesia pada umumnya. Secara umum orang menilai Malaysia arogan, hal ini diperkuat dengan tindakannya yang keras terhadap TKI illegal.

Banyak orang menjadi emosional dan dimanfaatkan oleh orang-orang tertentu untuk memperoleh manfaat dengan membakar emosi itu menjadi perbuatan yang tidak bermanfaat bagi Indonesia, bahkan dapat merugikan.

Berkembang semangat untuk menjadi relawan dalam menghadapi masalah ini. Hal ini tidak merugikan asalkan dapat diarahkan ke perbuatan yang berguna bagi penyelesaian masalah.

Kalangan cendekiawan terbagi dalam mereka yang seperti biasa menyalahkan Indonesia dan mereka yang mau melawan Malaysia. Yang menyalahkan, sekalipun amat terbatas jumlahnya, menghendaki penyelesaian secara diplomasi dan kalau perlu ke ICJ. Yang mau melawan mendorong agar Indonesia berperang dengan Malaysia, tetapi kemudian secara sinis mempertanyakan apakah TNI dapat memenangkan perang mengingat berbagai keterbatasannya.

Jadi di mata kebanyakan orang, termasuk cendekiawan, penyelesaian hanya diplomasi (damai) atau perang. Pandangan demikian sudah ketinggalan zaman. Sejak akhir Perang Dunia II umat manusia dan dunia diliputi oleh keadaan bukan perang tapi juga bukan damai (no war no peace) sampai Perang Dingin selesai.

Buat Indonesia diplomasi memang harus terus diadakan, tetapi bukan diplomasi yang mencari Win-Win Solution. Sebab dengan penyelesaian seperti itu kita akan harus mengorbankan sebagian kedaulatan kita. Diplomasi kita hanya untuk menyatakan pendapat dan kepentingan kita yang tidak dapat dikurangi lagi, sehingga kedaulatan tidak akan pernah dikurangi.

Jadi menuju ICJ adalah sikap salah, baik dilihat dari sudut taktik maupun strategi. Karena yang berkepentingan di pihak Malaysia tidak hanya dia, tetapi juga Shell yang Inggris-Belanda, maka ICJ yang berada di Den Haag, Belanda, amat mungkin mereka pengaruhi. Selain itu Malaysia ada dalam Five Powers Defense Arrangement (FPDA) dengan Inggris, Australia, Selandia Baru dan Singapura, sehingga jelas kepentingan Inggris di pihak Malaysia. Hal ini dibuktikan dengan kunjungan Wakil PM Malaysia, Najib Razak, ke Inggris antara lain untuk membeli kapal perang dan senjata lainnya.

Jadi diplomasi Indonesia adalah hanya untuk menunjukkan kepada dunia internasional, khususnya AS, bahwa Indonesia tidak mau perang. Akan tetapi sikap itu harus diperkuat oleh tindakan TNI dengan menunjukkan bahwa kita mempunyai kemampuan nyata untuk membela kedaulatan negara kita. Untuk itu TNI diperkuat kemampuannya, khususnya TNI-AL dan TNI-AU.

Indonesia harus mengirimkan delegasi ke China dan Russia untuk menegosiasi pembelian kapal perang, pesawat tempur dan sistem senjata lainnya, khususnya peluru kendali dan roket. Karena keuangan kita terbatas, harus kita temukan cara non-konvensional untuk membayar. Seperti menawarkan konsesi minyak di Ambalat kepada Russia dan China. Malaysia harus dicegah menciptakan fait accompli, justru Indonesia harus menunjukkan secara fisik kehadirannya di semua daerah yang masuk wilayah nasional.

Hal-hal yang perlu segera dilakukan

Menduduki semua pulau yang masuk wilayah yang hendak direbut Malaysia dengan pasukan TNI diperkuat Relawan.

Membuat TNI-AL dan TNI-AU mampu untuk menguasai wilayah Indonesia di sekitar Ambalat. Apabila kemampuan cukup tinggi harus ada kesediaan melakukan tembakan peringatan kepada kapal atau pesawat Malaysia yang melanggar kedaulatan wilayah.

Mengaktifkan rakyat, seperti nelayan, untuk melakukan kegiatan secara nyata di wilayah itu dengan dilindungi TNI.

Memasang tanda kedaulatan, seperti rambu-rambu, di semua pulau di wilayah itu.

Membuat peta perbatasan, kalau belum ada, sesuai dengan pendapat kita.

Menggerakkan opini di ASEAN untuk berpihak kita, khususnya Filipina yang juga mempunyai masalah perbatasan dengan Malaysia dan Vietnam.

Mengusahakan gerakan di Malaysia yang mendukung kita. Seperti kemungkinan mengajak Anwar Ibrahim menuduh peran Shell dan Petronas yang dikendalikan anak mantan PM Mahathir Mohamad.

Mencegah FPDA mendukung Malaysia, khususnya Singapura, Australia dan Selandia Baru.

Mengirim delegasi ke China dan Russia untuk pembelian sistem senjata.

Mempengaruhi opini publik di Indonesia agar emosi tidak mengarah ke tindakan merugikan dan melawan sinisme cendekiawan dengan tindakan nyata.

Baca selengkapnya . . .

06 Juli 2009

Teknik Mencari Informasi (Untuk membantu menyelesaikan tugas-tugas akademik di Seskoad)

( Letkol Czi. Budiman S. Pratomo )

Pendahuluan

Internet saat ini telah menjadi sebuah gudang pengetahuan, kalau boleh dikatakan, tak terbatas. Dengan meningkatnya jumlah pengguna internet, maka nilai manfaat dari internet sebagai pusat ilmu pengetahuan pun akan bertambah. Namun sayangnya, walaupun sudah sangat terbiasa menggunakan internet rata-rata baru mempergunakan 5-10% dari kemampuan internet yang sebenarnya. Hal ini disebabkan oeh banyaknya pengguna internet yang belum mengetahui teknik pencarian informasi yang tepat dan efektif.

Untuk mendapatkan informasi dari artikel, file, maupun database di internet (web) secara cepat dan relevan dapat dilakukan dengan memanfaatkan mesin pencari (search engine). Dengan hanya menuliskan topik apa yang hendak kita ketahui search engine akan menampilkan semua link yang berhubungan dengan hal tersebut. Ada banyak pilihan search engine yang bisa dimanfaatkan dan masing-masing memiliki keistimewaan tersendiri. Namun pada prinsipnya semua search engine mempunyai fungsi sama yaitu mencari dan menganalisis semua halaman Web, kemudian membuat indeks kata bersama dengan daftar URL (Universal Resource Locator) yang merupakan halaman atau tempat dimana "kata kunci" yang dicari dapat ditemukan.

Artikel ini memberikan informasi bagaimana mencari informasi secara cepat dan relevan menggunakan search engine Google, yang merupakan search engine yang paling populer dewasa ini.

clip_image002

Dengan search engine ini, kita tinggal memasukkan suatu “kata kunci” kedalam kotak pada Google dan tinggal Enter atau tekan tombol Google Search, maka dalam sekejap akan menghasilkan informasi yang berkaitan atau relevan dengan yang kita inginkan. Namun apabila kita hanya mengetikkan “kata kunci” saja maka kita masih mendapatkan informasi yang sangat banyak, bersifat umum, dan mungkin malah tidak relevan.

Jika kata kunci dimasukkan, misalnya “Indonesia” dan tombol “Google Search” dipilih, maka aplikasi search engine akan mencari di seluruh komputer yang terhubung ke internet, berbagai jenis data baik dalam bentuk dokumen, gambar, audio, maupun video yang di dalamnya terdapat teks bertuliskan kata “indonesia”. Terlihat dari informasi hasil pencarian tersebut bahwa Google menemukan ada sekitar 255,000,000 artikel atau pun dokumen (dalam bentuk beragam format) yang terdapat kata “indonesia” di dalamnya. Jadi dengan hanya mengetikkan kata kunci tanpa tahu cara yang tepat maka informasi yang diperoleh menjadi terlalu banyak dan kurang relevan. Dengan demikian maka perlu bagi kita untuk mengetahui bagaimana teknik menyaring informasi yang relevan.

Teknik Menyaring Informasi yang Relevan

Dari contoh tersebut diatas maka akan ditemukan jutaan situs yang berkaitan dengan kata “indonesia”. Tentunya untuk mempersempit informasi yang diperoleh harus ada teknik yang dipergunakan untuk hal tersebut. Ada dua teknik dasar yang biasa dipergunakan, yaitu dengan menggunakan simbol-simbol matematika dan simbol-simbol boolean. Simbol-simbol matematika antara lain adalah tanda + , -, dan “ “. Sedangkan simbol-simbol boolean adalah OR, AND, NOT, NEAR. Selain teknik dasar ini ada juga yang disebut sebagai Power Searching. Yang meliputi host searching, Special URL Searching, Filetype Searching, Title Searching, dan Wildcard Searching. Disamping itu search engine mempunyai beberapa fasilitas bantuan pencarian seperti Related Searches, Clustering, Find Similar, Stemming, Search Within, Spidered Version, Search By Language, Page Translation, dan Porn Filter. Untuk keperluan pencarian informasi yang relevan ini maka tidak semua fitur dari searching engine ini dibahas disini.

Dalam artikel ini, akan dibahas mengenai bagaimana mencari informasi yang berkaitan dengan bidang kemiliteran. Perlu juga disampaikan pencarian menggunakan kata kunci dalam bahasa inggris karena apabila menggunakan bahasa indonesia akan sedikit sekali informasi yang ditemukan, karena jarang personel dari bidang ini yang menulis di internet dan kalaupun dipaksakan berdasarkan pengalaman penulis yang sering muncul hanya url dephan.go.id, tni.mil.id, tniad.mil.id, dan tnial.mil.id yang merupakan situs resmi lembaga-lembaga tersebut.

Contoh Pencarian Informasi

Untuk mencari Informasi yang berkaitan dengan tentara nasional indonesia maka apabila hanya diketikkan tentara nasional indonesia akan muncul informasi sebanyak 463,000 artikel. Dengan demikian terlalu banyak informasinya. Kita bisa mempersempit dengan menggunakan tentara+nasional+Indonesia., ternyata hasilnya tetap sama. Maka kita bisa menggunakan “tentara nasional indonesia” . Ternyata dengan teknik ini muncul 264,000 artikel, dan jumlah ini masih terlalu banyak. Sehingga diperlukan teknik khusus untuk mempersempit pencarian informasi tersebut. Misalnya hanya mencari informasi mengenai tentara nasional indonesia tetapi dari situs di Indonesia saja. caranya dengan mengetik: ”tentara nasional indonesia” inurl:.id, ternyata dengan teknik ini muncul 180,000 artikel, jumlah ini ternyata masih sangat besar. Harus ada pembatasan lagi mengenai informasi yang diinginkan, misalnya dalam format dokumen microsoft word, caranya dengan mengetik ”tentara nasional indonesia” inurl:.id filetype:doc. Ternyata dengan teknik ini muncul 605 artikel. Dengan teknik ini kita mampu mempersempit pencarian dengan cepat. Ini masih bisa disempitkan lagi misalnya informasi yang hanya TNI tanpa kepolisian. Caranya dengan mengetik : ”tentara nasional indonesia” - kepolisian inurl:.id filetype:doc. Ternyata dengan teknik ini muncul 543 artikel. Untuk Google belum tersedia fasilitas untuk mensyaratkan jumlah kata dalam artikel. Apabila menggunakan AOL Search bisa dilakukan hal tersebut dengan cara : ”tentara nasional indonesia”, akan dihasilkan 20,000 artikel, apabila dibatasi jumlah katanya 1000 dengan mengetikkan ”tentara nasional indonesia” /1000 maka akan hanya muncul 946 artikel.

Kemampuan Apa saja yang dimiliki Google Search

Secara lengkap bisa dilihat di halaman google.co.id dan klik Penelusuran lanjutan dengan alamat http://www.google.co.id/advanced_search?hl=id atau dicari di url berikut ini yaitu: http://www.google.com/intl/en/help/features.html. Namun demi alasan kepraktisan tulisan berikut ini hanya merupakan resume dari kedua sumber tersebut. Secara umum, jenis pencarian di Google mempunyai dua kemampuan yaitu: Basic Search dan Advanced Search. Basic Search adalah fitur pencarian yang sudah biasa kita gunakan yaitu ketika mengakses langsung google.com. Sedangkan Advanced Search menyediakan berbagai pilihan fitur pencarian baik untuk operator dasar, file format yang ingin kita cari, bahasa, daerah dan sebagainya. Sebenarnya masih sangat banyak fitur pencarian yang bisa kita gunakan, tapi tidak terdapat di menu pilihan Advanced Search. Jadi kita harus memasukannya query di kotak pencarian di Basic Search secara langsung.

Berikut ini beberapa daftar kemampuan yang dimiliki oleh Google yang bisa dicari dengan memasukkan query bersama dengan operator lain di kotak pencarian Google.

a. Fitur Pencarian Dasar

1. AND: Mencari informasi yang mengandung kedua kata yang dicari. Bisa menggunakan salah satu dari tiga alternatif berikut:

tentara AND nasional AND indonesia

tentara+nasional + indonesia

2. OR: Mencari informasi yang mengandung salah satu dari kedua kata. Bisa menggunakan salah satu dari dua alternatif berikut:

tentara OR laskar

tentara | laskar

3. FRASE: Mencari informasi yang mengandung frase yang dicari dengan menggunakan tanda “”.

“tentara+nasional + indonesia”

4. NOT: Hasil pencarian mengandung kata yang di depan, tapi tidak yang dibelakang minus (-). Contoh di bawah akan mencari informasi yang mengandung kata tentara nasional tapi bukan tentara nasional indonesia.

Tentara nasional – indonesia

5. SINONIM (~): Mencari kata beserta sinonim-sinonimnya. Contoh di bawah akan membawa hasil pencarian: soldier dan sinonim-sinonimnya seperti war, mercenaries dan sebagainya.

~soldier

6. ASTERIK (*): Karakter pengganti kata. Dari contoh di bawah, hasil yang didapat bisa: tentara nasional indonesia, tentara allah indonesia, tentara islam indonesia, tentara baik indonesia, tentara daerah indonesia dan sebagainya.

tentara * indonesia

7. TANDA TITIK (.): Karakter pengganti huruf, angka dan karakter tunggal. Dari contoh di bawah, hasil yang didapat bisa: topi, toni, toti, tori, tomi, dan sebagainya.

to.i (dalam percobaan tidak sesuai dengan yang diinginkan)

8. CASE INSENSITIVE: Pencarian di Google menganggap kapital dan bukan kapital sebagai sesuatu yang sama. Jadi, tentara nasional indonesia, Tentara NASIONAL iNDOnesia akan membawa hasil pencarian yang sama

9. PENGABAIAN KATA: Google mengabaikan keyword berupa karakter tunggal dan kata-kata berikut: a, about, an, and, are, as, at, b, by, from, how, i , in, is, it, of, on, or, that, the, this, to, we, what, when, where, which, with. Apabila kita masih tetap menginginkan pencarian kata tersebut, bisa dengan menggunakan karakter + di depan kata yang dicari.

10. I’M FEELING LUCKY (SAYA LAGI BERUNTUNG): Akan membawa kita langsung menuju ke hasil pencarian pertama dari query kita

Tentara nasional indonesia akan langsung menuju pada halaman http://www.tni.mil.id/

b. Fitur Pencarian Lanjut

1. DEFINE: Mencari definisi dari sebuah terminologi. Dari contoh di bawah, hasil yang didapat adalah berbagai definisi tentang e-learning dari berbagai sumber

define:tentara apabila definisinya ada akan ditampilkan tetapi apabila definisinya tidak ada akan disampaikan tidak ada definisinya.

2. CACHE: Menampilkan situs web yang telah diindeks oleh Google meskipun sudah tidak aktif lagi. Contoh di bawah akan menghasilkan pencarian kata elearning pada situs pusinfolahtatni.mil.id yang ada di indeks Google.

cache:pusinfolahtatni.mil.id elearning

3. LINK: Menampilkan daftar link yang mengarah ke sebuah situs. Contoh di bawah akan menampilkan daftar link yang mengarah ke situs pusinfolahtatni.mil.id

link: pusinfolahtatni.mil.id

4. RELATED: Menampilkan daftar situs yang serupa, mirip atau memiliki hubungan dengan suatu situs

related: pusinfolahtatni.mil.id

5. INFO: Menampilkan informasi yang Google ketahui tentang sebuah situs

info: pusinfolahtatni.mil.id

6. SITE: Menampilkan pencarian khusus di suatu situs yang ditunjuk

java site:pusinfolahtatni.mil.id

site: pusinfolahtatni.mil.id

7. FILETYPE: Menampilkan hasil pencarian berupa suatu jenis (ekstensi) file tertentu. Jenis file yang bisa dicari adalah: pdf, ps, dwf, kml, kmz, xls, ppt, doc, rtf, swf. Contoh di bawah akan menampilkan hasil pencarian berupa file PDF yang mengandung keyword tentara nasional indonesia

tentara nasional indonesia filetype:pdf

8. ALLINTITLE: Menampilkan seluruh kata yang dicari dalam TITLE halaman. Contoh di bawah akan menghasilkan halaman yang memiliki title Tentara Nasional. allintitle ini tidak dapat digabungkan dengan operator (sintaks) lain. Gunakan intitle untuk keperluan tersebut.

allintitle:tentara nasional

9. INTITLE: Menampilkan satu kata yang dicari dalam TITLE halaman. Contoh di bawah akan menghasilkan halaman yang memiliki title tentara dan isi halaman yang mengandung kata nasional

intitle:tentara nasional

10. ALLINURL: Menampilkan seluruh kata yang dicari di dalam URL. Contoh di bawah akan menghasilkan daftar URL yang mengandung kata tentara dan nasional. allinurl ini tidak dapat digabungkan dengan operator (sintaks) lain. Gunakan inurl untuk keperluan tersebut.

allinurl:tentara nasional

11. INURL: Menampilkan satu kata yang dicari di dalam URL. Contoh di bawah akan menghasilkan daftar URL yang mengandung kata tentara dan isi halaman yang mengandung kata nasional

inurl:tentara nasional

Pencarian informasi yang kita lakukan akan semakin efektif apabila kita menggabungkan beberapa operator baik yang ada di fitur pencarian dasar maupun lanjut. Misalnya, kita ingin mencari file-file PDF yang ada di situs http://www.tni.mil.id/. Maka kita gabungkan dua operator menjadi: filetype:pdf site:www.tni.mil.id

Disamping fitur-fitur di atas Google juga bis digunakan untuk keperluan-keperluan seperti berikut ini:

1. Perhitungan matematika sederhana.

Mesin cari Google bisa melakukan perhitungan matematika sederhana seperti penjumlahan, perkalian, pembagian atau pengurangan, karena memiliki kemampuan fungsi sebagai kalkulator. Ketikkan angka yang ingin dihitung beserta tanda perhitungannya ke dalam kotak mesin cari, misalnya: 17+8*45, lalu tekan tombol Enter atau klik tombol Search di Google.

2. Konversi mata uang.

Fasilitas konversi mata uang juga tersedia di mesin cari Google. Cukup ketikkan angkanya diikuti tanda  mata uangnya yang ingin dikonversi dari mata uang tertentu ke mata uang yang diinginkan di kotak mesin cari, misalnya: 100 USD in IDR, lalu tekan Enter.

3. Melihat waktu di berbagai kota di seluruh dunia.

Anda bisa mencari tahu waktu lokal di sebuah kota atau negara lain. Cukup ketikkan time in [nama kota/negara] di kotak pencarian untuk mencari tahu dengan mudah waktu lokal di sebuah kota/negara. Misal: time in [Jakarta].

4. Konversi unit.

Selain berfungsi sebagai kalkulator, mesin cari Google juga bisa mengkonversi ukuran. Misalnya: 100 inch in meter.

Demikian uraian singkat mengenai penggunaan Google untuk mencari informasi dengan tepat dan cepat khususnya untuk membantu menyelesaikan tugas-tugas akademik yang diberikan.

Semoga Bermanfaat.

Budiman S. Pratomo

Pusinfolahta TNI

budiman@dephan.go.id

Baca selengkapnya . . .

05 Juli 2009

Implikasi Pemanfaatan Internet terhadap Pendidikan di Seskoad

( Letkol Czi. Budiman S. Pratomo )

Pendahuluan

Internet adalah singkatan dari Interconnection Network yang secara harafiah berarti hubungan antar jaringan (network). Sedangkan network sendiri diartikan sebagai suatu sistem komunikasi data antar komputer. Jadi pengertian internet secara umum adalah kumpulan dari jaringan komputer yang terhubung dan bekerja sebagai suatu sistem.

Internet, pada awalnya digunakan hanya sebatas oleh Departemen Pertahanan AS, namun sejak 1986, internet mulai diadopsi untuk keperluan non militer dan mulai 1991 dibuka untuk kepentingan komersial. Secara khusus di Indonesia, menurut Internet World Stats, jumlah penggunanya semakin meningkat. Apabila pada tahun 2000 baru berjumlah 2 juta orang, pada tahun 2008 menjadi 25 juta orang. Dengan pengguna yang semakin banyak ini, secara teoritis militer yang merupakan “agent of change” mestinya mempunyai populasi pengguna internet yang paling tinggi pula. Dengan demikian mestinya di Seskoad, sebagai strata pendidikan yang tertinggi di TNI AD, internet sudah merupakan suatu kebutuhan dan setiap orang khususnya staf pengajar serta staf pelaksana pendidikan mestinya sudah menggunakannya.

Ada suatu pertanyaan besar yang mengganggu pikiran penulis, apakah internet sudah dapat dimanfaatkan secara baik untuk pendidikan di lingkungan Seskoad karena adanya satu hambatan yaitu budaya membaca yang penulis yakini masih sangat rendah di lingkungan TNI AD, tentunya termasuk di Seskoad. Mengapa? Karena internet sebagai teknologi telah melahirkan suatu budaya baru yang disebut sebagai Cybercultures yang mempersyaratkan empat hal yang berkaitan erat dengan kebiasaan membaca. Empat hal tersebut adalah membaca di layar komputer (screen-reading), mampu memahami gejala multisemiotis (banyak tanda), memiliki kemampuan berbahasa asing terutama bahasa Inggris, dan memiliki keberaksaraan digital (digital literacy). (P. Ari Subagyo, 2009). Dengan budaya baru tersebut maka pemanfaatan internet dalam bidang pendidikan tentunya akan memunculkan tantangan baru bagi Seskoad yang secara umum meliputi penyediaan sarana yang berorientasi cyber dan menciptakan kultur belajar sesuai tuntutan cybercultures.

Tulisan ini akan membahas mengenai konsekuensi pemanfaatan internet sebagai sarana untuk memajukan pendidikan dan konsep pemanfaatannya melalui e-Learning agar dapat mencapai sasaran khususnya di lingkungan Seskoad.

Budaya jagat maya (Cybercultures)

David Bell (2001) dalam bukunya An Introduction to Cybercultures mengatakan “Sitting here, at my computer, in cyber space.” Apa yang ditulis oleh Bell ini ternyata saat ini sudah menjadi bagian dari hidup kita dan sudah menjadi persoalan kita bersama. Ternyata Internet menghasilkan gaya hidup yang baru, menampilkan isu-isu baru, membuka peluang baru untuk berbisnis, peluang baru untuk belajar, dan bahkan menimbulkan kecemasan-kecemasan yang baru bagi banyak orang. Sebagai contoh, pornografi, perampasan atas privasi seseorang, penipuan, carding, bahkan adanya Facebook sempat menjadi polemik dan bahkan sudah menimbulkan wacana sebagai barang haram.

clip_image002 clip_image004 clip_image006 clip_image008

Seperti telah penulis singgung di bagian pendahuluan bahwa Internet mempersyaratkan suatu kebiasaan atau budaya yang berkaitan erat dengan membaca yaitu: Pertama, membaca di layar komputer (screen-reading). Apabila jaman dahulu orang membaca buku maka pasti ada buku (hard copy) berupa kertas yang ditulisi dan formatnya biasanya tertentu, namun di internet, buku tersaji di layar komputer tanpa kertas (paperless) dengan format yang bisa sama dan bisa berbeda dengan buku konvensional. Yang jelas perubahan ini menuntut sikap dan kebiasaan yang berbeda untuk dapat memanfaatkan internet ini dengan maksimal.

clip_image010

Kedua, mampu memahami gejala multisemiotis (banyak tanda), Dalam internet, teks tidak hanya berupa tulisan, tetapi juga tanda visual, seperti emoticons. Maka, internet menuntut kita juga harus mampu memahami tanda-tanda tersebut yaitu disebut sebagai synaesthesia, yakni kemampuan memahami aneka tanda untuk menangkap apa yang dinyatakan oleh teks dan bagimana teks itu menyatakannya.

clip_image012

Ketiga, memiliki kemampuan berbahasa asing. Banyak informasi di internet ditulis dalam bahasa asing, terutama dalam bahasa Inggris. Kenyataan ini kadang-kadang merupakan suatu hambatan bagi kita untuk memperoleh informasi (walaupun sudah banyak dikembangkan fasilitas penerjemah). Tetapi tidak dapat dimungkiri bahwa pemahaman bahasa asing (khususnya Inggris) menjadi suatu keharusan yang tidak bisa dihindari lagi, apalagi bila mencari informasi di Internet.

clip_image014

Keempat, memiliki keberaksaraan digital (digital literacy). Internet menuntut suatu keterampilan bagi pemakainya untuk mengoperasikan program komputer, membuka halaman-halaman internet (websites), membuka link internet, mencari informasi menggunakan sarana searh engine, serta bagaimana memilah pengetahuan atau informasi yang diperolehnya. Secara ringkas apabila di dunia pendidikan dapat dirumuskan dalam kemampuan dasar pengoperasian komputer (computer literacy), yang terdiri dari tiga bagian besar yaitu: pengetahuan dasar komputer, pengoperasian paket perangkat lunak (software), dan pengoperasian internet.

clip_image016

Jadi, jelas bahwa pemanfaatan internet dalam bidang pendidikan akan menuntut kebiasaan atau budaya yang baru seperti yang digambarkan dalam cybercultures yang sangat erat kaitannya dengan kegemaran membaca.

Budaya Membaca di lingkungan TNI

Dari pengamatan penulis yang tentunya bukan merupakan hasil suatu penelitian yang bersifat kuantitatif dapat disimpulkan bahwa minat baca di kalangan anggota TNI sangat rendah. Dari data yang ada di Perpustakaan TNI, yang merupakan perpustakaan besar dan dirancang secara modern menggunakan komputerisasi, ternyata kehadiran anggota TNI sangat rendah. Dari data buku tamu terlihat pengunjung perhari rata-rata adalah 2 sampai 7 orang. Hal ini mengisyaratkan bahwa minat baca di lingkungan TNI sangat rendah.

Secara tersirat pun tampak dari pernyataan-pernyataan pejabat kita yang dapat dilihat dari berita-berita berikut ini. “Pameran itu dimaksudkan sebagai salah satu bentuk persembahan Angkatan Udara untuk menjawab tantangan atas menurunnya kebiasaan membaca dan menulis akhir-akhir ini. Sebaliknya semakin maraknya program-program hiburan melalui tayangan televisi telah menyita sebagian besar waktu serta minat baca dan tulis pemirsanya, kata Kadispenau” (http://www.pelita.or.id/baca.php?id=26781). “Sebagaimana kita semua menyadari, bahwa budaya membaca masih belum merupakan suatu hal yang menjadi "kebutuhan" bagi bangsa kita pada umumnya dan prajurit TNI pada khususnya. Melalui perpustakaan yang dikelola dengan manajemen modern yang baik, diharapkan dapat meningkatkan minat "membaca" yang sangat bermanfaat dalam pengembangan diri, melalui wawasan dan akses informasi”
(http://www.tni.mil.id/news.php?q=dtl&id=3). Dalam rangka memperingati Hari Dharma Samudera tahun 2009, Dinas Penerangan TNI AL (Dispenal) telah menyelenggarakan kegiatan Lomba Karya Tulis (LKT). LKT bertujuan untuk meningkatkan minat membaca dan menulis di kalangan Keluarga Besar TNI Angkatan Laut dan masyarakat umum.( http://www.tni.mil.id/news.php?id=113012006120882&q=dtl).

Dari pengamatan dan berita di atas dapat disimpulkan bahwa minat membaca di kalangan anggota TNI adalah rendah, dengan demikian kemungkinan besar di Seskoad pun minat membaca ini juga rendah.

Pemanfaatan Internet di Seskoad

Secara umum dapat dikatakan bahwa internet sangat bermanfaat dalam menunjang dan mendukung penyelenggaraan pendidikan yang modern. Aplikasi dalam bidang pendidikan yang umum dilaksanakan adalah menggunakan aplikasi e-Learning. Dengan menggunakan aplikasi ini maka pendidikan dapat dilaksanakan dengan lebih mudah dan lebih baik karena kendala ruang dan waktu menjadi tidak masalah lagi.

Di Seskoad pun infrastruktur internet sudah dibangun sejak beberapa tahun yang lalu dan sudah beroperasi, bahkan jaringan wireless pun sudah ada. Namun pemanfaatannya belum banyak, baru sekedar sebagai  sarana “memperkenalkan internet” kepada para anggotanya dan para siswanya. Secara konseptual pembangunan e-Learning di Seskoad sejauh pengetahuan penulis belum ada, karena untuk mampu membangun e-Learning mempersyaratkan adanya tenaga ahli di bidang pendidikan (di Seskoad pasti ada), database mengenai kajian strategis dari level strategis sampai dengan taktis (mestinya di Seskoad ada, namun penulis agak ragu), kemampuan pembangunan pengetahuan (knowledge building) dan pengelolaan pengetahuan (knowledge management). Dua kemampuan yang disebut terakhir ini rasanya belum dimiliki oleh Seskoad. Memang untuk dapat membangun pengetahuan dan mengelolanya memerlukan kemampuan khusus dan syaratnya mutlak didukung oleh minat membaca yang sangat tinggi. Dari fakta yang penulis kemukakan di atas, tampaknya karena kemungkinan minat membaca yang rendah di lingkungan Seskoad, rasanya untuk membangun e-Learning menjadi sesuatu yang agak berat, sebab memerlukan keahlian dalam mengelola pengetahuan. Kesimpulan sementara penulis ini ternyata didukung pula oleh pernyataan seorang penulis yang mengatakan: “...pudarnya etos membaca sebenarnya mengisyaratkan bencana (besar), yakni runtuhnya pengelolaan pengetahuan (knowledge management) dan pembangunan pengetahuan (knowledge building) masyarakat Indonesia. Padahal, dalam masyarakat dengan budaya dan etos membaca tinggi, internet justru mendukung pengelolaan dan pembangunan pengetahuan” (P. Ari Subagyo, Kompas 30 Mei 2009)

Bagaimana Sebaiknya Pemanfaatan Internet di Seskoad

Ada pertanyaan skeptis yang banyak ditanyakan oleh pejabat di lingkungan TNI yang cukup sulit dijawab, yaitu, apakah dengan internet bisa menjamin pendidikan lebih baik dan maju? Sementara dahulu Shakespeare bisa menulis dengan hebat, Verdi bisa menulis lagu dengan hebat, Jengis Khan juga jadi panglima hebat, dan Eisenhower juga menjadi jenderal hebat dan mereka semua tidak memerlukan internet. Memang, internet bukan merupakan satu-satunya sarana untuk memajukan pendidikan namun dengan memberikan akses internet setidaknya akses terhadap informasi yang mutakhir dari seluruh dunia akan dapat dilakukan dengan cepat dan yang pasti mempercepat penyelesaian tugas dengan lebih baik dan akurat, disamping mampu menghilangkan hambatan ruang dan waktu yang merupakan hal yang paling berharga bagi para gumil dan serdiknya.

Seperti penulis sebutkan pada awal tulisan ini, pemanfaatan internet mensyaratkan keberaksaraan digital (digital literacy) yang dalam dunia pendidikan secara umum dikenal sebagai literasi komputer (computer literacy). Dengan demikian, agar pemanfaatan internet di Seskoad dapat mencapai tujuan dengan baik untuk menuju pada aplikasi e-Learning yang harus diupayakan adalah: Pertama, para anggotanya setidaknya mempunyai kemampuan literasi komputer. (Untuk Literasi Komputer akan dibahas tersendiri dalam satu tulisan). Dengan anggotanya sudah memiliki kemampuan literasi komputer, maka pemanfaatan internet ini akan menjadi lebih baik, secara khusus hambatan mengoperasikan sudah tidak menjadi masalah lagi. Sehingga yang harus dilakukan oleh Seskoad adalah melakukan pembekalan mengenai literasi komputer kepada anggotanya maupun kepada para siswanya. Dengan demikian maka paling tidak, Seskoad seyogyanya memasukkan literasi komputer dalam kurikulumnya. (Memang selama ini Seskoad mempersyaratkan kepada pasisnya harus sudah mempunyai kemampuan komputer, namun apa yang menjadi ukuran kemampuan itu sampai sekarang juga tidak jelas. Bahkan di lingkungan TNI AD pun belum pernah ada tes literasi komputer, bahkan kalau ditanyakan ke bagian Infolahta pun jangan-jangan tidak tahu apa itu literasi komputer).

Berikutnya, pemanfaatan internet di Seskoad dapat digunakan untuk mendukung pembentukan pengetahuan (knowledge building) dan ini mempersyaratkan pengetahuan kemampuan di bidang strategi (yang pasti di Seskoad juga tidak banyak personelnya). Setelah itu, internet dapat digunakan sebagai penyusun “bank pengetahuan” (knowledge repository), yang untuk menyusunnya memerlukan pengetahuan yang cukup dalam bidang pengelolan pengetahuan (knowledge management) (di Seskoad penulis belum mengetahui apakah ada ahlinya atau tidak). Setelah kondisi itu terpenuhi, maka Seskoad siap untuk menyusun e-Learning yang benar yang bukan hanya sekedar menempelkan hanjar digital saja, tetapi benar-benar mengikuti manajemen pendidikan yang sesuai dengan proses bisnis yang selama ini berjalan di Seskoad.

Demikianlah saran pemanfaatan internet untuk dapat digunakan di lingkungan Seskoad khususnya untuk mendukung pendidikan dengn konsep e-Learning.

Semoga Bermanfaat

Budiman S. Pratomo

Pusinfolahta TNI

budiman@dephan.go.id

Baca selengkapnya . . .