19 Mei 2009

Panduan Menulis Karmil Taskap Pasis Dikreg Seskoad

    Dari beberapa pengamatan selama berinteraksi dengan pasis, baik dalam forum diskusi, maupun perbincangan informal telah membawa pada satu kesimpulan bahwa sebagian besar Pasis bermasalah dalam menulis Karmil Taskap. Karmil Taskap merupakan bentuk tulisan ilmiah yang wajib dibuat oleh setiap Pasis sebagai salah satu persyaratan mutlak dalam menempuh pendidikan Seskoad. Setidaknya ada 2 masalah besar yang dialami Pasis dalam menulis Karmil Taskap, yaitu: Pertama, bagaimana menuangkan pemikiran dalam tulisan berbentuk Karmil; Kedua, bagaimana menuangkan pemikiran kedalam Karmil secara ilmiah.

    Dalam menulis karya ilmiah ada batasan-batasan yang harus diperhatikan, dan yang tidak kalah pentingnya selain itu adalah adanya tuntutan atau harapan yang harus dipenuhi. Menulis karya ilmiah tidak dapat menggunakan pedoman dan aturan yang berlaku pada diri sendiri, melainkan pedoman dan aturan yang berlaku secara konvensional pada kelompok tertentu (Gillett, 2003). Gillett juga mengatakan bahwa tujuan penulisan karya ilmiah adalah untuk menyampaikan gagasan penulis dengan caranya sendiri yang disusun dengan memperhatikan pemikiran atau pendapat penulis lain melalui rujukan. Namun demikian bukan berarti penulis hanya menulis ulang pendapat penulis lain, melainkan juga harus memperlihatkan pemikiran / pendapat pribadi penulis yang bersangkutan.

    Menulis Karmil ilmiah yang baik sebenarnya tidak cukup hanya dengan menyajikan kumpulan data hasil penelitian penulis, baik dalam bentuk narasi, tabel, diagram maupun grafik beserta penjelasannya melainkan juga harus dapat menjadi wahana untuk menjelaskan berbagai situasi, kejadian dan hasil karya manusia (dalam lingkungan militer, tetapi tidak menutup kemungkinan juga keluar lingkungan militer). Tulisan dalam Karmil ilmiah akan lebih bermakna dan bermanfaat ketika dapat menyajikan temuan isu-isu teoritis, konseptual dan metodologis yang baru ataupun menemukan suatu domain masalah baru bagi isu-isu teoritis, konseptual dan metodologi yang lama. Untuk mendukung hal ini diperlukan kreatifitas penulis, karena melalui kreatifitas ilmu pengetahuan (militer khususnya) berkembang. Selain itu, menyampaikan gagasan secara runut, sistematis, logis, dengan rumusan kalimat yang jelas, mudah dibaca dan dipahami, sesuai dengan kaidah bahasa yang berlaku tetapi juga luwes dan nikmat dibaca sangatlah penting (Yunita T. Winarto, Totok Suhardiyanto & Ezra M. Choesin, 2004)

    Berkaitan dengan penulisan Karmil Taskap, ada beberapa substansi yang perlu dipahami sehingga Pasis dapat membuat Karmil yang memenuhi kaidah-kaidah penulisan ilmiah yang dapat dipertanggung jawabkan secara akademis sehingga Pasis legitimate sebagai lulusan Seskoad. Apa yang diuraikan berikut ini bukan untuk membuat Pasis ahli dalam menulis, namun lebih kepada membantu Pasis dalam membuat Karmil Taskap dan bagaimana menuangkannya sesuai kaidah penulisan ilmiah sehingga pembahasan dalam tulisan ini tidak dilakukan secara mendalam. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam silahkan Pasis membaca literatur yang berkaitan, banyak membaca karya tulis ilmiah dan biasakan berpikir secara ilmiah.

Fungsi variabel dalam judul.

    Untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang pengertian, hakikat, macam, hubungan antar variabel dalam judul, silahkan Pasis membacanya dalam literatur-literatur yang ada. Pemahaman ini sangat perlu, mengingat variabel merupakan faktor kunci dalam memahami judul dan menentukan masalah yang akan dibahas dalam tulisan. Secara sederhana, ada 2 fungsi variabel dalam setiap judul Karmil, yaitu: Pertama, sebagai pengantar. Variabel tetap/makro, variabel pendukung/kontrol berfungsi untuk mengantarkan kepada variabel bebas/mikro yang akan menjadi pokok bahasan dalam tulisan; Kedua, sebagai koridor dan acuan.  Pada pembahasan variabel bebas/mikro, maka variabel pendukung/kontrol dan variabel makro/tetap berfungsi sebagai koridor dan acuan dalam pembahasan (judul dengan 3 variabel), demikian halnya judul dengan 2 variabel.

    Misalkan judul Karmil adalah: Optimalisasi kepemimpinan Dansat jajaran Kopassus dalam melaksanakan pembinaan satuan guna menghadapi tantangan tugas masa depan. Judul ini memiliki 3 variabel, yaitu: kepemimpinan Dansat jajaran Kopassus sebagai variabel mikro (yang akan menjadi pokok bahasan), pembinaan satuan sebagai variabel pendukung dan tantangan tugas masa depan sebagai variabel makro. Untuk mengantar kapada pokok bahasan, berawal dari variabel makro, yaitu: tantangan tugas masa depan. Dari variabel ini, apa fenomena yang penulis bayangkan berlaku. Berikan penjelasan dan argumen yang memadai untuk meyakinkan pembaca bahwa ada benarnya fenomena itu akan terjadi. Dalam memberikan penjelasan dan argumen ini, gunakan landasan pemikiran yang tepat. Mengingat tantangan tugas masa depan cenderung bersifat tidak tetap maka penulis harus dapat menentukan sebuah suatu batasan bersifat tetap agar variabel ini berlaku sebagai variabel tetap. Selanjutnya kita lihat variabel pendukung, yaitu: pembinaan latihan. Pada hakikatnya variabel ini digunakan untuk melengkapi, memperdalam dan memperluas pembahasan hubungan variabel mikro yang bersifat bebas dengan variabel makro yang bersifat tetap. Sesuai dengan fungsi pertama suatu variabel, maka variabel pendukung ini adalah untuk lebih mengerucutkan kepemimpinan seperti apa yang akan dibahas dalam variabel mikro . Variabel terakhir adalah variabel mikro, yaitu: kepemimpinan Dansat jajaran Kopassus. Variabel mikro inilah yang menjadi tolok ukur atau indikator keberhasilan variabel makro. Variabel mikro inilah yang mengandung masalah dan persoalan yang menjadi pokok bahasan tulisan.

Menentukan pokok persoalan.

    Persoalan diturunkan dari masalah yang ada pada variabel mikro. Sama halnya dengan proses penentuan masalah seperti digambarkan di atas, maka untuk menentukan pokok persoalan yang akan dipecahkan penulis harus mengawalinya dari fakta-fakta yang berlaku. Apa saja fakta-fakta yang berlaku berkenaan dengan kepemimpinan Dansat di jajaran Kopassus yang berkorelasi pengaruh terhadap pembinaan satuan yang berujung pada tantangan tugas masa depan. Menentukan sebuah pokok persoalan perlu didukung dengan beberapa fakta (himpunan fakta). Gunakan landasan pemikiran yang tepat untuk menjelaskan fakta-fakta yang berlaku dan menjelaskan mengapa terjadi.

Catatan :

  • Hal yang sering terjadi pada proses penurunan masalah menjadi pokok persoalan dimuat dalam bab kondisi awal, yaitu: penentuan persoalan seperti tiba-tiba, tidak berawal dari fakta-fakta/fenomena yang berlaku. Ingat bahwa apa yang ada dibenak penulis belum ada dibenak pembaca, agar ada dibenak pembaca maka penulis harus memindahkan apa yang ada dibenaknya kepada benak pembaca. Proses pemindahan ini merupakan hal yang krusial dalam setiap tulisan, karena tulisan merupakan sarana utama untuk mendukung proses tersebut. Mengapa harus diawali dengan fakta ?, karena fakta adalah suatu kenyataan yang tidak dapat dibantah yang memperlihatkan suatu kondisi negatif yang merangsang pikiran bekerja (awal berpikir kritis). Mengapa fakta harus dijelaskan ?, karena salah satu fungsi pengetahuan adalah untuk menjelaskan suatu fenomena dan mengapa fenomena itu terjadi. Mengapa harus dijelaskan demikian ?, karena Pasis sedang membuat tulisan ilmiah yang harus dapat diterima akal (logis) dan dapat dibuktikan secara empiris. Penulis harus dapat membuat pembaca yang tidak tahu menjadi tahu, yang ragu menjadi yakin, yang tidak percaya menjadi percaya, dsb. Untuk melakukan hal ini penulis dapat melakukannya dengan menjelaskan dengan pendekatan ilmiah yang tepat, mengutip pendapat ahli yang kompeten dibidangnya, memperbandingkan, memberikan contoh, dsb.

  • Frans Asisi Datang dalam artikelnya yang dimuat dalam buku: Karya Tulis Ilmiah Sosial (Yayasan Obor Indonesia, 2004), mengatakan bahwa terdapat 3 syarat penyusunan paragraf karya ilmiah, yaitu: Kesatuan paragraf, kepaduan paragraf dan pengembangan paragraf. Kesatuan paragraf, dalam penulisan karya ilmiah yang baik, paragraf hanya memiliki satu gagasan pokok yang termuat dalam kalimat topik dan dilengkapi dengan kalimat (-kalimat) penjelas untuk memperjelas isi dan pengertian kalimat topik. Banyaknya kalimat penjelas ditentukan oleh kesadaran penulis. Kepaduan paragraf, hubungan antara kalimat topik dengan kalimat penjelas dalam sebuah paragraf harus ditata dengan baik sehingga menghasilkan paragraf yang benar-benar padu. Ada dua sarana pokok yang biasa digunakan untuk membangun hubungan antar kalimat ini, yaitu: repetisi (pengulangan) dan konjungsi (misal: sejak, walau demikian, sebaliknya, dalam medan semacam itu, dsb). Selain pengulangan dan penggunaan konjungsi, hubungan antarkalimat dan antargagasan dalam satu paragraf dapat diperkuat atau dijadikan lebih padu dengan menggunakan kata tunjuk (seperti: ini, itu, tersebut, demikian). Pengembangan paragraf, gagasan pokok dalam paragraf diperjelas atau ditunjang oleh gagasan-gagasan bawahan yang dimuat dalam kalimat (-kalimat) penjelas yang ditata dan disusun menurut satu model atau pola tertentu. Model pengembangan gagasan pokok antara lain: Deskripsi, Contoh, Definisi luas (definisi yang disertai penjelasan tambahan), Analisis atau uraian, Klasifikasi, Perbandingan dan pertentangan, Sebab akibat, Proses.

    Jawaban dari mengapa fakta/fenomena yang terjadi itulah yang dinamakan pokok persoalan (penyebab terjadinya). Bagaimana menjawab pokok persoalan atau bagaimana menghilangkan penyebab terjadinya fakta/fenomena negatif inilah yang dibahas secara terinci dalam tulisan ( gagasan penulis dalam menyikapi fenomena/kondisi negatif). Beberapa waktu yang lalu penulis menjadi dosen pendamping dalam diskusi materi PKB Kejuangan. Ketika tiba pada sesi merumuskan pokok-pokok persoalan, ada Pasis yang menyampaikan bahwa variabel-variabel dalam judul itulah yang menjadi pokok persoalan dalam tulisan. Suatu kekeliruan mendasar yang seharusnya tidak terjadi pada tingkatan Pasis Seskoad.

    Pada diskusi PKB Kejuangan tahun ini, judul yang diberikan (given) adalah: Aktualisasi semangat perjuangan bangsa guna memantapkan Kepemimpinan TNI dalam rangka menjaga keutuhan NKRI (Tema: Dengan dilandasi semangat perjuangan bangsa, kita mantapkan jatidiri dan Kepemimpinan TNI dalam rangka menjaga keutuhan NKRI). Judul ini memang cukup berat, karena: Pertama, penulis harus dapat menarik hubungan pengaruh yang logis antara kepemimpinan TNI dengan keutuhan NKRI. Pembaca harus dapat diyakinkan bahwa kepemimpinan TNI berpengaruh terhadap keutuhan NKRI. Pemahaman keutuhan NKRI juga harus dijelaskan secara holistik (menyeluruh), apakah keutuhan NKRI hanya semata keutuhan wilayah saja, ataukah juga ada faktor lainnya seperti hukum, mata uang, dsb. Hal ini menjadi menarik ketika fenomena provinsi NAD yang memberlakukan hukum Islam sebagai hukum utama. Demikian juga dengan fenomena yang terjadi di wilayah perbatasan Indonesia dengan Malaysia ketika penduduk lebih memilih menggunakan mata uang Ringgit dalam bertransaksi. Dan tentunya lepasnya Timor Timur serta Pulau Sipadan-Ligitan merupakan fenomena / fakta yang sangat pantas diangkat dalam tulisan. Sesuai dengan tema dan judul yang diberikan, penulis harus dapat menjelaskan dan membuktikan adanya pengaruh kepemimpinan TNI terhadap terjadinya hal tersebut. Apabila korelasi pengaruh ini tidak dapat dijelaskan dan dibuktikan dalam tulisan, maka apa yang dibahas dalam tulisan tidak masuk akal (tidak logis). Kedua, demikian halnya antara semangat perjuangan bangsa dengan kepemimpinan TNI, apakah benar bahwa semangat perjuangan bangsa berpengaruh terhadap kepemimpinan TNI. Setelah korelasi pengaruh antara variabel dalam judul tersebut dapat disajikan secara ilmiah argumentatif, barulah penurunan pokok-pokok persoalan dalam masalah yang tergambar pada variabel mikro dapat dilakukan. Dalam diskusi, Pasis menawarkan substansi variabel semangat perjuangan bangsa yang akan dibahas meliputi: rasa senasib dan sepenanggungan; semangat persatuan dan kesatuan nasional; semangat rela berkorban jiwa dan raga; dan semangat pantang menyerah (diambil dari Doktrin Kartika Eka Paksi). Substansi yang ditawarkan ini hendaknya juga dijelaskan secara argumentatif dalam koridor pemikiran ilmiah, sehingga pembaca memiliki persepsi yang sama dengan penulis.

    Misalkan kita ambil substansi keempat, tentang semangat pantang menyerah. Salah satu unsur yang membangun semangat ini adalah rasa percaya kekuatan sendiri (dalam penulisan perlu dijelaskan secara akademis apakah benar rasa percaya kekuatan sendiri ini merupakan unsur yang membangun semangat pantang menyerah). Selanjutnya kita perlu mendapatkan fakta-fakta yang menunjukkan bahwa rasa percaya kekuatan sendiri ini tidak aktual saat ini. Contoh: Fakta 1, PT. Pindad sudah mampu membuat Panser APS-2 6x6 dan telah diserahkan sebanyak 20 unit kepada Departemen Pertahanan sebagai awal dari 154 unit yang dipesan untuk TNI AD (sumber: cantumkan); Fakta 2: Panser buatan PT. Pindad tersebut (sekalipun masih menggunakan mesin Renault buatan Perancis) memiliki cukup banyak keunggulan, diantaranya mampu dipacu 90 kilometer per jam, melompati parit selebar satu meter dan rintangan tebing setinggi 60 sentimeter. Selain itu kalau ban atau roda panser kena tembak masih bisa melaju sejauh 60 kilometer sejak ditembak. Sedangkan kekebalan bodi bisa menahan berondongan peluru M-16 atau AK-47 dari jarak dekat. Panser yang mampu mengangkut 15 prajurit infanteri itu juga cukup nyaman, karena memiliki suspensi independen, serta dilengkapi pendingin udara. Keandalan itu masih ditambah dengan sistem komunikasi antigangguan, perangkat navigasi elektronik dan sistem penginderaan malam hari (sumber: Harian Joglosemar, Ed. 28-2-2009); Fakta 3: Menurut Direktur PT. Pindad, pembiayaan pembuatan 154 panser APS-2 6x6 itu seluruhnya menggunakan APBN, dan untuk modal kerja awal PT Pindad ditalangi terlebih dulu oleh BNI 46, Bank Mandiri, dan Bank BRI; Fakta 4: Pembiayaan Alutsista TNI masih mengandalkan Kredit Ekspor. Minimnya anggaran pertahanan memaksa pengadaan persenjataan harus melibatkan berbagai pihak, baik yang berfungsi sebagai perantara maupun yang menjadi penjamin bagi kredit ekspor. Fakta 5, 6 7 : Dst.

    Fakta-fakta yang ingin ditampilkan disini adalah bahwa negara kita sebenarnya sudah mampu membuat peralatan militer namun mengapa kita lebih memilih membelinya dari luar negeri menggunakan fasilitas Kredit Ekspor. Apakah Kredit Ekspor itu ?, Mengapa Kredit Ekspor sepertinya menjadi satu satunya jalan untuk pengadaan peralatan militer. Mengapa tidak dicoba menggunakan pembiayaan bersumber perbankan nasional seperti yang dilakukan di PT. Pindad. Apakah penyebab sesungguhnya ?. Dengan diketahui penyebabnya maka pokok persoalan tentang rasa percaya diri dapat ditemukan. Dengan mengetahui akar penyebab, maka akan lebih mudah untuk menentukan cara/metode pemecahan persoalan tersebut. Pembahasan persoalan ini harus selalu dihadapkan pada variabel kepemimpinan TNI dan variabel keutuhan NKRI. Apabila tidak terlihat korelasi pengaruh yang logis antara ketiga variabel, maka persoalan yang diangkat dalam varibel mikro harus dianulir karena tidak relevan dengan judul tulisan.

    Hal lain yang perlu Pasis perhatikan dalam membuat makalah PKB Juang sesuai dengan tema dan judul yang diberikan, adalah memahami pengertian dan hakikat aktualisasi. Di dalam kamus Bahasa Indonesia, pengertian aktual adalah: sesungguhnya; betul-betul ada; betul-betul terjadi; berita hangat, sedang dalam pembicaraan. Dalam kamus Bahasa Inggris: real, real and existing as a fact (nyata dan ada sesuai kenyataan). Pengertian aktualisasi adalah membuat menjadi aktual. Dalam judul yang akan menjadi pokok bahasan adalah " Aktualisasi semangat perjuangan bangsa" . Pengertian yang tersirat melalui judul adalah: semangat perjuangan bangsa saat ini tidak aktual, sehingga perlu diaktualkan. Misalkan kita ambil satu unsur yang membentuk semangat perjuangan bangsa, yakni: semangat pantang menyerah dan lebih spesifik lagi percaya kekuatan sendiri. Apakah percaya kepada kekuatan sendiri ini sudah tidak ada sama sekali ditengah bangsa Indonesia ?, percaya kepada kekuatan sendiri sesungguhnya masih ada pada sebagian kecil bangsa Indonesia, namun tidak pada sebagian besar bangsa Indonesia. Aktualisasi disini adalah bagaimana agar percaya kepada kekuatan diri sendiri ini berlaku secara nyata ditengah bangsa Indonesia, bukan hanya pada segelintir orang saja. Semangat percaya kepada kekuatan sendiri harus dinyatakan ditengah bangsa Indonesia apapun strata sosial mereka. Ketika pemerintah memutuskan bantuan IMF, itu adalah perwujudan percaya kepada kekuatan sendiri (apakah motif yang mendorong sikap tersebut), demikian juga ketika anggota DPR yang terhormat merestui pembelian peralatan militer menggunakan fasilitas kredit ekspor yang sebenarnya mampu ditangani perbankan nasional, itu adalah perwujudan tidak percaya kepada kekuatan sendiri (apakah motif dibalik itu). Dalam tulisan, hal ini harus ditinjau secara akademis, bukan semata pemikiran pribadi penulis (hanya pemikiran yang terlintas dibenak penulis).

Membuat bab pendahuluan.

    Dalam pasal umum penentuan berapa poin yang akan dimuat, tergantung dari berapa jumlah variabel dalam judul. Misalkan pada judul " Optimalisasi kepemimpinan Dansat jajaran Kopassus dalam melaksanakan pembinaan satuan guna menghadapi tantangan tugas masa depan ", terdapat 3 variabel dalam judul. Pada pasal umum poin a, deskripsikan seperti apa tantangan tugas masa depan tersebut (gagasan pokok paragraf), Kembangkan gagasan pokok tersebut dengan gagasan pendukung. Dalam pengembangan gagasan pokok masukkan unsur-unsur yang mampu menarik perhatian pembaca (fakta-fakta, pernyataan kontroversial atau pernyataan yang mengagetkan dari tokoh yang terkenal, dsb). Pengembangan gagasan pokok berakhir pada gagasan pokok yang akan diangkat pada poin b, yaitu pembinaan satuan. Deskripsikan seperti pada poin a, berakhir pada gagasan pokok yang akan diangkat dalam poin c. Pengembangan gagasan pokok pada poin c sebaiknya dapat menggambarkan secara garis besar apa yang akan dibahas pada tulisan, mengingat poin c mengandung permasalahan yang akan dibahas dalam tulisan. Pada poin d lebih bersifat keinginan pribadi penulis atas tulisan kepada pembaca, bisa menyampaikan pentingnya tulisan, manfaat tulisan, harapan penulis, dsb.

    Dalam membuat maksud dan tujuan masih banyak Pasis yang mengambang menuangkannya. Contoh, maksud: memberikan gambaran tentang optimalisasi kepemimpinan Dansat jajaran Kopassus dalam melaksanakan pembinaan satuan guna menghadapi tantangan tugas masa depan. Apakah sebenarnya niat awal penulis dalam membuat tulisan, itulah yang dituliskan sebagai maksud. Apakah niat awal penulis seperti itu ?, tentunya tidak. Ababila melihat judul, bisa saja penulis bermaksud untuk menggambarkan fenomena tantangan tugas masa depan yang berpengaruh terhadap pembinaan satuan dan bagaimana menyikapinya melalui kepemimpinan Dansat. Atau bisa juga yang lain. Hal ini sangat tergantung pada apa sebenarnya motif yang menggerakkan penulis dalam menulis sesuai judul tersebut. Tentang tujuan, biasanya Pasis membuat tujuan sbb: Sebagai bahan masukan bagi pimpinan dalam merumuskan kebijakan pembinaan satuan berkenaan dangan tantangan tugas dimasa depan. Tujuan pada hakikatnya adalah apa yang diinginkan penulis melalui tulisan sesuai dengan sifat tulisan itu sendiri. Selain itu perlu juga diperhatikan apakah ada penugasan yang diberikan kepada penulis yang berkaitan dengan tulisan. Dalam hal ini bisa juga tujuannya untuk melaporkan kepada pemberi tugas, disamping keinginan penulis sendiri dengan tulisan tersebut ( tujuan tidak harus satu).

    Tentang metode dan pendekatan. Metode adalah cara maupun teknik yang digunakan penulis dalam membuat tulisan. Pendekatan adalah sudut pandang yang digunakan oleh penulis dalam melakukan pembahasan, pemilihan pendekatan biasanya disesuaikan dengan bidang yang dikuasai oleh penulis. Penulis harus konsisten dalam menggunakan pendekatan yang dipilih ketika membahas tulisan. Pendekatan juga berfungsi untuk menyamakan sudut pandang antara penulis dan pembaca. Pembaca akan mengalami kesulitan dalam memahami isi tulisan dan bahkan bisa mengakibatkan salah pengertian apabila tidak menggunakan pendekatan seperti yang digunakan penulis.

    Tentang ruang lingkup, tata urut, pengertian-pengertian tidak terlalu urgen untuk dibahas disini. Biasanya Pasis tidak mengalami kesulitan berarti dalam membuatnya.

Membuat bab latar belakang pemikiran.

    Pembuatan bab ini memang agak membingungkan. Ada versi yang memuat: umum, landasan pemikiran (landasan idiil, landasan filosofis, landasan historis, landasan operasional) dan dasar pemikiran. Ada juga versi yang memuat: umum, paradigma nasional (sebagai landasan untuk mendukung pemecahan masalah, seperti: landasan idiil, konstitusional, operasional, teori, dsb) dan dasar pemikiran. Keadaan ini kemungkinan diakibatkan tuntutan untuk memasukkan instrumental input sebagaimana yang selalu ada dalam susunan pola pikir.

    Apabila kita cermati, hampir pada semua penulisan Karmil landasan pemikiran, dasar pemikiran dibahas pada bab latar belakang pemikiran sedangkan pada bab lain, khususnya pada bab III ketika menguraikan masalah menjadi persoalan maupun bab-bab selanjutnya tidak digunakan sebagai landasan dalam pembahasan. Sehingga terkesan pembuatan bab latar belakang pemikiran merupakan bab berdiri sendiri dan untuk mempertebal tulisan.

( bersambung)

7 komentar:

  1. Tertulis di awal artikel ini bahwa "Setidaknya ada 2 masalah besar yang dialami Pasis dalam menulis Karmil Taskap, yaitu: Pertama, bagaimana menuangkan pemikiran dalam tulisan berbentuk Karmil; Kedua, bagaimana menuangkan pemikiran kedalam Karmil secara ilmiah".

    Berdasarkan pengalaman saya menjadi pasis, ada satu masalah besar lagi yang dihadapi oleh pasis, yaitu Bagaimana menemukan kesamaan persepsi dengan pembimbing dalam menganalisa judul yang diberikan. :)

    BalasHapus
  2. Ruang ini untuk belajar bersama, mudah-mudahan ada pembimbing yang nimbrung sehingga bisa nambah wawasan.

    BalasHapus
  3. Agung Gde Dharma11 Juni 2009 00.17

    Terima kasih atas tersedianya ruangan Seskoad 2 Seskoad sbg sarana belajar bersama..., dalam penulisan Taskap Dikreg XLVII saya msh mengalami kendala bgm tata cara menulis dgn judul 3 variabel. Judul Taskap saya : "Optimalisasi Binsat dalam Menyikapi Perubahan Lingkngan guna mendukung Tupok Satuan", khususnya variabel ke-2, yaitu "menyikapi perubahan lingkungan". Sedangkan Ruling yang akan sy bahas dibatasi pd persoalan Yonzikon, yg jd pertanyaan saya adalah apakah perlu membahas "perubahan lingkungan" yg ada dlm judul tersebut? Kemudian formatnya bagaimana? Mohon masukan dan bimbingan dosen. Terima kasih.

    BalasHapus
  4. Variabel 2 merupakan variabel penyerta, berfungsi untuk mengantar dari var 3 ke var 1 dan menjadi koridor mempertajam, memperkaya bahasan var 1 yang menjadi pokok bahasan.
    Idealnya berawal dari var 3, apa fakta/fenomena yang mendorong penulis membuat judul ini. Masuk ke var 2 harus dijelaskan apa yang dimaksud, apa korelasi hubungan/pengaruh dengan var 3. Var 2 dan 3 memang tidak dijelaskan dalam bab tersendiri. Ketika berfungsi sebagai pengantar ke pokok bahasan (var 1) maka uraiannya ada pada Bab Pendahuluan pasal umum a (deskripsi var 3), b (deskripsi var 2), c (deskripsi var 3 dan masalah), d (penting,manfaat, harapan penulis). Namun ketika melakukan pembahasan var 1 pada bab 3,5 dan 6, var 2 dan 3 adalah koridor pembahasan. Var 2 sendiri untuk mempertajam tulisan.

    BalasHapus
  5. Mhn ijin copy tulisannya. Terimakasih

    BalasHapus

Tuliskan pertanyaan anda disini.