18 Januari 2010

Dikreg Seskoad Tahap I Korespondensi

     Tahun ini akan dilaksanakan Dikreg model korespondensi khusus untuk tahap I (lk 3 bulan). Model ini pernah dilakukan pada Selapa dan juga pada KSPS (Kursus Strategi Perang Semesta). Sekalipun TNI AD pernah menyelenggarakan model pendidikan korespondensi, namun kelihatannya TNI AD belum mampu mengatasi kendala mendasar model pendidikan ini, yakni masalah interaksi, baik antara dosen dengan siswa maupun antar sesama siswa. Sebagai contoh, selama korespondensi materi yang diberikan hanya materi yang bersifat teori, sementara materi yang bersifat diskusi diberikan pada tahap II (in campus). Apakah metode diskusi tidak bisa dilaksanakan pada tahap korespondensi ? Tentu saja bisa.

     Sekarang ini bukan lagi menjadi hal yang sulit melakukan interaksi pada ruang berbeda dan waktu berbeda. Pada awal belum ada teknologi interaksi dilakukan pada ruang dan waktu yang sama. Dengan ditemukannya telepon, manusia mulai bisa berinteraksi pada ruang yang berbeda namun waktunya sama, dengan kehadiran internet interaksi semakin menarik karena bisa menampilkan audio dan visual, tidak semata audio saja. Internet juga memungkinkan manusia untuk berinteraksi pada ruang dan waktu yang berbeda contohnya fasilitas docs google yang memungkinkan kita melakukan online collaborations. Misalnya, dulu kalau Pasis ditugaskan membuat semacam tulisan kelompok, biasanya ketua kelompok membagi tugas si A membuat bab I, si B membuat bab II, dst. Ketika tulisan tersebut digabungkan, ternyata isi antar bab saling tidak menyambung ( Jaka Sembung Bawa Golok), karena para pasis biasanya mengerjakan tugas sambil IB. Dengan online collaborations hal itu tidak perlu terjadi, karena sekalipun para pasis mengerjakan di tempat yang berbeda, mereka dapat mengerjakannya bersama-sama. Ketika si A membuat Bab I, dia dapat langsung melihat apa yang dikerjakan si B, si C, dst. Demikian juga si B dapat melihat pekerjaan si A dan si C.

     Secara pribadi saya prihatin dengan tingkat kepedulian para perwira yang rodo sepuh terhadap implementasi teknologi dalam kehidupan militer sehari-hari. Banyak kemudahan dan kecepatan bahkan penghematan yang dapat kita peroleh dari teknologi, tapi masalahnya banyak diantara kita yang masih butek (buta teknologi) dan gaptek (gagap teknologi). Kalau perwira lulusan 80 an masih banyak yang butek bin gaptek, mudah-mudahan untuk perwira lulusan 90 sudah jauh lebih baik, dan untuk lulusan 2000 sudah sadar teknologi semua. Kalau tidak, maka Angkatan Darat kita ini akan semakin terpuruk saja (mudah-mudahan tidak menjadi seperti Dinosaurus – dahulu kala pernah ada yang namanya TNI AD).

     Dalam kapasitas saya sebagai dosen, untuk materi yang saya pegang (di Departemen Juang) saya akan coba untuk mewajibkan interaksi berupa diskusi (ruangnya sedang saya pertimbangkan apakah di blog ini atau akan saya buat ruang diskusi di facebook). Mudah mudahan ini bisa mentriger kesadaran para perwira lainnya, khususnya rekan rekan dosen dan Seskokad. Saya memimpikan suatu ketika ada Dikreg Seskoad Virtual agar seluruh perwira TNI AD pernah merasakan pendidikan Seskoad tanpa harus ada seleksi-seleksi lagi. Mudah-mudahan . . . . , Mari para perwira muda kita wujudkan itu.

4 komentar:

  1. Yth. Bpk Dosen.

    Saya salut dengan konsistensi Pak Dosen yang memiliki pemikiran-pemikiran visioner dan selalu berusaha untuk menularkannya demi kemajuan TNI AD di masa depan, termasuk pemikiran tentang interactive discussion berbasis konsep e-learning yang menjadi inti tulisan ini dan telah banyak dikembangkan oleh berbagai institusi, khususnya di negara-negara maju. Walaupun seringkali mendapat resistensi atau mungkin “ke-tidak senang-an” dari berbagai pihak, namun Pak Dosen tetap mampu bertahan dengan idealismenya.

    Metode korespondensi yang mulai dicoba oleh Seskoad pada TP. 2010 ini mungkin dimaksudkan sebagai embrio untuk memulai sistem e-learning di lingkungan TNI AD demi efektifitas operasional pendidikan serta efisiensi waktu dan anggaran. KSPS dan Lemhanas telah memulainya sejak beberapa waktu yang lalu. Namun menurut saya, masih ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan:

    Untuk penerapan metode korespondensi:

    1. Mentalitas kita yang secara umum masih belum siap untuk bekerja keras dan percaya pada kemampuan sendiri akan sangat mempengaruhi orisinalitas pekerjaan siswa yang belajar melalui metode korespondensi ini. Mayoritas perwira yang menjadi siswa pada pendidikan setingkat Seskoad atau diatasnya adalah perwira menengah yang telah banyak memiliki anakbuah, teman dan bahkan uang. Sebagian dari mereka bahkan sudah cukup lama merasa nyaman dengan pola kehidupan seorang komandan atau “bos” sehingga tidak terbiasa untuk “melakukan pekerjaan dengan tangannya sendiri”. Dengan metode korespondensi ini, maka siswa yang memiliki karakter tersebut akan dengan sangat mudah memerintah anakbuahnya, atau meminta tolong temannya, atau membayar orang untuk mengerjakan tugas-tugas yang diberikan, sehingga produk yang dihasilkan tidak orisinil. Kalau dengan menggunakan metode in campus yang terawasi seperti selama ini saja produk siswa masih lebih dari 50% tidak orisinil karena dikerjakan oleh operator, maka akan lebih sulit dijamin orisinalitas produk siswa apabila menggunakan metode korespondensi.

    2. Dengan metode in campus yang terawasi dan terbimbing secara langsung oleh para patun selama ini, masih banyak produk siswa yang kurang berkualitas, maka bagaimana jadinya apabila pada metode korespondensi ini para siswa masih harus dibebani oleh rutinitas pekerjaan kantor masing-masing serta tidak terbimbing secara langsung.

    3. Berkait dengan point 2, apabila yang berlaku adalah sebaliknya, yaitu para siswa koresponden ini dibebas tugaskan dari pekerjaan kantor dan berkonsentrasi pada tugas-tugas sekolah, maka yang membedakan dengan metode in campus hanyalah tempat belajarnya saja. Justru para siswa ini tidak akan terkontrol. Kalau ini yang terjadi, maka seolah-olah korespondensi hanya bertujuan untuk “pengiritan biaya operasional pendidikan” karena tidak harus memberi makan dan akomodasi kepada siswa.

    4. Korespondensi mungkin dapat meringankan siswa yang tinggal atau bertugas di pulau Jawa, tetapi lebih memberatkan mereka yang tinggal atau bertugas di luar Jawa. Sebagai sebuah ilustrasi, seorang siswa yang berasal dari Merauke harus mengeluarkan biaya yang besar hanya sekedar untuk mengikuti upacara pembukaan pendidikan dan kemudian kembali ke Merauke. Ketika sebulan atau dua bulan kemudian dia menjadi Pamen Kodam, maka dia harus bergeser juga dari Merauke ke Jayapura yang biayanya tidak lebih murah dibandingkan kalau dia bergeser ke Jawa. Karena tidak ada fasilitas internet di kantornya, maka dia juga harus berlangganan internet sendiri, yang tentu saja memerlukan biaya yang diambilkan dari jatah bulanan keluarganya. Ketika dia harus masuk ke tahap in campus, maka dia harus mengeluarkan biaya lagi untuk pergeseran ke Jawa dan seterusnya….. dan seterusnya……

    BalasHapus
  2. Untuk gagasan tentang online discussion:

    1. Online discussion dapat dilaksanakan tanpa mengurangi kualitas sasaran yang diharapkan apabila peserta diskusi memiliki kemampuan yang relatif seimbang terhadap materi diskusi. Peran Dosen lebih bersifat memfasilitasi karena kemampuannya juga tidak terlalu superior. Tetapi kalau melihat realitas yang ada selama ini, saya agak ragu apabila online discussion akan menghasilkan output yang optimal. Sejauh ini, saya melihat bahwa interaksi face to face masih lebih relevan untuk diterapkan, walaupun hasilnya pun juga tidak optimal (karena lebih banyak siswa yang tidur)

    2. Saya menyarankan kepada Pak Dosen untuk tidak menggunakan fasilitas seperti blog atau facebook sebagai sarana mendiskusikan materi pelajaran dengan siswa, karena fasilitas-fasilitas tersebut sangat mudah di akses oleh publik tanpa kita ketahui identitasnya. Orang-orang iseng akan dengan sangat mudah mengacaukan suasana diskusi yang dilaksanakan. Untuk docs google saya kira cukup memadai sebagai sarana kerja kelompok atau konsultasi tulisan siswa kepada dosen.

    Saya kira ini tanggapan saya terhadap penerapan metode korespondensi dan gagasan Pak Dosen tentang online discussion.

    Bagaimanapun juga, saya tetap salut dengan konsistensi Pak Dosen untuk ber-pemikiran visioner.

    LANJUTKAN…!!!

    BalasHapus
  3. Dik Hamim,
    Terimakasih komentarnya yang sangat positip dan membangun.
    Ide korespondensi ini berasal dari pimpinan Angkatan Darat yang harus kita respons dengan segenap hati dan pikiran, walaupun para Pasis mungkin saja terjadi yang seperti dik Hamim bayangkan. Namun saya kira kita positip thinking saja, saya juga yakin masih banyak perwira-perwira yang memiliki komitmen dan prinsip yang kuat. Kalau masih terjadi perwira yang dik Hamim maksud dan sukses lagi menduduki jabatan-jabatan yang sebenarnya tidak pantas untuknya . . . . kita terima saja, karena itu adalah bagian dari KEHIDUPAN. Kejahatan masih kita perlukan untuk mendapatkan kebaikan. Tanpa kejahatan kita tidak akan tahu kebaikan, tanpa ada kegelapan kita tidak pernah tahu seperti apa terang. Tuhan memberikan kewenangan kepada kita untuk menggunakan pilihan kita secara bebas.
    Tentang diskusi online, karena hanya saya yang menerapkan sekaligus untuk memberikan sample bagi dosen yang lain, dan juga materinya bersifat umum maka sementara saya gunakan blog ini saja dulu. Terimakasih.

    BalasHapus
  4. Komentar saya sebenarnya tidak bermaksud untuk negative thinking terhadap kebijakan perubahan ini. Saya hanya mencoba untuk berpikir realistis bahwa masih banyak permasalahan yang lebih substansial untuk diatasi, sehingga mungkin perubahan itu dapat dimulai dari hal-hal yang lebih substansial tersebut.

    Namun demikian, karena kebijakan itu sudah dikeluarkan, maka tidak ada jalan lain bagi kita semua kecuali mendukung dan melaksanakannya dengan sepenuh hati. Sambil berdo'a dan berusaha untuk juga mengimbanginya dengan perbaikan-perbaikan terhadap sub-sistem yang lain.

    Secara pribadi sih, saya nyaman-nyaman aja dengan perubahan apapun yang dilakukan terhadap pendidikan Seskoad, karena saya sudah melewatinya.

    Tentang diskusi online, saya paham betul bahwa masih sangat sedikit pasis maupun dosen yang memanfaatkan sarana teknologi online ini. Bahkan fasilitas intranet yang sudah terpasang di tiap-tiap kamar di seskoad saja sangat jarang digunakan. Namun demi keamanan dan kenyamanan, menurut saya mendingan menggunakan fasilitas Yahoo Messenger aja, karena hanya orang yang diundang saja yang dapat mengikuti diskusi tersebut, sehingga meminimalisir gangguan pihak-pihak yang tidak dikenali identitasnya. Keuntungan lainnya, interaksi akan lebih real time, asalkan ditentukan waktunya terlebih dahulu.

    Untuk diskusi yang panjang, atau konsultasi produk pasis, gunakan saja docs google, akan lebih aman.

    Demikian sekedar saran saja, agar lebih bermanfaat.

    BalasHapus

Tuliskan pertanyaan anda disini.